Senin, 25 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Journey

Ritual Manunggaling Tirta Suci di Petirtaan Jolotundo

Senin, 02 Oct 2017 17:02 | editor : Mochamad Chariris

Pemangku adat memasukkan air suci dalam kendil dalam ruwat tirta di Petirtaan Jolotundo, Trawas, Mojokerto.

Pemangku adat memasukkan air suci dalam kendil dalam ruwat tirta di Petirtaan Jolotundo, Trawas, Mojokerto. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Demi menjaga keberlangsungan kehidupan sumber mata air, ruwatan dilakukan di Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, pekan lalu. Tradisi turun temurun ini diawali dengan menggelar ritual pengambilan air di 33 titik sumber mata air di empat penjuru Gunung Penanggungan.

Konon, masyarakat meyakini gunung dengan nama lain Pawitra adalah gunung yang harus tetap dijaga kesakralannya. Salah satunya dengan melestarikan sumber mata airnya. Hal ini diharapkan dapat menjaga keutuhan dan keseimbangan alam dan budaya. Sebab, air merupakan kebutuhan mutlak bagi umat manusia.

Ruwat sumber mata air dimulai dengan napak tilas Prabu Airlangga. Mengambil air di 33 titik sumber di sepanjang lereng gunung. Yakni, di empat penjuru, seperti lereng barat, lereng selatan, lereng timur dan lereng utara. Pasca prosesi pengambilan air selesai, masyarakat berbondong-bondong membawa tumpeng hasil bumi, jajan pasar dan sayur.

Tumpeng tersebut diarak dari gapura masuk ke Petirtaan Jolotundo hingga ke area sumber air. Setelah itu, dilanjutkan Ritual Panyuwunan atau memuji Gusti Allah untuk mendapatkan restu dan keberkahan. Kemudian dilanjutkan prosesi menyatukan 33 air atau biasa disebut Manunggaling Tirta Suci. ’’Kami ingin, sumber air ini tetap terjaga dan tidak surut. Sebab, air merupakan salah satu kebutuhan utama manusia,’’ ujar Djari, sesepuh Desa Seloliman.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia