Jumat, 22 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Journey
Eksotisme Petirtaan Jolotundo

Ada Sejarah, Kepercayaan, dan Alam

Jumat, 15 Sep 2017 22:30 | editor : Mochamad Chariris

Salah satu atraksi musik seniman di Candi Jolotundo, Trawas, Mojokerto.

Salah satu atraksi musik seniman di Candi Jolotundo, Trawas, Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

PETIRTAAN Jolotundo merupakan salah satu destinasi wisata di Mojokerto yang sayang jika dilewatkan. Tak sekadar menyuguhkan wisata sejarah, lokasinya yang berada di lereng Gunung Penanggungan ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Candi Jolotundo yang dibangun pada abad ke X itu merupakan bangunan berupa pemandian. Oleh sebab itu, situs tersebut juga dikenal dengan Petrirtaan Jolotundo. Candi yang menghadap ke barat itu dibangun oleh Prabu Udayana sebagai hadiah kepada Raja Airlangga di masa Kerajaan Kahuripan sekitar abad ke X.Bangunan itu dibikin dari tatanan batuan andesit.

Terdapat puluhan pancuran air yang memancarkan air. Semuanya tertampung dalam kolam yang berukuran sekitar 16 x 13 meter persegi. Tak sekadar menyimpan sejarah, Jolotundo juga memiliki banyak cerita rakyat.

Konon, sumber airnya memiliki banyak khasiat. Jika diminum, air bisa untuk menolak bala, memperlancar rezeki, bahkan membuat awet muda. Selain itu, terdapat dua kolam yang digunakan untuk mandi bagi kaum perempuan dan laki-laki. Sedangkan di dalam kolam besar terdapat ikan-ikan yang menambah nilai eksotis Petirtaan Jolotundo.

Karena itu, tak jarang wisatawan membawa air Jolotundo untuk dibawa pulang. Seperti yang dilakukan oleh Ahmad Zani, 28, salah salah wisatawan asal Puri, Mojokerto. Bapak satu anak ini, menyatakan sengaja datang ke Jolotundo untuk merasakan segarnya air dengan berendam di kolam. ’’Mandi di sini (Jolotundo) untuk membersihkan diri,’’ paparnya.

Lain halnya dengan Firmaning Agustina, 30, dia mengaku datang jauh-jauh dari Gresik hanya untuk membawa pulang air dari mata air Jolotundo. Menurutnya, air tersebut dibuat untuk kakeknya yang sedang sakit. ’’Katanya airnya bisa menyembukan penyakit,’’ paparnya.

Terlepas dari berbagai mitologi tersebut, objek wisata Petirtaan Jolotundo memang hampir tak pernah sepi oleh pengunjung. Untuk menuju lokasi, pengunjung bisa menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dengan menempuh jarak sekitar 32 kilometer dari pusat kota. Tepatnya berada di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas.

Bahkan banyak yang menyebutkan bahwa kandungan mineral air Jolotundo termasuk salah satu kualitas terbaik dari berbagai mata air di dunia. Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati panorama dan kesejukan alam di sekitarnya. Secara geografis, Petirtaan Jolotundo berada di lereng barat Gunung Penanggungan dengan ketinggian 525 mdpl.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia