Sabtu, 23 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Tuan Guru Bajang Gelar Dialog Kebangsaan Bersama Lora

Selasa, 13 Feb 2018 00:17 | editor : Abdul Basri

ERAT: Pengasuh LPI Al Hamidy Banyuanyar Muhammad Rofii Baidhowi (kiri) dan Pengasuh PP Darul Ulum RKH Mohammad Syamsul Arifin (kanan) bersama Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi.

ERAT: Pengasuh LPI Al Hamidy Banyuanyar Muhammad Rofii Baidhowi (kiri) dan Pengasuh PP Darul Ulum RKH Mohammad Syamsul Arifin (kanan) bersama Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi. (MOH. ALI MUHSIN/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Kedatangan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi disambut hangat sejumlah ulama di LPI Al Hamidy Banyuanyar, Pamekasan, Senin (12/2). Gubernur NTB itu menggelar dialog khusus dengan para lora atau kiai.

Lantunan salawat menggema di ruang tamu LPI Al Hamidy Banyuanyar. Salawat dengan suara merdu itu dilantunkan saat Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi tiba di pondok pesantren (ponpes) yang berlokasi di Desa Potoan Daya, Kecamatan Palengaan, tersebut.

Sejumlah kiai menyambut kedatangan gubernur yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) itu. Kemudian, dia dipersilakan memasuki ruang tamu di lantai dua. Dia ruangan itu sejumlah kiai dan lora atau putra kiai berkumpul.

SANTAI: Gunernur NTB Muhammad Zainul Majdi saat diwawancarai di PP Al Hamidy Banyuanyar didampingi anggota DPRD Pamekasan Ismail, S.H.I. (belakang).

SANTAI: Gunernur NTB Muhammad Zainul Majdi saat diwawancarai di PP Al Hamidy Banyuanyar didampingi anggota DPRD Pamekasan Ismail, S.H.I. (belakang). (MOH. ALI MUHSIN/Radar Madura/JawaPos.com)

Kunjungan TGB disambut oleh Pengasuh LPI Al-Hamidy RKH Muhammad Rofii Baidhowi, Pengasuh Ponpes Darul Ulum Banyuanyar RKH M. Syamsul Arifin, dan Dewan A’wan Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata RKH M. Tohir Abd. Hamid.

Selain itu, disambut oleh KH M. Asnawi dan sejumlah kiai keluarga besar Banyuanyar serta sejumlah habaib. Di antara lora yang hadir yaitu Lora Hasbullah, S.A., Lora Istbat Abdul Qodir, Lora Kholil Shobri, dan Lora Hannan Tibyan.

Hadir juga Lora Ahmad Qusyairi, Lora Abdullah Syarqowi, Lora Minnatullah, dan 50 lora se-Kabupaten Pamekasan. Silaturahmi TGB dengan sejumlah kiai dan lora berlangsung khidmat.

Pada kesempatan tersebut, TGB menggelar dialog kebangsaan dengan para kiai dan lora. Sejumlah lora pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Di antara mereka banyak yang bertanya berkenaan dengan pemerintahan di NTB, ekonomi, dan pendidikan.

”Alhamdulillah hari ini kita ditakdir oleh Allah bertemu langsung dengan Bapak Zainul Majdi dalam rangka silaturahmi dengan kiai muda dengan para habaib di tempat yang sangat sederhana ini,” kata Pengasuh LPI Al-Hamidy RKH Muhammad Rofii Baidhowi saat menyampaikan sambutan.

 Kiai Rofii Baidhowi menilai TGB merupakan gubernur yang bisa dikatakan sukses. Di sela-sela kesibukan menjadi gubernur, dia masih menyempatkan dan tidak meninggalkan tradisi kepesantrenan. Seperti mengadakan muhadarah ammah, daurah ilmiyah, dan kegiatan-kegiatan lain dengan para habaib dan ulama.

”Itu yang saya kagumi. Sebab, di sela kesibukannya masih menyempaatkan diri berdakwah. Kami kagum beliau juga ahli tafsir, ahli hadis, dan ilmu keagamaannya kuat,” terangnya.

Mohammad Abbas Rofi’e Katandur selaku putra pengasuh LPI Al-Hamidy Banyuanyar menjelaskan, sosok TGB menjadi teladan bagi masyarakat. Sebab, jebolan pesantren mampu menjadi gubernur yang berprestasi. Terlebih yang bersangkutan masih tetap menanamkan nilai-nilai kepesantrenan.

”Harapan kami tetap berjuang dengan segala macam cara untuk izzul Islam dan menjadi pemersatu umat Nabi Muhammad. Semoga silaturahmi ini diridai Allah dan bermanfaat dunia akhirat,” ucapnya.

Sementara TGB saat diwawancarai menjelaskan, kedatangannya ke Madura untuk bersilaturahmi dengan para ulama dan kiai di Pulau Garam. Khususnya, silatarhami dalam bingkai islamiyah, wathoniyah, dan ilmiyah. ”Saya bersilaturahmi dengan para kiai dan ulama karena saya adalah anak pesantren. Dengan silaturahmi ini, umat semakin kokoh,” terangnya.

Sebagai kompenen umat, menurut dia, juga penting mengokohkan NKRI dengan cara memberikan pemahaman keagamaan kepada umat yang lebih kuat. Juga menumbuhkan semangat mencintai ilmu. ”Bangsa yang kuat adalah jika masyarakatnya memiliki ilmu yang kuat dan kokoh,” tandasnya.

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia