Senin, 25 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Biji Kopi, Buka Tabir Sejarah di Pawitra

Sabtu, 28 Oct 2017 15:54 | editor : Mochamad Chariris

Kebun kopi di kawasan hutan Trawas, Mojokerto.

Kebun kopi di kawasan hutan Trawas, Mojokerto. (Ari for Radar Mojokerto)

Mojokerto merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Pulau Jawa. Itu karena beberapa wilayahnya yang berada di kawasan pegunungan. Sehingga, tanaman kopi mampu tumbuh subur di kawasan Jatirejo, Pacet, dan Trawas.

Ketiga wilayah tersebut dijadikan lahan untuk perkebunan kopi sejak zaman penjajahan kolonial Belanda. Tak hanya itu, dari biji kopi itulah kunci kekayaan situs cagar budaya di Gunung Penanggungan terbuka.

Adalah F.L. Broekveldt, seorang kontrolling onderneming koffiecultuur di Trawas yang kali pertama menemukan situs Candi Selokelir sekitar tahun 1900. Penemuan candi tersebut kemudian menjadi pintu masuk ditemukannya situs-situs di Puncak Pawitra.

Sejarawan asal Mojokerto, Ayuhannafiq, mengungkapkan, biji kopi merupakan komoditas penting pada zaman pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu, orang Eropa yang kecanduan minum kopi mulai kesulitan mendapatkan biji kopi dari Arab.

Karena itu, Belanda berinisiatif menanam kopi di tanah jajahannya, yakni di Indonesia. Biji kopi mulai ditanam di daerah pegunungan Priangan atau Parahyangan, Jawa Barat.

Menurutnya, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan wajib tanam kopi yang dinamakan koffiecultuur. ’’Kemudian sekitar pertengahan abad ke-19, tanaman kopi dikembangkan di daerah Jawa yang dianggap cocok untuk ditanami kopi,’’ paparnya.

Di daerah Mojokerto tanaman kopi dibudidayakan di daerah distrik Jabung, khususnya di onder distrik di kawasan Trawas dan Pacet. Jenis tanaman kopi yang dikembangkan adalah varietas kopi Robusta.

Yuhan menyebutkan, alasan dipilihnya jenis kopi tersebut karena dianggap lebih tahan terhadap hama yang kerap menyerang tanaman kopi di Jawa.

Perkebunan kopi atau koffie onderneming di Mojokerto memang kalah luas dibandingkan kebun kopi di Malang atau pun Blitar. Tetapi tanaman kopi di distrik Jabung dikenal memiliki kualitas yang baik. Kopi kualitas tinggi tersebut bernilai tinggi di pasar kopi Eropa. ’’Salah satu perkebunan kopi itu ada dikembangkan di lereng Gunung Penanggungan,’’ paparnya.

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini, mamaparkan, secara khusus pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan sebuah surat keputusan yang termuat dalam Statblad atau lembar negara Nomor 263 tertanggal 14 September 1883. Surat itu dikeluarkan atas perintah Raja Willem Van Oranye.

Petikan surat itu diturunkan oleh Van Der Wick, sekretaris jendral Departemen Tanah Jajahan atau Departement van Kolonien. Dalam surat itu ditetapkan perluasan tanaman kopi pada tanah negara/erfpacht. Perluasan dimaksud dilakukan di distrik Jabung di daerah Pacet, Claket dan Trawas.

Kemudian, lanjut Yuhan, saat meluaskan lahan kebun kopi, para pembuka hutan menemukan sebuah candi yang tertutup pepohonan. Penemuan itu kemudian dilaporkan pada meneer Broekveldt selaku kontroling perkebunan Trawas.

Dia melihat bahwa bangunan itu memiliki keunikan karena terdapat relief pada dindingnya. Setelah dicermati, relief tersebut menggambarkan tentang cerita Panji. ’’Candi itu kemudian diberi nama Selokelir,’’ ulasnya.

Penemuan Candi Selokelir itu terjadi pada tahun 1900. Hasil pencatatan Broekveldt lalu diterbitkan dalam jurnal tahun 1904. Tulisan dengan ’’Ontdekking van Selokelir; Mededeeling Aan Het Bataviaasch Genootschap’’ In Notulen van de Bataviaasch Genootschap (NBG): Bijlage III: XXIII-XXVII.

Setelah itu, karir Broekveldt terus menanjak dan pernah ditunjuk menjadi asisten residen Malang tahun 1914-1918. ’’Setelah penemuan itu kemudian bermunculan situs peninggalan masa lalu,’’ terang Yuhan. Para peneliti asing pun berdatangan untuk meneliti keberadaan candi-candi yang bertebaran di puncak Gunung Penanggungan.

Pada akhirnya diketahui bahwa gunung yang juga disebut Gunung Pawitra itu ternyata memiliki kekayaan masa lalu yang berharga. Kekayaan yang sekian ratus tahun tertutup kabut gunung dan terlindungi rimbunnya hutan di Penanggungan.

Yuhan merincikan, secara umum situs di sekitar Penanggungan dapat diklasifikasikan menjadi dua menurut keberadaan lokasinya. Yang pertama ada di kaki gunung seperti Petirtaan Candi Jolotundo. Kedua adalah di lereng tinggi. ’’Penemuan situs di ketinggian itu mulai terbuka saat menanam kopi di sana (Gunung Penanggungan),’’ tandasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia