Sabtu, 23 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Ternyata Salim Achmad Dalang Korupsi KUT

Jumat, 16 Feb 2018 00:48 | editor : Abdul Basri

TAK BISA KABUR LAGI: Terpidana kasus korupsi KUT Salim Achmad saat tiba di kantor Kejari Sumenep ditemani sang istri Kamis (15/2) dini hari.

TAK BISA KABUR LAGI: Terpidana kasus korupsi KUT Salim Achmad saat tiba di kantor Kejari Sumenep ditemani sang istri Kamis (15/2) dini hari. (KEJARI SUMENEP FOR Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Salim Achmad akhirnya harus merasakan hidup di balik jeruji besi. Sejak kemarin (15/2) terpidana kasus korupsi kredit usaha tani (KUT) itu menjadi penghuni Rutan Kelas II-B Sumenep. Itu setelah pria berkacamata tersebut menjadi buronan kejaksaan sejak 2007.

Dia ditangkap berkat kerja sama tim intelijen Kejari Sumenep dengan tim Kejaksaan Agung (Kejagung). Salim ditangkap di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Penangkapan berdasar surat Kajari Sumenep nomor R-12/05.34/ Dsp.1/01/2018 tanggal 30 Januari 2018 tentang permohonan tindakan pencarian terhadap Salim.

Salim telah merugikan Negara sebanyak Rp 3.263.248.066. Berdasarkan putusan MA Nomor 1548 K/PID/2005 tanggal 27 September 2007, Salim dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan pidana penjara dua tahun dan denda Rp 10 juta.

Saat melakukan korupsi, Salim menjabat sebagai Sekretaris Pusat Peran serta Masyarakat (PPM) Presidium Sumenep. Terpidana tercatat tinggal di Jalan dr Soetomo, Kecamatan Kota Sumenep. Tim intelijen Kejari Sumenep langsung membawa terpidana untuk kembali ke Bumi Sumekar agar segera dieksekusi.

Tim kejari yang membawa terpidana tiba di Sumenep, Kamis (15/2) dini hari. Sampai di kantor kejari di Jalan KH Mansyur, Salim diperiksa. Setelah itu langsung dijebloskan ke rutan yang tak jauh dari kantor kejaksaan.

Setelah diselidiki oleh penyidik kejari, ternyata Salim sudah bukan warga Sumenep lagi. Saat ditangkap, Salim sudah berstatus sebagai warga Jakarta. Bahkan, kepada penyidik dia mengaku tidak pernah kembali ke Bumi Sumekar sejak kepergiannya pada 2007.

Selama ini kejari curiga Salim pernah pulang ke Sumenep. Lebih-lebih pada momen hari besar. Tapi, dugaan tersebut tidak pernah terbukti. Saat diinterogasi dia memang tidak pernah pulang.

”Kalau mau bertemu dengan keluarga, keluarganya yang pergi ke Jakarta atau bertemu di Surabaya,” ungkap Kasi Intel Kejari Sumenep Rahadian Wisnu Whardana.

Wisnu menjelaskan, pada saat penangkapan tidak ada perlawanan dari terpidana. Saat itu dia sedang sendirian. ”Saat itu dia mau terbang ke Bandung, tapi kami lebih dulu menangkapnya,” jelasnya.

Menurut Wisnu, Salim memang sulit dibuntuti. Terpidana dua tahun penjara dan denda Rp 10 juta itu terkenal lincah dan selalu pindah-pindah tempat. Bahkan, Salim juga pernah teridentifikasi berada di Singapura. ”Selalu berpindah tempat dan selalu bepergian. Bahkan, dia pernah teridentifikasi berada di Singapura,” terangnya.

Wisnu menjelaskan, Salim merupakan otak perbuatan yang merugikan negara itu. Salim bekerja sama dengan Citronadi. Saat menjalankan aksinya, Citronadi menjabat sebagai Ketua Pusat Peran serta Masyarakat (PPM). Sementara Salim menjabat sebagai sekretaris.

Namun, Citronadi sudah menjalani hukuman dan bebas. ”Secara hukum mereka bekerja sama. Tapi, kasus ini sebenarnya lebih berat kepada Salim, karena dia dalangnya,” tuturnya.

Sebelumnya, Kajari Sumenep Bambang Panca Wahyudi Hariadi mengungkapkan, penangkapan terpidana ini merupakan tindak lanjut dari kasus lama. Panca mengaku menemukan ada terpidana yang belum tereksekusi saat memeriksa data kasus lama.

Berdasarkan penemuannya, terpidana sengaja melarikan diri dari petugas. Sebab, ada surat perintah eksekusi terpidana. Tapi, belum disertai berita acara eksekusi. ”Berarti terpidana belum dieksekusi. Bisa dipastikan kalau dulu terpidana sudah dipanggil secara patuh, tapi tidak hadir dan justru melarikan diri,” jelasnya.

(mr/aji/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia