Sabtu, 23 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Features

Kitab Kuno Ponpes Az Zubair Berumur Ratusan Tahun

Rabu, 14 Mar 2018 00:55 | editor : Abdul Basri

LESTARIKAN: Petugas dari Perpustakaan Nasional melaminasi kitab kuno di Pondok Pesantren Az Zubair Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Selasa (13/3).

LESTARIKAN: Petugas dari Perpustakaan Nasional melaminasi kitab kuno di Pondok Pesantren Az Zubair Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Selasa (13/3). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Kumpulan naskah kuno berada di Perpustakaan Raden Umro, Pondok Pesantren (Ponpes) Az Zubair Sumber Anyar. Naskah yang berusia ratusan tahun itu dilestarikan.

Langit cerah menaungi Ponpes Az Zubair Sumber Anyar Selasa (13/3). Ratusan santri berbincang riang. Sesekali tawa kecil menghiasi percakapan santai itu. Buku pelajaran menemani santri yang larut dalam perbincangan.

Di sebuah surau, tepatnya di bagian selatan kompleks pesantren, puluhan petugas dari Perpustakaan Nasional melaminasi ratusan kitab kuno. Kitab langka itu dipelihara agar kondisinya tetap rapi dan bisa dipelajari.

Satu per satu lembaran kitab kuno langka itu direservasi. Kertasnya dibersihkan dari asam. Bagian sampingnya diberi tisu jepang agar lebih tahan. Kitab yang sudah melewati reservasi itu bisa bertahan sampai ratusan tahun.

Habibullah, pengelola Perpusatakaan Raden Umro, Ponpes Az-Zubair Sumber Anyar, mengatakan, koleksi naskah kuno di perpustakaan sangat banyak. Jumlahnya mencapai 520 naskah.

Naskah tersebut dikumpulkan menjadi 133 kitab. Beberapa kitab langka di dunia ada di perpusatakaan tersebut. Di antaranya, kitab Bahrul Lahut. Kitab itu mempelajari tasawuf dan filsafat.

Kitab itu karya Syekh Abdullah Arif dari Aceh pada 1600–1700 Masehi. Di dunia, kitab asli tulisan tangan pengarang hanya ada dua. Yakni, berada di Aceh dan di Ponpes Sumber Anyar.

Kitab tersebut sempat diklaim warga Malaysia. Sebab, di dalam koleksi kitab warga Malaysia, terdapat nama kitab Bahrul Lahut. Tetapi, setelah diuji, tidak pernah ada bentuk fisik kitab itu di Malaysia.

Koleksi langka lainnya yakni Kamus Bahasa Arab Al Muhith. Versi asli kitab tersebut hanya ada dua di dunia. Yakni, di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, dan di Ponpes Az Zubair Sumber Anyar. Kamus itu ditulis tangan oleh Muhammad Fairuz Abadi.

Kitab langka yang lain yakni Isanguji. Kitab filsafat karangan filusuf asal Yunani Isagot Porpiere tersebut masih terawat dengan rapi. Kemudian, ada kitab Tuhfah Al Mursalah karya Burhan Burri. Kitab itu mempelajari filsafat dan tasawuf.

Habibullah menyampaikan, koleksi naskah kuno di Ponpes Az Zubair Sumber Anyar terbanyak dan terlengkap di Indonesia. Kitab-kitab yang dikoleksi mempelajari sejumlah bidang ilmu. Yakni, filsafat, fikih, tasawuf, rumus matematika, dan astronomi.

Awalnya naskah kuno itu berbentuk lontar. Mahakarya ilmu dari berbagai ahli dari penjuru dunia tersebut dibawa oleh KH Zubair pada 1515 Masehi. Pendiri Ponpes Az Zubair Sumber Anyar itu wafat sekitar 1540 Masehi.

Sekitar 1750 Masehi, naskah yang dalam lontar tersebut disalin dalam bentuk naskah. Penyalinan itu diprakarsai KH Sukriwa. Beliau adalah generasi ke-4 dari KH Zubair.

Pada 2009, kitab-kitab yang tersebar di sejumlah pesantren Bani Zubair tersebut dikumpulkan. Sedikitnya, kitab peninggalan pendiri Ponpes Az Zubair itu tersebar di 22 pesantren.

Pada 2011, Balitbang Kementerian Agama (Kemenag) meneliti kitab kuno di pesantren tersebut. Tahun berikutnya, dilakukan digitalisasi. ”Kemudian, sekarang dilakukan perawatan dengan cara konservasi dan reservasi,” katanya.

Habibullah menyatakan, pada 2014 ada jamaah tariqah sulukiyah asal Aceh meneliti kitab Bahrul Lahut. Kitab tersebut dibandingkan dengan yang ada di Aceh. Hasilnya, kitab yang ada di pesantren tersebut lebih lengkap. ”Dulu dipelajari santri, sekarang menjadi koleksi,” tutur dia.

Koordinator Reservasi dan Konservasi Kitab Kuno Perpustakaan Nasional Aris Riyadi mengatakan, ada tiga kegiatan yang dilakukan. Yakni, reservasi, konservasi, dan alih media digital.

Reservasi dilakukan dengan menghilangkan keasaman yang muncul di kertas akibat lingkungan. Kertas kemudian dilapisi tisu jepang. Langkah selanjutnya, konservasi. Yakni, perawatan fisik berupa laminasi dan jilid ulang.

Penjilidan ulang itu tidak mengubah sedikit pun bentuk kitab. Hanya dilakukan perawatan agar bisa bertahan lebih lama. ”Setelah dilakukan reservasi dan konservasi, usianya bisa sangat panjang. Bisa ratusan tahun karena secara fisik dan kimia terlindungi,” jelas dia.

Perpustakaan Nasional juga melakukan alih digital. Kitab-kitab tersebut difoto dengan teknologi canggih. Kemudian, kitab itu dikemas ulang dalam bentuk lebih menarik dan bisa diakses seluruh masyarakat Indonesia. ”Bentuknya seperti e-book,” tuturnya.

Aris menyebutkan, naskah kuno sangat banyak. Keberadaannya tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Perpustakaan Nasional berupaya melestarikan kitab warisan nenek moyang itu. Sebab, selain sebagai warisan budaya, juga sebagai identitas Indonesia.

(mr/pen/hud/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia