Selasa, 19 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Ekonomi

Harga Bawang Merah Tak Harum Lagi

Kamis, 03 Aug 2017 15:30 | editor : Mochamad Chariris

Petani bawang merah di Pacet, Mojokerto saat memanen bawang merah.

Petani bawang merah di Pacet, Mojokerto saat memanen bawang merah. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Petani bawang merah di kawasan Pacet, Kabupaten Mojokerto belakangan dirudung keresahan. Pasalnya, di tengah musim panen raya, harga komoditas bahan dapur ini tidak seperti yang diharapkan. Dalam beberapa pekan terakhir saja harga jualnya terjun hingga Rp 7 ribu-Rp 8 ribu per kilogram (kg).

’’Petani bawang rata-rata mengalami kerugian besar,’’ ujar Sunarno, salah satu petani asal Pacet, Rabu (2/8). Sudah tiga pekan ini, harga bawang merah di tingkat petani memang anjlok. ’’Harga jualnya turun hingga 100 persen,’’ sesalnya. Sebelumnya, harga jual bawang merah kualitas super masih bisa mencapai Rp 13 ribu, bahkan Rp 17 ribu per kg. Namun, perlahan turun menjadi Rp 7 ribu-Rp 8 ribu per kg. ’’Bisa-bisa harganya lebih murah lagi, sampai Rp 2 ribu-Rp 3 ribu,’’ tuturnya.

Padahal, di lahan seluas satu hektare miliknya, setidaknya biaya operasional yang dikeluarkan untuk sekali tanam menghabiskan Rp 25 juta. Perinciannya untuk pembelian bibit, pupuk, serta penyemprotan pestisida per minggu. ’’Bibit saja harganya Rp 45 ribu per kg. Belum lagi penyemprotan pestisida saat diserang hama ulat,’’ bebernya. ’’Kami harus lakukan dua kali pemupukan menggunakan campuran pupuk impor,’’ imbuh Sunarno.

Sehingga, di musim panen ini, para petani bawang merah di kawasan Pacet merasa kelimpungan akibat kerugian yang mereka alami. ’’Jangankan untung, balik modal saja kita sudah syukur,’’ tandasnya. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Pacet, Sularso menyatakan, ada banyak faktor yang mempengarugi anjloknya harga jual bawang merah. Salah satunya, musim panen raya juga terjadi di daerah penyuplai bawang merah, Kabupaten Nganjuk. ’’Tidak hanya bawang merah, daun bawang juga ikutan turun,’’ ungkapnya.

Dari sebelumnya Rp 5 ribu-Rp 6 ribu menjadi Rp 3 ribu per kg. ’’Itupun, para tengkulak jarang yang mau, karena di pasaran stoknya melimpah,’’ lanjut Sularso. Gapoktan berharap, pemerintah daerah segera memberikan solusi perihal turunnya harga jual baawang merah ini. ’’Kalau harganya terus turun, lagi-lagi petani yang dirugikan,’’ pungkasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia