Senin, 25 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Sri Isnaeni, Konselor Rehabilitasi BNN Lido (1)

Dua Anaknya Jadi Korban Narkoba, Ikut Merasakan Sakau

Kamis, 11 Jan 2018 20:20 | editor : Mochamad Chariris

Sri Isnaeni menunjukkan foto mendiang dua buah hatinya akibat menjadi pecandu narkoba.

Sri Isnaeni menunjukkan foto mendiang dua buah hatinya akibat menjadi pecandu narkoba. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Mempunyai sosok buah hati yang disayangi terjerumus menjadi pecandu narkoba tentu bukan sebuah harapan. Namun, kesabaran untuk terus mengasihi hingga mampu lepas dari jerat narkoba adalah pilihan tepat. Itulah kehidupan yang pernah dialami Sri Isnaeni Handayani. 

Tahun 2008 bisa dibilang menjadi titik awal kehidupan kelam dialami ibu tiga anak ini. Bagaimana tidak, di tengah usaha kateringnya tengah meroket, dia justru diguncang dengan kondisi dua buah hatinya yang tak berdaya lagi akibat jeratan narkoba.

Dunia glamor Jakarta seolah telah menjerumuskan kakak-beradik, Doni Devani Sondakh dan Edo Sondakh, ke lembah hitam narkoba. Sebutan addict drugs atau pecandu berat narkoba sudah tidak bisa dilepaskan dari keduanya yang telah mengalami ketergantungan zat terlarang itu sejak tahun 2000.

Ya, Sri Isnaeni Handayani atau akrab disapa Ninik ini memang memiliki pengalaman pahit soal perjalanan hidupnya yang naik turun. Nenek lima cucu yang kini tinggal di Lingkungan Suronatan, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, itu sempat hidup berkecukupan saat tinggal di Jakarta, sejak tahun 1975 sampai 2016 lalu.

Menguasai pusat katering di wanawisata Pantai Ancol, Jakarta Utara, Ninik mampu menyekolahkan tiga buah hatinya hingga jenjang perkuliahan. Bahkan, saat ketiga anaknya sudah bekerja pun, Ninik masih bisa menikmati hidup sebagai single parent yang bahagia.

’’Kalau dibilang kaya juga nggak. Karena ukuran kaya di Jakarta nggak bisa dibandingkan dengan di Mojokerto. Meskipun saya cerai dengan suami sejak tahun 1990, cuman usaha saya mengirimkan makanan ke sejumlah kantin di sepanjang Pantai Ancol sudah sangat cukup,’’ terangnya.

Namun, cerita tersebut kini tinggal impian. Kehidupannya turun drastis ketika Doni anak keduanya beberapa kali mengalami sakau akibat terlalu banyak mengonsumsi putau di tahun 2008 silam. Dan, di saat bersamaan pula, Edo anak ketiga ternyata mengalami nasib yang sama, yakni tertangkap polisi tengah pesta putau di Surabaya. Situasi tersebut yang kemudian membuatnya melupakan usaha katering yang telah dirintis beberapa tahun silam.

Dia pun memilih mendampingi sang buah hati mulai dari kasus hukum di kepolisian, pengadilan hingga berakhir di pusat rehabilitasi milik BNN di Lido, Bogor, Jawa Barat. ’’Kalau Doni memang saat itu sudah sangat parah. Mungkin karena kesalahan saya terlalu sering meninggalkan mereka untuk menekuni usaha. Waktu itu saya nggak tahu kalau obat yang mereka konsumsi itu narkoba jenis putau.

Saya baru tahu pas lihat kamar mereka ternyata banyak darah. Pergaulan di Jakarta, terutama di pesisir Priuk atau pantai utara sangat kejam. Di sana itu seperti pasarnya narkoba di Indonesia,’’ ungkapnya.

Ninik mengakui, keputusannya mendampingi sang buah hati bisa dibilang cukup telat. Sebab, kondisi Doni saat itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Hampir setiap hari putra keduanya itu mengalami sakau berat. Hingga akhirnya pada tahun 2010, Doni meninggal dunia karena over dosis (OD).

Mengetahui kondisi seperti itu, Ninik pun mencoba menyelamatkan Edo atau anak terakhirnya agar tidak mengalami nasib serupa dengan kakaknya. Dia pun berinisiatif membawa Edo ke pusat rehabilitasi BNN paling mutakhir di Lido, Bogor, Jawa Barat. Di sinilah, dia baru sadar bahwa peran orang tua dalam proses penyembuhan sangat vital.

Sebab, sakit yang dirasakan para pecandu berat narkoba tidak bisa dibayangkan seberapa perihnya. Bahkan, dia menyebut sakau seperti orang gila yang mengamuk dan menerjang sekitarnya. ’’Makanya, banyak orang tidak sanggup mendampingi proses penyembuhan karena orang di sekelilingnya pasti juga ikut sakau,’’ tambah wanita yang kini telah berusia 66 tahun itu. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia