Senin, 25 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Lima Kecamatan Diserang DBD, Lima Warga Dirawat Intensif

Jumat, 26 Jan 2018 18:00 | editor : Mochamad Chariris

Petugas Dinkes Kabupaten Mojokerto melakukan fogging di Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong.

Petugas Dinkes Kabupaten Mojokerto melakukan fogging di Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong.

MOJOKERTO – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih masih mengancam di Kabupaten Mojokerto. Berdasarkan data dinas kesehatan (dinkes) sepanjang dua pekan terkakhir Januari ini, sudah ada delapan pasien yang dirawat akibat gigitan nyamuk yakni aedes aegypti pembawa virus dengue.

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin, mengatakan, munculnya kasus DBD di awal tahun ini berkaitan dengan masih turunnya hujan yang mengguyur di sejumlah wilayah. Sehingga, memicu timbulnya genangan air yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. ’’Sumber penyakit DBD berkaitan dengan sanitasi dan lingkungannya,’’ ungkapnya.

Memasuki pekan ketiga Januari ini, dinkes mencatat ada delapan pasien DBD yang telah dirawat di puskesmas. Terbanyak di Kecamatan Puri dengan tiga orang. Masing-masing, di Desa Medali, Desa Kemantren, dan Desa Plososari.

Sedangkan di Kecamatan Dawarblandong dilaporkan ada dua kasus. Sementara di Kecamatan Sooko, Kutorejo, dan Jatirejo masing-masing satu kasus. ’’Semuanya sudah tertangani dan tidak ada yang meninggal dunia,’’ tegasnya.

Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada. Terlebih, musim penghujan diprediksi akan berlangsung hingga akhir Februari mendatang. Mengacu data pada periode Januari-Februari tahun 2017 lalu, dinkes menerima laporan sebanyak 84 kasus.

Kemudian mulai menurun pada periode berikutnya karena sudah memasuki pergantian ke musim kemarau. Masing-masing bulan Maret dengan 16 kasus dan April 17 kasus. Pada akhir tahun 2017, tercatat ada 177 kasus DBD.

Didik menyatakan, satu-satunya upaya pencegahan adalah melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Menurutnya, cara tersebut cukup efektif untuk memutus mata rantai perkemangbiakan nyamuk aedes aegypti.

Meski demikian, dinkes tetap menyediakan fogging atau pengasapan. Namun, upaya itu hanya digunakan jika benar-benar dibutuhkan. Karena fogging hanya memutus persebaran ketika terjadi kasus positif DBD. 

’’Fogging tetap kita sediakan. Tapi, permintaan turun dibanding tahun lalu. Sekarang yang kami intensifkan PSN dengan satu rumah satu jumantik (juru pantau jentik, Red),’’ terangnya. Tak hanya itu, upaya lainnya adalah dengan melakukan penanaman tumbuhan yang mampu mengusir nyamuk.

Di antaranya, tanaman tanaman bunga lavender, serai, akar wangi, rosemary, dan bunga zodia. Masyarakat bisa membudidayakan tanaman tersebut untuk ditanam di sekitar rumah. ’’Jadi, tidak hanya DBD, tetapi bisa menghindari penyakit lain yang disebabkan oleh nyamuk,’’ imbuhnya. Seperti malaria, chikungunya, dan filariasis atau penyakit kaki gajah.

Untuk diketahui, sepanjang 2017 lalu, tercatat sebanyak 177 warga yang terserang DBD. Hingga saat ini, belum ada pasien yang dilaporkan meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, terjadi hampir di seluruh kecamatan, kecuali Trawas dan Gedeg. Jumlah terbanyak disumbangkan dari wilayah Kecamatan Bangsal dengan 21 kasus, disusul Gondang 20 kasus, Sooko 19 kasus, dan Puri 18 kasus. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia