Selasa, 19 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mata Lensa

Tari Bali-Majapahit, Wajah Keberagaman Indonesia

Minggu, 20 Aug 2017 21:30 | editor : Mochamad Chariris

Penari saat menghibur pengunjung di Candi Brahu Trowulan, Mojokerto.

Penari saat menghibur pengunjung di Candi Brahu Trowulan, Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Saat Kerajaan Majapahit runtuh di abad ke 15 Masehi, sebagian masyarakat Majapahit memilih hijrah ke Pulau Bali. Adat istiadat dan aktivitas masyarakat pun berbaur bersama penduduk asli Pulau Dewata terbentuk Sinkretisme itu. Peraduan berbagai perilaku masyarakat asli Bali dan Majapahit ini pun membentuk suatu kebudayaan baru.

Salah satunya dalam bentuk aktivitas berkesenian. Seperti, tari dan berbagai karya seni lainnya. Seperti yang digambarkan Bagus Yuda Waskita, koreografer asal Ubud, Bali, saat mementaskan karya tari di pelataran Candi Brahu, Trowulan beberapa waktu lalu.

Dia memandang, tarian khas Bali justru banyak terpengaruh oleh Majapahit. Dia pun mementaskan beberapa repertoar secara apik, dan kolaboratif dengan tarian Jawa. Memang, Majapahit sendiri banyak membawa pengaruh karya seni dan perilaku kebudayaan yang berkembang pesat di berbagai wilayah.

Tak hanya tari, di berbagai wilayah dapat ditemui unsur-unsur pengaruh Majapahit. Seperti, seni ukir, patung dan lain sebagainya. Namun, justru di situlah letak kekayaan, kebudayaan, dan keberagaman bangsa.

Bagus Yudha Waskita sengaja mementaskan tarian tersebut ke tanah leluhur di Trowulan, Mojokerto. Dia bermaksud ingin memberi rangsangan kepada masyarakat lokal agar lebih banyak lagi bereksplorasi. Baik di bidang tari maupun kekayaan lain untuk menemukan kembali jati diri Majapahit. ”Karena, kesenian merupakan salah satu wajah dari keberagaman bangsa Indonesia,” tuturnya.

(mj/fan/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia