Senin, 25 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Koordinator Tiket Jolotundo Dikabarkan Diculik, Begini Ceritanya

Selasa, 06 Feb 2018 12:00 | editor : Mochamad Chariris

Pengunjung menikmati destinasi wisata Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kec. Trawas, Kab. Mojokerto.

Pengunjung menikmati destinasi wisata Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kec. Trawas, Kab. Mojokerto. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Ahmaji, PNS yang bertugas sebagai koordinator wisata religi Petirtaan Jolotundo, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, mengalami pressure yang berat oleh oknum jaksa Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur dan dua orang LSM, Sabtu (3/2) malam.

Ia diculik dan dimasukkan ke dalam mobil lalu berputar-putar hingga ke kawasan Sidoarjo. Ketiga orang yang menculik Ahmaji adalah seorang oknum jaksa Kejati Jatim AK, dan dua anggota salah satu LSM di Surabaya. Keduanya adalah HCW, 52, warga Kelurahan Mojo, Gubeng, dan IW, 47, asal Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya.

Ketiganya mendatangi lokasi wisata Jolotundo, di kawasan Dlundung, Kecamatan Trawas, pada Sabtu (3/2) pukul 21.30. Dengan menggunakan mobil Mistubishi Kuda, seorang pelaku mendatangi loket dan membeli karcis sebanyak 10 lembar.

Beberapa menit kemudian, ketiganya kembali ke depan loket dan menanyakan koordinator wisata religi Jolotundo. Setelah bertemu dengan Ahmaji, ketiganya menyebut jika tiket yang telah dibelinya tersebut palsu. ’’Korban digertak dan mengaku sebagai orang intel Kejati,’’ papar sumber di internal Kejari Kabupaten Mojokerto.

Hanya dalam sekejap, Ahmaji yang tinggal di Tulangan, Sidoarjo tersebut, langsung dipaksa masuk ke dalam mobil dan hendak dibawa ke Mapolda Jatim atau Kejati Jatim. Namun, selama perjalanan hingga memasuki kawasan Sidoarjo, korban akhirnya diminta damai agar kasusnya dihentikan.

Korban juga memberikan pertimbangan atas dampak kasus pemalsuan tiket dan permainan tiket di area wisata. Ahmaji diminta uang sebesar Rp 75 juta. Lantaran jumlah yang sangat besar, Ahmaji kemudian menawarnya dan terjadi kesepakatan sebesar Rp 35 juta. Ahmaji kemudian diturunkan di kawasan Ngoro, Minggu sekira pukul 01.00 dan diminta untuk kembali ke Jolotundo sendirian.

Ahmaji yang tak membawa handphone, kemudian mendapat pertolongan dari seorang pengendara motor dan diantar hingga kawasan wisata, Jolotundo. Karena hanya membawa uang Rp 3 juta, Ahmaji menjanjikan akan memberikan sisanya esok harinya.

Minggu petang, Ahmaji menyerahkan uang Rp 10 juta kepada ketiga pelaku. Sesaat setelah penyerahan uang dilakukan, pelaku langsung ditangkap tim gabungan Saber Pungli. Yakni tim saber pungli Polres Mojokerto dan Kejari Kabupaten Mojokerto. ’’Ini hasil operasi gabungan,’’ terang Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Mojokerto Fathur Rohman, Senin (5/1).

Dikatakan dia, ketiga pelaku kemudian disorong ke Surabaya. Dua anggota LSM diperiksa di Mapolda Jatim. Sementara oknum Kejati diperiksa oleh pengawas internal. ’’Karena ada oknum Kejati, maka kita serahkan ke Kejati untuk diproses secara internal. Untuk kronologinya, biar pimpinan kami yang menjelaskan,’’ papar Fathur.

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia