Jumat, 22 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Salera

Moh. Jakfar, Tokoh Muda Populer II Madura Awards 2017

Berkiprah sejak Madrasah Tsanawiyah

Rabu, 07 Mar 2018 20:55 | editor : Abdul Basri

MEMBANGGAKAN: M. Jakfar (dua dari kanan) saat menerima penghargaan pada Malam Anugerah Madura Award 2017 di Pamekasan.

MEMBANGGAKAN: M. Jakfar (dua dari kanan) saat menerima penghargaan pada Malam Anugerah Madura Award 2017 di Pamekasan. (ZAINAL ABIDIN/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Nama Moh. Jakfar tidak asing lagi di telinga masyarakat Kota Bahari. Apalagi, pada 2017 pemuda kelahiran Sampang, 7 Maret 1987 itu terpilih sebagai Tokoh Muda Populer Madura Awards prakarsa Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Putra keempat pasangan suami istri Syafii dan Marwah itu berasal dari keluarga petani. Saat usia tujuh tahun Jakfar mulai mengenyam pendidikan dasar di MI Miftahul Ulum. Madrasah itu berada di Dusun Songosong, Desa Aeng Sareh, Kecamatan Pangarengan.

Di sekolah itu dia mengenyam pendidikan pada 1999 sampai 2005. Kemudian melanjutkan ke MTs Siti Khodijah, Pangarengan. Namun, tidak lama dia melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan.

Ketika berada di pondok pesantren (ponpes) banyak kegiatan yang dia ikuti. Di antaranya, memfokuskan untuk belajar bahasa Inggris dengan menjadi anggota organisasi Banyuanyar English Center (BEC). Berkat kemampuan bahasa Inggris yang cukup mumpuni, pada 2006 Jakfar membentuk organisasi Banyuanyar English Branch (BEB).

”Di situ saya ditetapkan sebagai ketua umum (Ketum) BEB. Alhamdulillah, sampai sekarang BEB masih berjalan dan anggotanya berjumlah ratusan,” ucap Jakfar dengan senyuman bangga.

Setelah lulus MA, Jakfar ditugaskan mengajar di salah satu ponpes di Desa Bujur Tengah, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. Di lembaga tersebut dia membentuk dan menghidupkan sejumlah organisasi sekolah. Di antaranya OSIS, pencinta alam, lingkar pena, mading, pramuka, dan bimbingan belajar.

”Saya ditugaskan di sana selama setahun. Yakni 2010 sampai 2011. Alhamdulillah banyak hikmah dan pelajaran yang saya dapatkan karena selalu berinteraksi dengan siswa dan masyarakat,” katanya.

Pada 2007–2011 dia melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi swasta di Pamekasan. Mengambil jurusan sastra bahasa Inggris. Selama masa kuliah dia juga membuka layanan kursus bahasa Inggris dan pusat pengembangan bakat untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Assamawiyah di desanya.

”Sejak di duduk di bangku MTs saya memang sudah menyukai dan tertarik untuk mendalami pelajaran bahasa Inggris. Maka dari itu, kuliahnya juga mengambil jurusan bahasa Inggris,” ujarnya.

Pada 2012 Jakfar dinobatkan sebagai Ketua Karang Taruna Desa Aeng Sareh. Selama menjadi ketua karang taruna desa dia mengedepankan persatuan dan kebersamaan dalam segala bidang. Apalagi pada waktu itu pemuda Aeng Sareh tidak kompak dan terpecah belah dan sering bertengkar karena permasalahan kecil.

Karena itu, program utama yang dijalankan ialah aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan pemuda tentang pentingnya semangat persatuan kebersamaan. Agar hasilnya bisa lebih maskimal, dia juga membentuk kader pemberdayaan masyarakat dan menjalankan program pelatihan kewirausahaan untuk pemuda di desanya.

”Setiap usaha yang saya lakukan pasti ada tantangannya. Tapi, itu tidak membuat saya lelah untuk bisa mengabdikan diri dan berguna untuk masyarakat,” tuturnya.

(mr/nal/luq/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia