Senin, 25 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Jadi Jujukan Penelitian, Situs Watu Ombo Bisa Keluarkan Air

Sabtu, 03 Feb 2018 16:50 | editor : Mochamad Chariris

Yoni watu ombo di kompleks situs petilasan Tribuana Tungga Dewi, Desa Klinterejo, Kec. Sooko, Kab. Mojokerto.

Yoni watu ombo di kompleks situs petilasan Tribuana Tungga Dewi, Desa Klinterejo, Kec. Sooko, Kab. Mojokerto. (Istimewa)

MOJOKERTO – Di antara benda cagar budaya (BCB) belum banyak diketahui masyarakat adalah situs Yoni Klinterejo atau petilasan Tribuana Tungga Dewi di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Situs ini lebih dikenal dengan sebutan watu ombo.

”Masyarakat banyak menyebutnya watu ombo. Tribuana Tungga Dewi merupakan ibu Raja Hayam Wuruk,” ujar Bobby, warga setempat. Petilasan tersebut merupakan situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Keberadaan situs ini sudah ada sejak tahun 1372 M atau angka di tahun meninggalnya ibu dari Raja Hayam Wuruk.

Dikenal dengan sebutan watu ombo setelah didalamnya terdapat batu berbahan andesit berbentuk yoni dengan ukuran 1,90x1,80 meter, dan memiliki ketinggian dua meter. Sedangkan lebarnya mencapai satu meter lebih. ”Pengunjung petilasan Tribuana paling banyak dari luar kota. Di antaranya Bali, Jakarta, Solo, Semarang dan Surabaya,” jelas Bobby.

Memang, sejarah petilasan Tribuana Tungga Dewi mengundang banyak kedatangan pengunjung melakukan penelitian. Hal itu sejak diketahui terdapat batu berukuran besar yang tidak pernah ada pada umumnya. Selain ukuran, batu tersebut juga memiliki nilai sejarah.

Pengunjung yang melakukan penelitian terhadap situs ini tidak hanya pada kalangan masyarakat. Beberapa siswa dan mahasiswa seringkali mendapat tugas penelitian sekaligus untuk mengetahui dan mengingat sejarah peradaban Majapahit.

”Banyak sekarang yang belum mengetahui,” terangnya. Selain ukurannya besar dan tinggi, keunikan lainnya pada batu terdapat lubang di tengahnya dapat mengeluarkan sumber air. ”Batu di tengahnya ada lubang yang dapat mengeluarkan air merupakan sumber air, dan keluar dengan sendirinya,” tambah Zainal Abidin, Kades Klinterejo.

Selama ini, tingginya jumlah pengunjung yang datang ketika bulan Sura dan hari Jumat. Rata-rata mereka berasal dari pulau dewata, Bali. Tidak sekadar berkunjung, mereka juga melakukan ritual-ritual khusus. (eza)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia