Sabtu, 23 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Ludruk dan Alat Elektronik

Oleh: Noer Hamima*

Minggu, 07 Jan 2018 17:03 | editor : Abdul Basri

Ludruk dan Alat Elektronik

PERBINCANGAN saya dengan teman-teman malam Rabu kemarin mengenai kesenian ludruk membuat saya teringat pada cerita ibu sewaktu saya masih kelas dua madrasah aliyah. Saat itu ibu bercerita seraya bernostalgia.

Gara-gara ketahuan menonton ludruk di kampung sebelah, ibu saya mendapat hukuman dari guru mengajinya; berdiri dengan satu kaki sambil membaca istighfar sejak selesai salat berjamaah Magrib sampai pukul setengah delapan. Tidak hanya itu. Sebelum pulang ke rumah, ibu diwajibkan meminum air yang diambil dari kamar mandi sebanyak satu botol air mineral berukuran sedang.

Hukuman itu membuatnya jera. ”Sejak saat itu ibu tidak lagi menonton pertunjukan apa pun,” ungkapnya pada saya. Karena, kata ibu, yang dihukum oleh guru mengajinya bukan hanya yang menonton ludruk saja. Tapi juga yang menonton pertunjukan apa pun yang bersifat hiburan semata.

Pada saat itu saya berpikir bahwa guru di zaman ibu dulu cenderung fanatik dan cenderung mendoktrin bahwa orang yang baik dan benar tidak boleh keluar malam dan tidak boleh berbaur dengan lain jenis. Itu jika alasan guru ibu tidak membolehkan santri-santrinya menonton ludruk karena takut berbaur dengan selain jenisnya.

Saya sempat mengecam perilaku guru yang demikian. Sempat bersyukur pula akan keadaan saat ini yang sudah tidak lagi demikian. Akan tetapi, perkataan guru akhlak saya tiba-tiba mengubah pandangan salah saya. ”Untuk mencetak santri-santri yang berakhlakul karimah, seharusnya guru mampu bersikap tegas dan keras dalam membentengi santri-santrinya dari penguruh buruk budaya yang ada di luar santri dan kesantrian,” begitu kata beliau.

Untuk masa sekarang ini yang dimaksudkan dengan budaya buruk, bukan hanya keluar malam dan berbaur dengan selain jenis, tapi banyak ragam, dan saat ini benar-benar tidak lagi bisa dielakkan. Kemudian saya sadar, hukuman berat yang diberikan guru mengaji dulu merupakan upaya tegas dalam membentengi santrinya dari pengaruh buruk sebuah budaya. Alhasil, santri-santri sezaman ibu dulu, dapat dikatakan selamat dari pengaruh buruk yang coba diselundupkan oleh sebuah budaya.

Saya tidak mengatakan guru ibu dulu menganggap ludruk merupakan bagian dari budaya yang buruk. Tidak. Hanya, situasi yang melingkupi pertunjukan tersebut cenderung buruk dan sangat berdampak negatif pada perilaku santri, seperti begadang hanya untuk hal-hal yang kurang ada manfaatnya.

Kendati larangan dan hukuman guru ibu dulu pernah dianggap lebay oleh saya, namun saya menganggap itu merupakan sikap yang patut dicontoh dan dilestarikan oleh guru-guru saat ini. Sebab terbukti, sikap tegas yang demikian mampu mencetak santri yang bermoral. Tidak ada santri zaman dahulu yang berani berdekatan dengan selain jenis, berpakaian transparan serta berperilaku tidak sopan.

Kenyataannya, sikap guru-guru saat ini patut sekali disayangkan. Ketika  pengaruh budaya luar sudah lebih berbahaya daripada sekadar ludruk, orkestra, dan lainnya, sikap guru-guru sudah tidak setegas guru-guru dulu. Bahkan, mereka cenderung acuh tak acuh dan terkesan membiarkan.

Ketika barang elektronik; gadget, TV, computer, dan lain sebagainya sangat jelas memberikan pengaruh negatif pada santri dan dunia pesantrian, guru-guru malah membiarkan budaya tersebut memasuki dunia santri dengan sebebas-bebasnya. Bahkan, tidak sedikit guru sendirilah yang menjadi jembatan akan masuknya budaya buruk tersebut. 

*)Mahasiswi Instika Guluk-Guluk jurusan tasawuf dan psikoterapi.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia