Selasa, 19 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Seni Rupa dan Strategi Kebudayaan (Untuk Rochim Mawardi)

Minggu, 11 Mar 2018 14:51 | editor : Abdul Basri

Seni Rupa dan Strategi Kebudayaan (Untuk Rochim Mawardi)

Oleh Umar Fauzi Ballah*

AHAD malam (25/2) menjadi peristiwa penting yang menandai perkembangan seni rupa Sampang. Sebuah galeri seni diresmikan milik seorang perupa Sampang, Chairil Alwan (CA), ketua Komunitas Perupa Sampang (KPS). Nama galeri tersebut adalah Mbah Kung Art Gallery (MKAG).

Sebuah galeri pribadi hadiah Mbah Kung untuk cucu-cucu atau putra-putri CA yang juga menuruni bakat bapaknya di bidang seni rupa, Ghina dan Ramzi. Dalam galeri itu, pengunjung akan menjumpai puluhan koleksi piala kejuaraan seni rupa yang diikuti cucu-cucu Mbah Kung.

Sehari sebelum peresmian itu, KPS menggelar pameran perdana 14–24 Februari 2018 bertajuk Garis Hati, pameran sketsa. Pameran itu dikemas dalam karya sketsa sebagai upaya KPS melakukan kerja edukatif. Pameran itu menawarkan program ”kursus” dasar melukis bagi pengunjung, yakni membuat sketsa. Pameran itu tidak lain adalah bentuk pembelajaran seni rupa yang bermula dari sketsa.

Kehadiran  MKAG menandai wacana dan strategi kebudayaan yang hendak ditawarkan perupa Sampang. Itulah pencapaian untuk meneguhkan posisi mereka di hadapan masyarakat Sampang yang konon tercatat sebagai kota ”terbelakang”. Menurut data BPS Jatim, IPM Sampang pada 2016  paling rendah dengan angka 59,09 persen. Data itu menjadi PR bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus berusaha membangun Sampang agar menjadi kota yang lebih ”maju”.

Dalam proses pembangunan dan pemberdayaan SDM yang rendah itu, perupa Sampang yang tergabung dalam KPS turut serta membangun indeks manusia dengan pengelolaan konsep kebudayaan dan strategi kebudayaan. Strategi kebudayaan menurut C. A. van Peursen bukan hanya soal penyusunan kebijakan pemerintah atau pelaku seni tentang kebudayaan. Tetapi, lebih luas dari itu. Misalnya, bagaimana peran kebudayaan tentang kesadaran akan tujuan hidup.

Dalam rangka itu, Pemkab Sampang memang memfasilitasi denyut kebudayaan di Sampang dengan dibangunnya Gedung Kesenian Sampang yang ”diresmikan” pada 2016. Konon, satu-satunya kabupaten di Madura yang memiliki gedung kesenian. Namun, kondisinya masih jauh dari standar. KPS pun ”diam-diam” membangun gedung kesenian lebih layak dari sebelumnya. Semua dilakukan swadaya!

KPS menjadi motor yang meramaikan gedung kesenian sehingga lebih berfungsi, meriah, dan hidup. Sepanjang 2017, digelar delapan kali pameran. Bahkan, 2018 KPS sudah merancang jadwal pameran setahun penuh dengan manajemen yang sudah dipersiapkan serta kemasan bentuk dan isi yang lebih tematik.

Di tengah-tengah pameran itulah gagasan-gagasan untuk membangun kebudayaan muncul. Pameran KPS adalah ajang berkumpulnya pelaku seni di Sampang. Hal menarik lain dari proses berkesenian para perupa di Sampang adalah berada dalam satu kelompok sehingga semua kerja pameran berjalan dengan semangat gotong-royong.

Dalam prosesnya, ada idealisme yang mengendap secara kolektif dalam kesunyian proses kreatif para perupa Sampang yang hendak melawan arus utama proses berpameran. Misalnya, tidak menghadirkan kurator atau meminta-minta perhatian pemerintah secara finansial. Bahkan, mungkin luput dari perhatian institusi seni resmi di bawah naungan pemerintah Jawa Timur. Kunjungan para pemerhati seni di Jawa Timur atau kolektor seni untuk terjun ke Sampang, misalnya, nyaris nihil.

Pergeseran ruang dan waktu yang memudahkan segala bentuk publikasi melalui sosial media, misalnya, tak urung menjadi alasan KPS tidak memberikan undangan khusus kepada berbagai pihak. Sebagai analogi, suku Asmat di pedalaman Papua yang masih primitif, misalnya, bisa dikenal publik luas tanpa mereka bermaksud memperkenalkan diri. Kesadaran ini tidak lain adalah upaya meruntuhkan mitos modernisme dan kembali pada keadaan diri secara natural. Semangat itulah yang tampak dari KPS.

Kota Perupa

Dengan kalender pameran hampir setahun penuh, bisa dikatakan di Sampanglah peristiwa seni rupa berlangsung semarak. Jika Sumenep dikenal kota penyair, bisa dikatakan Sampang adalah gudang para perupa. Catatan saya, setidaknya ada tiga angkatan seni rupa Sampang. Pertama, periode sebelum KPS, yakni perupa Sampang yang tergabung dalam Komunitas Akor 1990-an. Beberapa nama dari angkatan tersebut, misalnya, Agus Suparman, almarhum Daud Bey, dan yang masih muda adalah Chairil Alwan, Abd. Hamid, Satuman, KH Sholahurrabani, dan lainnya.

Menurut CA, ada ”ketegangan” angkatan tua dengan angkatan muda waktu itu. Hal itu membuat CA bersama beberapa perupa muda lain mengunjungi almarhum KH Sholahurrabani untuk membicarakan masa depan seni rupa Sampang. Pertemuan itu kemudian menjadi awal terbentuknya KPS dan Ra Shol sebagai ketuanya. Keberadaan Ra Shol memberikan banyak pelajaran tentang kebersamaan dalam berkomunitas.

KPS bisa dikatakan sebagai angkatan kedua perupa Sampang. Selain nama-nama yang disebut di atas, ada nama-nama seperti Hasan Caex, A. Junaidi, Hardy Basuki, Bambang Hariyanto, A. Junaidi, dan lainnya. Perjalanan proses kreatif mereka adalah sebuah pencarian yang kini sudah menemukan karakternya. Chairil Alwan, misalnya, dalam proses pencariannya di awal-awal berkarya melukis dengan cara realis. Kini, dia telah menemukan karakteristiknya melalui bentuk-bentuk surealis dengan objek kucing dalam berbagai lukisannya.

KPS sempat vakum empat tahun, bahkan dianggap sudah bubar pada kurun 2012 sampai dengan 2014. Namun, KPS bangkit lagi pada 2015 dengan pameran pemantik waktu itu persembahan MANSArt. Di sinilah angkatan ketiga perupa Sampang lahir dan turut membidani aktifnya kembali KPS.

Yang menarik, perupa muda ini kehadirannya menunjukkan karakteristik kekaryaan. Di antara mereka, misalnya, Hendry R. Sidik, Fajar Setya, Hafidz Hidayat, Sanusi Kacong, almarhum Budi, Kuntet, Rony Wahyudi, Fairus, dan lainnya. Di tengah generasi ini, estafet perupa Sampang sedang menumbuhkan nama-nama berbakat seperti Febrian R.P., Ghina Zhavira, Ramzi, Husnul Mourod, dan sebagainya. (*)

*)Penikmat seni dan pengelola Komunitas Stingghil.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia