Sabtu, 26 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Politik

Bacawali Kota Mojokerto, Akmal Boedianto, Birokrat yang Aktivis

Senin, 29 Jan 2018 23:02 | editor : Mochamad Chariris

Akmal berbaur di warung dengan warga saat di Bojonegoro

Akmal berbaur di warung dengan warga saat di Bojonegoro (Akmal for Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Akmal Boedianto, bakal Calon Wali Kota Mojokerto dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Calon peserta pilwali dengan pengalaman di pemerintahan selama 32 tahun.

Ditemui di Posko Pemenangan Akmal Boedianto-Rambo Garudo Jalan Prajurit Kulon no 22, Akmal tengah bersantai di ruang tengah, Minggu (28/1). Pria kelahiran Jember ini baru saja mengunjungi sekolah binaan Taman Siswa.

Ia mengatakan, biasanya sejenak istirahat di posko setelah mengikuti kegiatan atau bersilaturahmi dengan warga Kota Mojokerto. Setelah wawancara, dia berencana melanjutkan kegiatan silaturahmi ke beberapa tokoh masyarakat.

Kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, ia menceritakan pengalamannya sebagai birokrat. Ia memulai karir sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Pemkab Bojonegoro tahun 1985. Praktis sudah 32 tahun dia mengabdi kepada Negara dan masyarakat. Setelah pensiun, dia masih tercatat sebagai pengajar Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bandiklat Pemprov Jatim.

Pengalaman panjang sebagai birokrat, membuatnya yakin untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota Mojokerto. Dia merasa memiliki kemampuan untuk membangun birokrasi dari pengalaman yang didapatkan. ’’Ini bentuk komitmen kepada masyarakat Kota Mojokerto. Termasuk, komitmen untuk melanjutkan dari pemerintahan yang sekarang ini,’’ ujar dia. 

Lebih lanjut, komitmen melanjutkan tongkat estafet pemerintahan itu nantinya diwujudkan dalam visi-misi. Di mana, sebagian besar visi-misi tersebut berupa kebijakan lanjutan dari yang sekarang ini ada. Dengan menekankan program pelayanan dasar plus program tambahan yang berasal dari masukan masyarakat.

’’Saya punya motivasi untuk memberikan manfaat. Menggunakan apa yang diberikan Tuhan untuk kepentingan umat,’’ terang mantan Kepala Bandiklat Jatim ini. Diusung PDIP, Akmal mengaku bersyukur. Dia mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang kemudian menjadi birokrat dipercaya untuk diusung PDIP pada Pilwali 2018. ’’Saya yang berlatar agamis digandeng partai yang berlatar belakang Nasionalis,’’ sambung dia.

Akmal menuturkan, dirinya bersama Rambo Garudo diusung satu partai secara mandiri. Ini menunjukkan komitmen yang kuat dan soliditas. ’’Itu sebagai modal yang berharga,’’ tuturnya. Kalau dipercaya memimpin Kota Mojokerto, Akmal yakin modal itu bisa mewujudkan stabilitas dalam pemerintahan. Dan, kalangan birokrasi menjadi kompak.

Mantan Pj Bupati Gresik ini, juga menceritakan, jajaran Forpimda akan diajak bekerja bersama-sama. Sehingga, Kota Mojokerto menjadi nyaman dan tentram. ’’Intinya kami akan melanjutkan program kerja Kiai Ud. Ditambah program sentuhan baru yang belum sempat diakomodir,’’ cerita dia.

Program pelayanan dasar dan program dari aspirasi masyarakat bakal ditampungnya. Seperti, pembangunan GOR, Sport Center, hingga Pasar Modern.

Dalam penyelenggaraan Pilwali 2018 ini, Akmal berharap menjadi pesta demokrasi yang berlangsung aman, tentram, dan terjalin rasa persaudaraan. Bisa mengedepankan integritas, etika, kekeluargaan, dan keguyuban. ’’Saya juga mengajak paslon untuk menjaga integritas dan etika,’’ harapnya.

Kemudian, siapa pun yang bakal menang, dirinya bakal menerima sekaligus mendukung. Bersama-sama berniat mengemban amanah. Sehingga, nantinya ketika kampanye, yang muncul adalah semangat adu program dan pendekatan. ’’Dan saya percaya calon-calon lain punya iktikad yang sama dengan saya,’’ pungkas Akmal.

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia