Rabu, 20 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Features

Kamaluddin, Penemu Lukisan Getah Pisang Pertama di Indonesia

Minggu, 04 Mar 2018 16:19 | editor : Abdul Basri

KREATIF: Kamaluddin melukis menggunakan getah pisang.

KREATIF: Kamaluddin melukis menggunakan getah pisang. (FATHOR RAHMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Lukisan dengan satu warna terlihat di sejumlah dinding rumah. Tangan Kamaluddin seperti menari di atas kanvas. Di sampingnya tidak ada cat atau alat tulis berwarna. Kuas yang biasa digunakan untuk melukis juga tidak ada. Dia langsung menggunakan tangan dengan cairan berwarna putih kecokelatan dalam melukis.

Kamaluddin, warga Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Sampang, sedang melukis menggunakan getah pisang. ”Saya tidak menggunakan kuas seperti lukisan lain sehingga struktur lukisan terjaga,” ucapnya lalu tersenyum.

Cat aklirik, pensil, dan alat pewarna tidak dia gunakan. Lukisan Kamaluddin hanya satu warna. Namun hasilnya luar biasa mengandung nilai seni. Lukisan getah pisang dia temukan beberapa tahun lalu. Melukis dengan getah pisang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh pelukis lain.

Selama ini di Indonesia tidak pernah ada pelukis menggunakan bahan dasar getah pisang. Biaya ekonomis namun hasilnya membanggakan. Eksperimen Kamaluddin mulai dilakukan sejak 2006. Hingga kemarin dia terus menyempurnakan lukisan dengan bahan yang sama, getah pisang.

Kamaluddin termotivasi mengembangkan bakatnya dalam seni rupa. Dia teringat masa kecilnya yang sering bermain pelepah pisang. Tidak jarang getah pisang mengenai baju dan membuat kotor. Dari situlah dia mencoba melakukan percobaan melukis dengan getah pisang. ”Saya ingat waktu kecil sering terkena getah pisang. Getahnya bisa mewarnai kertas atau kain putih,” tuturnya.

Kemudian dia mencoba menuangkan getah pisang pada kain kanvas. Dia melukis dengan getah yang diambil dari pohon pisang. Motivasinya menguat setelah dia hadir ke salah satu pameran di Bali. Dia melihat ada lukisan bagus menggunakan darah sapi. Semakin kuat keyakinannya jika getah pisang tidak kalah menarik.

Kamaluddin menuangkan imajinasinya melukis jenis dekoratif. Dia terus berusaha membuat lukisan getah pisang dengan cara-cara yang dicobanya. Meskipun satu warna namun hasilnya terlihat artistik. Dia berhasil menuangkan bakatnya dengan melukis wajah sejumlah tokoh nasional. Salah satunya lukisan Gus Dur.

Sambil melukis, dia mengaku tidak hanya meyakini getah pisang bisa dijadikan media pengganti cat. Dia berusaha agar getah pisang menghasilkan warna yang lebih bagus. Dia mencoba mengendapkan getah pisang dalam waktu tertentu. Dari hasil endapan itu menghasilkan warna yang lebih pekat.

”Beda hasilnya antara getah pisang yang baru dengan yang sudah diendapkan. Warnanya lebih pekat sehingga lebih bagus dilihat ketika sudah berbentuk lukisan,” katanya.

Sudah banyak lukisan getah pisang hasil karya Kamaluddin. Rata-rata lukisan tokoh nasional. Seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang diberi judul Sang Humoris. Sedikitnya, ada 50 lukisan yang diciptakannya dengan media getah pisang. Sebagian besar lukisan tersebut dikagumi oleh pencinta lukisan ketika diikutkan pameran.

Melukis dengan getah pisang tidak semudah lukisan jenis lain. Memerlukan insting kuat. Ketika melukis, warna tidak nampak pada kain kanvas sehingga tidak bisa terlihat jelas goresan getah pisang. Namun, getah pisang terlihat berwarna saat sudah kering beberapa jam kemudian. ”Pintar-pintar melukis dengan perasaan,” ujar Kamaluddin.

Dia menceritakan, tidak hanya getah pisang yang bisa digunakan melukis. Bagian lain dari pohon pisang juga bisa digunakan. Mulai dari kulit, pelepah, buah, dan bunga. Masing-masing komponen itu menghasilkan warna berbeda.

”Sampai sekarang belum ada pelukis menggunakan getah pisang. Kata orang, saya yang pertama kali di dunia melukis dengan getah pisang,” katanya.

Sejak kecil Kamaluddin hobi melukis. Setelah lulus sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, dia memilih sekolah menengah seni rupa (SMSR). Untuk menunjang bakatnya, dia masuk jurusan seni rupa di Unesa Surabaya. Saat itulah kemampuannya ditempa.

Laki-laki kelahiran 28 September 1980 itu sudah dikaruniai dua anak. Mereka adalah Qothrun Nada Nafisa Kamal, 6,5 dan Fairus Zafran Kamal, 5. Keduanya hasil pernikahannya dengan istri tercinta Kamaluddin, Ratna Pratiwi. ”Selain melukis sendiri, saya juga mengajarkan ke siswa yang datang belajar ke sini,” ucap dia.

(mr/fat/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia