Sabtu, 26 May 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Membaca ”Esto” Masyarakat Madura

OLEH: ABDUL WARITS*

Minggu, 21 Jan 2018 04:34 | editor : Abdul Basri

Membaca ”Esto” Masyarakat Madura

KATA esto sudah lama saya dengar ketika salah satu teman seperjuangan berujar seperti ini, ”Dhu, kare estona!” Kata ini bagi masyarakat Madura menyimpan makna yang cukup komprehensif. Memberikan definisi terhadap kata ini tentu akan membuat kita semakin menyelami dunia perasaan yang mendalam. Hanya sanubari yang bisa merasakan gejolaknya di dalam dada—yang tanpa kita sadari—segalanya berada dalam keharuan yang menggelora.

Kata esto bisa dikorelasikan dengan berbagai konteks. Definisi dari kata esto ini bisa dipakai dalam hal cinta, kasih sayang, solidaritas, soliditas, militansi, dedikasi. Lalu, pembahasan kata esto dalam cinta dan kasih sayang barangkali sudah jelas dalam benak kita bahwa ketika seseorang mempunyai perasaan esto kepada keluarga, kekasih, organisasi, lembaga, tempat kelahiran (Madura), desa, atau bahkan tanah air dan bangsa Indonesia, maka secara otomatis seseorang tersebut akan melahirkan sikap solidaritas, soliditas, integritas, militansi, dan dedikasi, atau bahkan merasa senasib dan seperjuangan.

Segala hal menyatu dalam satu kata yang kaya dengan aneka ragam tafsir pada masing-masing perspektif seseorang yaitu esto. Satu kata yang kemudian menimbulkan berbagai multitafsir tersendiri di dalamnya.

Salah satu sampel yang bisa kita ambil adalah sikap gotong royong masyarakat Madura dalam bertetangga yang sangat erat hingga kini. Walaupun, sejatinya, kita tidak akan bisa memungkiri bahwa zaman ini telah memasuki wilayah hidup sendiri-sendiri dalam segala aspeknya. Yang lebih miris lagi, ketika sebagian pemuda teracuni virus teknologi dan gadget sehingga alpa terhadap lingkungan, budaya, lebih-lebih masyarakat awam pada khususnya yang butuh kepada bimbingan, arahan, ajakan, pergerakan, ke arah yang bernilai dan lebih bersahaja.

Masyarakat Madura ketika akan membangun rumah tetangganya atau bahkan berbagai kebutuhan lain seperti acara perkawinan, molang are, gabay, selamatan, dan lain sebagainya, pasti akan selalu membantu dengan sepenuh hati. Hal ini terjadi karena perasaan esto telah tertanam subur dalam kehidupan sehari-harinya. Kehidupan yang dipenuhi dengan nilai-nilai puisi yang dideklamasikan sedalam perasaan hingga sesuai dengan tuntunan agama dan negeri ini. Tidak salah kiranya jika salah satu lagu berujar seperti ini, ”Mon ikhlassa nolonge tatangga, lakar ta’ mennang ka reng Madura.”

Sikap kedua yang ditunjukkan masyarakat Madura adalah solidaritas. Misalnya, ketika masyarakat Madura berada di daerah orang lain (Malang, Jogjakarta, Surabaya, Jakarta, dan di kota besar lainnya), pasti masyarakat Madura merasa mempunyai rasa senasib dan seperjuangan yang kemudian membentuk sikap integritas dan soliditas. Jangan heran jika masyarakat Madura yang berada di daerah lain (merantau, bekerja, melanjutkan pendidikan) sangat disegani dalam hal apa saja. Betapa kuatnya ukhuwah islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), apalagi ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan) masyarakat Madura. Kita tentu perlu bangga dan bahagia.

Pada perkembangannya, kata esto kini sudah mulai jarang dipraktikkan oleh masyarakat Madura. Ada berbagai kasus pertengkaran sesama sahabat, keluarga, karena perebutan harta, takhta, dan wanita. Masyarakat Madura dengan segala caranya menggunakan jurus ampuh dalam meraih ketiga cobaan ini (harta, takhta, dan wanita), terutama harta dan takhta. Sehingga, cara-cara yang tidak halal pun mereka lakukan atau bahkan menghilangkan identitas budaya juga ditempuhnya demi menggapai bahagia.

Contoh kecilnya tanah sangkolan yang kini mulai banyak jatuh ke tangan investor asing. Sebagai masyarakat Madura, tentu kita harus waspada terhadap aroma kapitalisme pada diri masyarakat Madura. Kapitalisme hanya akan bisa dibendung dengan cara pengetahuan seorang intelektual yang esto kepada Madura untuk menggarap berbagai kekayaan yang ada tanpa harus diserahkan kepada pihak lain. Secara esensi, konklusinya, kata esto ini menyimpan makna loyalitas tanpa batas dalam hal apa saja. 

*Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Instika sekaligus menjadi Penasihat Komunitas Penyisir Sastra Iksabad (PERSI) di PP Annuqayah daerah Lubangsa.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia