Senin, 25 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

R.A.A Kromodjojo Adinegoro IV, Bupati Pelestari Kepurbakalaan

Kamis, 01 Feb 2018 00:20 | editor : Mochamad Chariris

Sebagian benda cagar budaya yang tersimpan di Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan) merupakan koleksi dari Museum Modjokerto.

Sebagian benda cagar budaya yang tersimpan di Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan) merupakan koleksi dari Museum Modjokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

SELAIN bangunan candi yang banyak bertebaran di wilayah Mojokerto, ada lagi satu bangunan menarik yang dinamakan Museum Modjokerto.

Keberadaan museum tersebut tak bisa lepas dari nama Raden Adipati Arya (R.A.A) Kromodjojo Adinegoro IV. Sayangnya, bangunan itu kini hilang setelah semua koleksinya diangkut ke Pusat Informasi Majapahit (PIM) atau sebelumnya dikenal Museum Trowulan.

Kromodjojo Adinegoro adalah Bupati Mojokerto yang menjabat tahun 1894-1916. Dia memiliki kepedulian yang kuat terhadap benda-benda purbakala yang ada di daerahnya.

Benda-benda cagar budaya yang kebanyakan berupa patung batu dikumpulkan secara mandiri. Kromodjojo Adinegoro memerintahkan wedono dan asisten wedono atau camat mendata dan mengumpulkan benda bersejarah di wilayah masing-masing.

Sejarawan Ayuhanafiq, menceritakan, semua patung itu berangsur-angsur dibawa ke kantor Kabupaten Mojokerto. Setelah banyak terkumpul dan berserakan di halaman pendapa kabupaten, rupanya menimbulkan masalah karena dinilai merusak pandangan.

Untuk itu, Kromodjojo kemudian memindahkannya ke rumah pribadi yang letaknya di timur pendapa. ’’Rumah tinggal itu lalu dirombak untuk penyimpanan semua patung tersebut,’’ terangnya.

Untuk menata semua benda cagar budaya (BCB) itu ternyata membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Saking banyaknya, proses tersebut memakan waktu kurang lebih dua tahun. Pada dinding timur dalam bangunan dibuat dua surya sengkala ’’Budha iku Guhaning Samedhi’’ yang berarti tahun 1911 Masehi.

Sedangkan di sisi kiri pintu tertulis ’’Guna iku Mulaning Djanma’’ menunjuk angka 1913 Masehi. ’’Kemungkinan kedua tahun itu merupakan penanda mulai dan selesainya pembuatan Museum Modjokerto,’’ paparnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menjelaskan, saat museum diresmikan, bangunan masih tampak seperti rumah tinggal dengan atap terasnya. Namun, secara perlahan dilakukan pembenahan dengan menghilangkan teras dan membuat gapura pintu masuk yang melekat pada dinding gedung.

Pada pintu masuk ditempatkan Arca Minak Jinggo yang diangkat dari Trowulan. Kemudian pada bagian belakang yang lurus dengan pintu masuk diletakkan Arca Airlangga sedang naik Garuda Jaksa. Arca tersebut diangkat dari Candi Belahan yang berada di kaki Gunung Penanggungan.

’’Dari kedua daerah (Trowulan-Trawas) itulah yang paling banyak ditemukan benda berupa patung besar dan kecil serta prasasti yang menjadi koleksi museum,’’ cetusnya. Oleh karena koleksinya banyak menyimpan arca, maka museum itu dikenal sebagai Gedung Arca.

Yuhan mengatakan, pada saat itu kebetulan yang menjadi asisten residen di Mojokerto adalah RA. Kern. Meneer Kern juga memiliki kepedulian tinggi pada sejarah dan budaya. Kern dikenal sebagai penulis produktif yang hampir semuanya terdokumentasikan di Leiden, Belanda.

’’Ada juga seorang arsitek bernama Henry Mclaine Pont yang tinggal di Mojokerto. Pont adalah orang yang mernacang bangunan sekolah tinggi teknik di Bandung atau yang sekarang menjadi ITB,’’ terangnya.

Ketiga orang itu kemudian berkolaborasi untuk mengkaji sisa peninggalan Majapahit. Pont dari sisi arsitektur dan arkeologi, Kern banyak menyumbang informasi kesejarahan, serta Kromodjojo yang paham akan kisah tutur lokal. Hasilnya, mereka membuat peta yang berisikan sebaran situs bersejarah yang ada di Mojokerto. Peta itu saat ini tersimpan di perpustakaan Universitas Nasional Australia (ANU).

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini, menyatakan, berkat jasa kepedulian itu, Kromodjojo kemudian diangkat sebagai anggota Bataviasch Genootschap. Yakni, lembaga kebudayaan yang berisikan para pakar di Hindia Belanda.

Menurut Yuhan, tentu tidak mudah untuk diterima dalam lembaga yang secara berkala menerbitkan jurnal ilmiah itu. Hanya orang dengan kemampuan menulis yang bisa masuk ke dalamnya. ’’Dan Kromodjojo adalah sedikit dari pribumi yang diterima menjadi anggota lembaga elite itu. Kromodjojo juga sempat menerbitkan beberapa buku tentang sejarah daerahnya,’’ tukasnya.

Atas usulannya pula, kemudian dibuatlah lembaga kajian purbakala yang diberi nama Oudheeidkundige Vereeneging Modjokerto (OVM) yang berkantor di Trowulan. Bangunan gedung OVM dibangun atas rancangan Mclein Pont. Lembaga itu didirikan pada tanggal 24 April 1924.

Dengan berdirinya OVM maka pekerjaan mandiri Kromodjojo berpindah menjadi kerja kelembagaan. Hasil penelitian dan temuan lalu ditempatkan pada kantor OVM. Sekitar tahun 1928 semua barang koleksi OVM dipajang dan diresmikan menjadi Museum Trowulan.

Meskipun telah ada satu museum lagi, Gedung Arca tetap menjadi perhatian karena koleksi yang tersimpan lebih banyak dan lebih bernilai tinggi. Masyarakat sering pula membawa sesaji untuk diletakkan pada kaki patung di Gedung Arca, terutama patung Airlangga.

Riwayat Gedung Arca itu berakhir pada tahun 1999 ketika semua koleksinya diangkut dan disatukan menjadi satu di Museum Trowulan yang dikelola oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. ’’Bangunan Gedung Arca kemudian dihancurkan oleh Bupati Mahmud Zain untuk dibuat bangunan baru yang disebut Panti PKK,’’ pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia