Sabtu, 23 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Features

Ngaji Budaya Literasi Madura Bersama Budayawan Ibnu Hajar

Sabtu, 17 Feb 2018 21:40 | editor : Abdul Basri

CINTA LITERASI: Seminar bedah budaya literasi yang diselenggarakan Kolom Teater Pamekasan (KTP) di area Vihara Avalokitesvara Jumat (16/2).

CINTA LITERASI: Seminar bedah budaya literasi yang diselenggarakan Kolom Teater Pamekasan (KTP) di area Vihara Avalokitesvara Jumat (16/2). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Halaman Vihara Avalokitesvara di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, ramai Jumat (16/2). Bertepatan dengan Hari Imlek Ke-2569 itu, Kolom Teater Pamekasan (KTP) menggelar kajian tentang budaya literasi.

Puluhan kendaraan bermotor berjejer rapi. Sejumlah mobil pribadi juga terparkir di halaman. Dari kejauhan, terdengar teriakan seniman membaca puisi. Dentuman jimbe juga meringsak masuk pada indra pendengaran.

Sementara di halaman wihara, warga sekitar datang silih berganti untuk menyampaikan selamat pergantian Tahun Imlek. Tempat peribadatan dengan corak merah cerah itu benar-benar guyub.

Kolom teater itu mengadakan kajian tentang budaya literasi di kalangan kaula muda. Sebab, budaya baca saat sekarang dinilai terjadi dekadensi. Tidak banyak lagi generasi bangsa yang suka membaca. Terutama, literasi yang tertuang dalam buku.

Ibnu Hajar, budayawan asal Sumenep dipercaya menjadi pendorong ghirah literasi. Budayawan yang puisinya tidak terhitung jumlahnya itu memberi motivasi dan trik kepada peserta kolom untuk meningkatkan budaya baca.

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Ibnu mengatakan, ada pergeseran budaya baca di tengah generasi muda. Jika dahulu buku adalah media utama membaca, sekarang beralih ke internet.

Diakui, akses informasi melalui internet sangat mudah didapat. Tetapi, Ibnu mengaku yakin, membaca melalui buku tetap yang terbaik. ”Bagi saya, buku akan kekal abadi selamanya,” katanya.

Dengan demikian, menjadi tugas bersama untuk meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap buku. Jika masyarakat cinta terhadap buku, diyakini akan suka membaca. Pada akhirnya, akan melahirkan produk literasi yang baik.

”Dunia literasi membangun sebuah prasasti kehidupan yang lebih baik yang akan berpengaruh pada pola kebudayaan, pola pikir, dan pola berpolitik yang indah. Ibarat gelas berkumpul, akan berdenting, tetapi tidak membuat pecah. Namun, melahirkan irama yang syahdu,” katanya.

Ibnu mengatakan, mencintai literasi bukan karya yang menjadi tujuan. Tetapi, proses melahirkan karya itu yang menjadi tujuan. Sebab, sebuah karya yang dihasilkan dari proses instan tidak akan abadi.

Ibnu berharap, generasi muda terus mencintai dunia literasi. Budaya baca harus ditingkatkan. Dengan demikian, seluruh aspek kehidupan diyakini akan membaik dan lebih baik dari sebelumnya.

Irma Kirana, salah satu peserta kolom tersebut menyampaikan, butuh keseriusan dari sejumlah pihak untuk meningkatkan budaya baca. Sebab, budaya tersebut mulai luntur di kalangan masyarakat.

Pemerintah juga harus ikut andil. Pendirian perpustakaan di tiap desa harus digalakkan. Dengan demikian, masyarakat memiliki akses untuk membaca. ”Masyarakat lebih suka gadget dibanding buku, karena aksesnya lebih mudah,” tandasnya.

(mr/pen/han/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia