Sabtu, 26 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Ini Tiga Pesan KH Chusaini Ilyas untuk Santri Indonesia

Minggu, 22 Oct 2017 19:00 | editor : Mochamad Chariris

Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto, KH Chusaini Ilyas.

Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto, KH Chusaini Ilyas. (Moch Chariris/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – KH Chusaini Ilyas menyatakan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sedianya dijadikan sebagai momentum untuk meneguhkan iman, Islam dan ihsan. Sebab, jika tiga hal ini dilupakan atau ditinggalkan salah satunya, Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto ini menilai sosok tersebut bukanlah seorang santri.

”Tiga hal itu harus dilakoni (dijalani). Kudu gandeng (satu kesatuan). Ya itu (disebut) santri,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Al Misbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto ini. ”Hanya menjalani Islam saja, tapi meninggalkan tiga perkara, berarti belum jadi santri,” imbuhnya.

Iman yang dimaksud adalah menjalankan rukun-rukun yang ada di dalamnya. Iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada Alquran, iman kepada Rasul (nabi), iman kepada hari akhir, serta iman kepada qada dan qadar. Sedangkan Islam, santri harus menjalankan lima rukun  dalam Islam.

Yakni, syahadat, salat, zakat, puasa dan haji. Sementara ihsan, sepenuhnya bertakwa, tawakal dan ikhlas atau memilki sifat mukhlis. Semua amal ibadahnya harus diniatkan dan diserahkan untuk dan kepada Allah semata.

Kiai Chusani menuturkan, ditetapkannya 22 Oktober sebagai peringatan HSN oleh pemerintah bersama para kiai ini, memang bertujuan untuk memperkuat santri agar tidak mudah meninggalkan tiga perkara tersebut. ”Anapun onone kenduren iku sampingan (adapun adanya selamatan itu sekadar sampingan saja),” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto di kediamannya.

Atas tiga hal ini, Kiai Chusaini berharap, para santri harus menjadi teladan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Baik melalui contoh perilaku maupun ucapan. Dengan tetap mengamalkan dan mengajarkan ajaran ahlusunnah wal jamaah (aswaja). ”Makanya, tiga perkara ini harus dijalani para santri. Dari situ, baru dia disebut sebagai santri,” tegas kiai kharismatik ini.

Pada momentum HSN ini, para santri juga diminta tidak melupakan perjuangan para syuhada, ulama dan kiai terdahulu dalam memperebutkan kemerdekaan Republik Indonesiaa (RI). Salah satunya, dengan tetap menggelorakan semangat resolusi jihad demi  meneguhkan bela negara, menjaga Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Sehingga, Indonesia senantiasa menjadi negara yang baldatun tayibatun warabbun ghafur.

Dengan demikian, lanjut Kiai Chusaini, bagi santri yang masih menempuh pendidikan di pesantren atau telah berstatus alumni, harus terus menimba ilmu. Agar santri senantiasa memiliki kualitas keilmuan yang tinggi. Baik ilmu tentang agama, informasi teknologi (IT) maupun ilmu-ilmu bersifat umum.

Dari situ, santri sedapatnya memiliki dan memegang tiga dasar utama dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, selalu menjaga kerukunan, kedua harus pintar agar tidak mudah dibodohi, dan ketiga mengedepankan kejujuran. ”Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kalau santri tidak bisa ngugemi (menjaga) tiga hal itu, berarti (tergolong) santri sing bugrek kemerdekaan (perusak kemerdekaan),” pungkas Kiai Chusaini. 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia