Minggu, 24 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Tragedi Berdarah di Desa Bilis-Bilis Diduga Lantaran Asmara

Sabtu, 13 Jan 2018 19:20 | editor : Abdul Basri

DIRAWAT INTENSIF: Salah satu korban perkelahian mendapatkan perawatan intensif dari tim medis Kamis (11/1).

DIRAWAT INTENSIF: Salah satu korban perkelahian mendapatkan perawatan intensif dari tim medis Kamis (11/1). (POLRES FOR Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Kekerasan masih menjadi cara untuk menyelesaikan masalah. Di Desa Bilis-Bilis, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, terjadi tragedi berdarah yang melibatkan lima orang. Satu di antaranya tewas dengan luka parah di sekujur tubuhnya.

Tragedi berdarah itu terjadi pada Kamis (11/1) sekitar pukul 13.30. Wahyudi, 30, warga Desa Duko melawan Mat Saini, 35, Ainur Rahman, 27, dan Andi, 24. Ketiganya warga Desa Sumbernangka, kecamatan setempat. Akibat kejadian itu, Mat Saini tewas setelah mendapat perawatan medis di puskesmas.

            Sementara Wahyudi dan Ainur Rahman masih menjalani perawatan intensif. Sedangkan Andi yang diduga terlibat masih dalam pengejaran. Sebab, setelah kejadian dia melairkan diri. Belum diketahui pasti penyebab perkelahian tersebut. Namun, dugaan sementara dilatarbelakangi masalah asmara.

            Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM), perkelahian itu bermula saat Wahyudi dikejar oleh Mat Saini, Ainur Rahman, dan Andi. Ketiga orang tersebut tidak terima lantaran salah satu di antara mereka dituduh mengganggu istri Wahyudi. Setibanya di jalan Desa Bilis-Bilis terjadi cekcok mulut.

            Beberapa saat kemudian keempat orang tersebut saling bacok. Tiga orang mengalami luka parah dan kritis. Yakni, Wahyudi, Ainur Rahman, dan Mat Saini. Sementara, Andi melarikan diri. Mohammad Saleh yang berusaha melerai juga terluka. Karena kondisinya tidak begitu parah, dia hanya menjalani rawat jalan.

Wahyudi mengalami luka di pergelangan tangan dan kepala. Perut bawah kanan juga robek. Bahkan, isi perut terburai. Leher samping dan belakang serta daun telinga juga terluka. Sedangkan Ainur Rahman mengalami luka di dada. Kedalaman luka diperkirakan sampai ke otot.

Sementara Mat Saini mengalami luka di dada. Sebagian lemak bawah kulit dikabarkan keluar. Kemudian,  pergelangan tangan kiri nyaris putus. Pelipis kanan tepat di samping alis mata kanan juga luka parah. Bahkan, tulang tengkoraknya pecah akibat sajam. Kemarin dia dinyatakan tewas.

Sebelumnya, mereka sering terlibat pertengkaran. Pada 2008 Wahyudi dibacok oleh Ainur Rahman dan Mat Saini. Dua tahun kemudian, yakni 2010 Wahyudi membalas dengan membacok Ainur Rahman. Sementara Andi diduga diajak oleh Mat Saini dan Ainur Rahman untuk mengejar Wahyudi.

            Kapolres Sumenep AKBP Fadillah Zulkarnain melalui Kasubbaghumas AKP Abd. Mukid membenarkan kejadian berdarah tersebut. Menurut dia, korban masih kritis. Mereka mengalami luka serius di bagian tubuhnya. ”Kemungkinan mereka cukup lama saling bacok dan tidak segera dilerai,” katanya.

            Dia menyatakan, Andi masih dalam pengejaran. Dia diduga terlibat dalam tragedi yang menggegerkan warga setempat tersebut. ”Kami akan mengembangkan kasus ini. Untuk sementara perkelahian dilatarbelakangi oleh asmara. Namun kita masih mendalami kasus tersebut,” ucapnya.

            Setelah kejadian, Korps Bhayangkara langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pihaknya menyita sejumlah barang bukti dari TKP. Antara lain, dua pasang sandal jepit diduga milik mereka. Serta pakaian milik Wahyudi, Mat Saini, dan Ainur Rahman. 

(mr/fat/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia