Senin, 25 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Peran Media di Era Digital, Ikut Menangkal Berita Hoaks

Jumat, 09 Feb 2018 11:26 | editor : Abdul Basri

VISIONER: Ketua PWI Pamekasan berfoto di depan kantor PWI Pamekasan Kamis (8/2).

VISIONER: Ketua PWI Pamekasan berfoto di depan kantor PWI Pamekasan Kamis (8/2). (AZIZ FOR Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Jumat (9/2) adalah Hari Pers Nasional (HPN). Di era digital tantangan insan pers semakin beragam. Salah satunya memerangi berita hoaks.

Berita hoaks saat ini sudah merajalela. Pemilik handphone android menjadi sasaran. Jika tidak selektif, mereka bisa menjadi korban. Karena itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan Abd. Aziz mengajak agar insan pers ikut menangkal berita palsu tersebut.

”Berita-berita itu bisa mengancam persatuan dan menyesatkan masyarakat,” katanya Kamis (8/2).

Selain itu, saat ini banyak perusahaan media yang tidak resmi. Media partisan yang sengaja dibuat untuk kepentingan politik juga bermunculan. Hal itu juga menjadi persoalan yang harus ditangani. Tugas insan pers memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa membedakan media resmi ataupun tidak.

Pihaknya juga berharap ada peran aktif aparat untuk ikut menertibkan media yang tidak berbadan hukum. Terutama, yang isinya cenderung provokatif. Masyarakat disarankan tidak percaya atas berita yang ditulis di media yang tidak jelas. Pembaca harus jeli apakah sudah memenuhi unsur kaidah jurnalistik atau tidak.

Insan pers harus meningkatkan profesionalismenya. Realitas di lapangan, masih ada yang belum bisa menulis berita. Namun, sudah berani membagikan ke beberapa media sosial. Ironisnya, berita itu tidak ada diedit sehingga alur beritanya kacau. ”Berita seperti itu bisa membuat pembaca sesat,” terangnya.  

Menurut Aziz, karya jurnalistik harus benar-benar mengacu pada semua kaidah jurnalistik. Jika tidak, besar kemungkinan akan menjadi berita hoaks. ”Insan pers harus ikut andil dalam menekan maraknya berita hoaks. Jangan justru ikut menyebar berita hoaks,” terangnya.

Pada prinspinya, lanjut Aziz, pers saat ini bukan sekadar menjadi kontrol sosial, sebagaimana dalam UU/40/1999. Akan tetapi, juga harus menjadi motivator dalam mengawal pembangunan. ”Karena itu, harus didukung oleh profesionalisme dan kompetensi insan pers sendiri,”terangnya.

Guna meningkatkan kompetensinya, imbuh Aziz, wartawan harus mengikuti pelatihan resmi kewartawanan. Seperti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang sudah sering digelar. ”Dengan mengikuti UKW, maka bisa diketahui apakah yang bersangkutan sudah berkompeten atau tidak,” pungkasnya.

Kemampuan sumber daya manusia (SDM) insan pers juga harus diperhatikan. Komitmen baik, tanpa SDM yang memadai, hasilnya juga tidak akan optimal. Di sinilah pentingnya peningkatan SDM. ”Teman-teman wartawan di Pamekasan kami dorong untuk ikut UKW sebagai upaya peningkatan SDM” tambahnya.

Wartawan juga perlu meningkatkan kemampuannya melalui pendidikan. Di Pemekasan saat ini sudah ada lima wartawan yang menyelesaikan pendidikan strata 2 (S-2). Empat orang lainnya sedang menempuh S-2. ”Ini tentu upaya untuk meningkatkan profesionelisme di kalangan insan pers,” terangnya

             Plt Sekkab Pamekasan Mohamad Alwi menjelaskan, keberadaan pers sangat mendukung terhadap pembangunan. Pemerintah dan pers tidak bisa dipisahkan. Sebab, keduanya saling membutuhkan. ”Pemerintah butuh pers untuk memberikan informasi pembangunan kepada masyarakat,” katanya.

Pria asal Sumenep itu menjelaskan, peran media dalam memajukan pembangunan pemerintah sangat besar. Dengan pers masyarakat bisa memberikan masukan terkait kebijakan yang dibuat pemerintah. ”Kami butuh pers untuk pertanggungjawaban kewenangan kita kepada masyarakat,” terang dia.

(mr/sin/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia