Sabtu, 23 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Features

Mengintip Pembuatan Film tentang Perempuan Madura

Selasa, 06 Mar 2018 03:15 | editor : Abdul Basri

SERIUS: Kru dan pemeran film tentang perempuan Madura ketika pengambilan gambar di sebuah gedung di Jalan Trunojoyo, Sumenep, Minggu (4/3).

SERIUS: Kru dan pemeran film tentang perempuan Madura ketika pengambilan gambar di sebuah gedung di Jalan Trunojoyo, Sumenep, Minggu (4/3). (DARUL HAKIM/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Zaman terus berubah. Dengan perkembangan teknologi, seperti tidak ada perbedaan lagi antara orang desa dengan orang kota. Tak terkecuali perempuan Madura. Itulah sekelumit yang ingin dipotret film tentang perempuan Madura.

Minggu (4/3), jarum jam menunjukkan pukul 10.45. Matahari cukup terik. Di sebuah gedung di Jalan Trunojoyo, Kota Sumenep, sekelompok pemuda berkumpul. Di gedung lantai dua itu mereka mengambil gambar untuk pembuatan film.

Film dibuat untuk menyambut Hari Film Nasional pada 30 Maret mendatang. Film itu diadaptasi dari buku Rahasia Perempuan Madura karya A. Dardiri Zubairi yang terbit 2013.

Ada empat aktor dalam film tersebut. Mereka memerankan Kiai Rahmat, Masrifa, Lika, dan Doya. Masrifa dan Lika merupakan anak Kiai Rahmat. Doya teman akrab Masrifa. Kiai Rahmat merupakan pribadi yang kolot, kaku, dan tidak menerima modernisme.

Masrifa yang merupakan kakak Lika suka membaca buku tentang gender, organisatoris, dan tomboi. Lika memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kakaknya. Dia berpenampilan laiknya santri, tetapi secara diam-diam mempelajari tipikal sang kakak.

Doya merupakan teman ngaji masa kecil Masrifah. Karena faktor ekonomi, Doya pergi ke kota mengadu nasib. Di kota, Doya menjadi perempuan penghibur.

Nur Holis, direct pembuatan film itu, mengatakan, film mengisahkan perempuan Madura yang sikap dan tutur katanya sudah tidak lagi seperti perempuan Madura yang kalem, sopan, dan natural. ”Perempuan dalam film ini perempuan Madura, tapi gaya dan tingkah lakunya sudah seperti perempuan metropolitan. Suka ke kafe, suka selfie. Gayanya impor dari luar Madura,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Abil itu menjelaskan, film yang dibuatnya memotret keresahan pencarian identitas perempuan Madura. ”Pemerannya kolaborasi antara Kaset Gapura kerja sama dengan UKM Mahasiswa Unija,” jelas lelaki yang aktif membuat film tiga tahun terakhir tersebut.

Pengambilan gambar dilakukan selama dua hari. Pertama, Sabtu (3/3) sejak siang sampai malam. Lokasi sekitar tambak di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep. Pengambilan gambar di hari kedua, Minggu (4/3) dilakukan di perempatan jalan Taman Bunga, Hutan Kota, Asta Tinggi, dan loteng rumah di Jalan Trunojoyo. Lokasi pengambilan gambar disesuaikan dengan skenario.

Perempuan Madura dalam cerita, karena bahasa, sikap, gaya hidup impor, mencerminkan kebiasaan bukan asli Madura. Budaya impor sudah memengaruhi perilaku generasi desa. ”Pikirannya seperti sudah dirasuki budaya impor merambat pada gaya, tingkah laku, dan ucapan,” urai Abil.

Di dalam cerita ada statemen, meskipun Doya perempuan penghibur di Kota Metropolitan, secara perilaku dia tetap sebagai perempuan Madura yang berbuat baik. ”Statemen itu disanggah oleh Masrifah. Ketika ditanya seperti apa perempuan Madura sebenarnya? Masrifah berkata tidak sesederhana itu perempuan Madura,” ucap Abil. 

(mr/rul/hud/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia