Senin, 25 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Ekonomi

Kanaikan Harga Cabai Rawit Paling Pedas di Pasaran

Kamis, 28 Dec 2017 18:42 | editor : Mochamad Chariris

Pedagang cabai rawit memilah dan memilih kualitas cabai untuk diperjualbelikan.

Pedagang cabai rawit memilah dan memilih kualitas cabai untuk diperjualbelikan. (Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Optimalisasi pengendalian harga sembako selama libur Natal dan menjelang tahun baru (Nataru) di Mojokerto belum berdampak signifikan. Harga sebagian kebutuhan pangan di beberapa jenis komoditi ini seolah tak terbendung.

Beras, telur ayam, cabai rawit dan bawang merah adalah yang paling terasa. Bahkan, kenaikan harganya serasa memukul perekonomian masyarakat sebagai konsumen utama. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mojokerto mencatat, fenomena kenaikan harga sembako terpantau di empat pasar tradisional kabupaten. Meliputi Pasar Kedungmaling (Sooko), Pasar Mojosari, Pasar Gempolkrep (Gedeg) dan Pasar Pohjejer (Gondang).

Beras bengawan super saat ini dijual antara Rp 11.400 – Rp 12 ribu dari sebelumnya Rp 11. 600 per kg. Beras IR 64 medium semula dijual Rp 9.400 sekarang naik menjadi Rp 9.500 – Rp 9.600 per kg. Untuk daging ayam broiler, pedagang menetapkan harga Rp 32 ribu hingga Rp 33 ribu dari sebelumnya Rp 31 ribu per kg. ”Harga-harga tersebut hasil pantauan kami di lapangan pada 27 Desember kemarin,” kata Kepala Disperindag Kabupaten Mojokerto, Bambang Purwanto, Kamis (28/12).

Di sisi lain, pedagang juga menjual telur ayam antara Rp 24 ribu – Rp 25 ribu dari pekan sebelumnya dijual di kisaran Rp 23 ribu per kg. ”Yang kelihatan kenaikan harga cukup signifikan di sini adalah bawang merah. Sekarang ada yang sudah menjual Rp 22 ribu dari sebelumnya Rp 17.500 per kg,” tandasnya.

Tak berhenti di situ, harga cabai rawit sebelumnya rata-rata Rp 41.750, saat ini telah menembus Rp 42 ribu bahkan Rp 45 ribu per kg. ”Tapi, untuk kebutuhan lain cenderung normal. Salah satunya elpiji ukuran tiga kg (melon) dan gula pasir,” imbuh Bambang.

Di hampir empat pasar tradisional di bawah naungan Pemkab Mojokerto, elpiji melon di tingkat pengecer dibanderol Rp 17 ribu. Sedangkan, untuk gula pasir dijual antara Rp 11 ribu hingga Rp 11.500 per kg. Kabid Bina Usaha Perdagangan, Disperindag Kabupaten Mojokerto, Trio Froni menambahkan, kendati ada beberapa kebutuhan pangan mengalami kenaikan selama Nataru, secara umum roda perekonomian, kebutuhan sembako relatif masih bisa dikendalikan.

Sebab, kenaikan tersebut, lanjut Trio, masih dalam batas kewajaran. Menyusul, meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Natal dan menghadapi pengujung tahun 2017. ”Karenanya, kami akan terus memantau kenaikan harga-harga di pasaran ini secara rutin. Jika terjadi lonjakan berarti dapat segera disikapi. Dengan menelusuri penyebabnya,” paparnya. 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia