Senin, 25 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Features

Siswa MAN 2 Pamekasan Mengenang Sosok Guru Budi

Rabu, 07 Feb 2018 13:44 | editor : Abdul Basri

PEDULI: OSIS MAN 2 Pamekasan menggalang dana sebagai bentuk kepedulian terhadap meninggalnya Achmad Budi Cahyanto, Selasa (6/2).

PEDULI: OSIS MAN 2 Pamekasan menggalang dana sebagai bentuk kepedulian terhadap meninggalnya Achmad Budi Cahyanto, Selasa (6/2). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Aksi simpati meninggalnya Achmad Budi Cahyanto terus mengalir. Siswa MAN 2 Pamekasan juga ambil bagian. Mereka berharap kasus murid menganiaya guru tidak terulang.

Ratusan santri berpakaian putih abu-abu berkumpul di MAN 2 Pamekasan, Selasa (6/2). Sesekali, senyum merekah tersungging di balik kerudung siswi. Gelak tawa mewarnai bincang santai dengan nuansa edukasi itu.

Dari kejauhan, terlihat puluhan santri menenteng kardus bertulis ”MAN 2 Pamekasan untuk Bapak Achmad Budi Cahyanto.” Satu per satu ruang kelas dimasuki. Kalimat inna lillahi wa inna ilaihi rajiun menjadi pembuka penyampaian maksud dan tujuan penggalangan dana itu.

Uang pecahan Rp 5 ribu hingga uang koin silih berganti masuk ke dalam kardus tersebut. Para pelajar itu antusias saat pengurus OSIS memberitahukan bahwa penggalangan dana itu sebagai bentuk simpati terhadap insiden yang menimpa guru kesenian SMAN 1 Torjun, Sampang.

Tidak sedikit santriwati meneteskan air mata saat pengurus OSIS menceritakan sekilas insiden yang menimpa guru seni itu. Dewan guru serta karyawan sekolah tersebut juga ikut menyisihkan uang untuk disumbangkan.

Ketua OSIS MAN 2 Pamekasan Firmansyah Riskiyanto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk simpati atas insiden yang menimpa Budi. Menurut dia, kejadian itu sangat memukul dan diharapkan tidak terulang kembali.

Sebab, guru wajib dihormati. Jasa-jasanya mencerdaskan anak bangsa tidak ternilai harganya. ”Guru adalah pahwalan tanpa jasa. Kita sebagai santri wajib menghormati guru,” katanya.

Sebagai bentuk simpati atas insiden tersebut, OSIS memelopori sejumlah kegiatan yang dikhususkan kepada guru Budi. Yakni, melaksanakan salat Gaib dan penggalangan dana yang akan diberikan kepada keluarga almarhum. OSIS masih membuka pintu bagi siswa, guru, dan karyawan yang ingin menyumbang.

Pelajar berbadan tinggi itu menyampaikan, uang yang terkumpul bakal diberikan kepada keluarga. Guru dan perwakilan OSIS akan menyambangi keluarga guru Budi di Kota Bahari. Firmansyah sadar nominal yang akan diberikan tidak terlalu tinggi. Tetapi, paling tidak, aksi tersebut memberikan semangat bagi keluarga almarhum bahwa masih banyak yang simpati.

Kegiatan tersebut juga bermaksud memberikan edukasi dan peringatan kepada seluruh santri bahwa guru wajib dihormati. Tidak boleh ada penganiayaan lagi oleh murid kepada gurunya.

Kepala MAN 2 Pamekasan No’man Efendi mengatakan, penganiayaan yang mengakibatkan kematian guru Budi sangat memukul dunia pendidikan. Apalagi, terjadi di Madura yang terkenal dengan sikap budi pekerti. Kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak. Terutama pemerintah.

Menurut dia, harus ada terobosan terhadap guru dalam menjalankan amanahnya. Salah satunya, pemberian sanksi kepada murid yang dinilai melakukan pelanggaran. Guru takut memberikan sanksi kepada murid. Sebab, banyak contoh kasus guru yang dipolisikan lantaran memberi sanksi itu. ”Harus ada perlindungan nyata kepada guru,” katanya.

Dia berharap, insiden yang menjadi perbicangan luas itu menjadi pertama dan terakhir. Tidak terulang kembali di dunia pendidikan. ”Kami sangat miris dengan insiden ini,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia