Senin, 28 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Kerajinan Cor Kuningan Asli Trowulan

Daftarkan sebagai Hak Cipta, tanpa Campur Tangan Mesin

Rabu, 07 Feb 2018 16:15 | editor : Mochamad Chariris

Suhartatik, perajin cor kuningan memajang karyanya di rumahnya Desa Bejijong, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto.

Suhartatik, perajin cor kuningan memajang karyanya di rumahnya Desa Bejijong, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto. (Evi Nur Zaidah/Radar Mojokerto)

CERITA tersohor akan Kerajaan Majapahit telah banyak dilukiskan masyarakat melalui seni kerajinan. Tak terkecuali cor kuningan yang digeluti masyarakat Dusun Kedung Wulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Namun, banyak di antara perajin yang kini mengklaim diri sebagai yang pertama menggeluti usaha karya tangan itu. Sejak pagi, suasana riuh para pekerja cor kuningan sudah tampak di Dusun Kedung Wulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Tampak sejumlah perajin tengah disibukkan dengan proses pembuatan cor kuningan. Mulai dari peleburan, pembuatan cetakan, hingga grinda sebagai proses finishing kerajinan. Seolah tak ada kata lelah meski jemari tangan belepotan tanah dan arang hasil peleburan kuningan.

Ya, Dusun Kedung Wulan memang cukup terkenal sebagai kawasan cikal bakal pertama kerajinan cor kuningan di Kecamatan Trowulan, khususnya di Desa Bejijong. Hampir 50 perajin di dusun tersebut masih bertahan dalam pembuatan kerajinan dengan ciri khas motif Majapahitan itu.

Kondisi itu yang diakui Sriyani, warga setempat yang turut merasakan awal mula berdirinya pusat kerajinan cor kuningan di Dusun Kedung Wulan. ’’Awal mula kerajinan cor kuningan dari dusun ini (Kedung Wulan, Red), kebanyakan perajin cor kuningan di kawasan lain ya dari dusun ini,’’ ujarnya.

’’Setelah Kedung Wulan, beberapa dusun lain ikut-ikutan membuat kerajinan cor kuningan, tapi sedikit,’’ tambah Naning, warga Dusun Kedung Wulan lainnya. Salah satu perajin kerajinan cor kuningan yang sempat ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto adalah Agus Gotro dan istrinya, Suhartatik.

Ia mengaku telah menggeluti dunia cor kuningan sejak era orde baru atau saat krisis moneter berlangsung. ’’Saya memulai kerajinan sejak tahun 1998. Sebenarnya sudah turun temurun dari nenek moyang dulu sebelum adanya vihara yang ada patung Buddha Tidur,’’ ujar Suhartatik.

Suhartatik mengaku membuat kerajinan cor kuningan berawal dari inspirasinya sendiri. Seperti hiasan pintu, lalu bentuk patung dewa, seperti Ken Dedes, Ganesha, Siwa, Wisnu. Jenis cor kuningan seperti itu diakui berdasarkan cerita kejayaan Majapahit lalu. Dari situ dia gambar sampai mengukir sendiri.

Namun, pembuatan kerajinan tidak semua dimulai dari inspirasi sendiri. Terkadang banyak juga berdasarkan permintaan konsumen. ’’Ada yang permintaan tamu, ada yang dari inspirasi sendiri. Agar bertahan dan maju ya harus bisa menciptakan model baru supaya tidak kalah dengan pasar,’’ imbuhnya.

Dia menceritakan, kerajinan cor kuningan kini telah berkembang hingga dibuat hampir 50 perajin di Dusun Kedung Wulan. Akan tetapi, satu sama lain ternyata mempunyai motif berbeda dan ciri khas sendiri. Sehingga tidak bisa ditiru oleh perajin lain.

’’Motif itu mempunyai hak cipta yang dipatenkan. Tidak semua bisa meniru motif setiap perajin. Setiap orang mempunyai motif sendiri. Harus rajin berkreatifitas supaya tidak kalah dengan yang lain,’’ paparnya.

Selain membuat cor kuningan, dirinya juga menghasilkan kerajian dari bahan lain. Seperti perungu, perak, hingga emas. Bahan tersebut mereka dapatkan dari pengumpul rosokan lalu diolah secara mandiri. Tidak ada campur tangan mesin atau alat bantu listrik dan kimia.’’Semua pekerjaan masih manual, tidak ada mesin dan tidak memakai mesin,’’ imbuhnya.

Suhartatik menambahkan, dari kerajinan yang diolah, dirinya mampu menyedot pesanan dari beberapa kota besar di Indonesia. Seperti Bali, Jakarta, dan Jogjakarta. Selain itu, banyak juga wisatawan asing yang datang ke galerinya untuk sekadar melihat hingga membelinya sebagai suvenir. ’’Wisatawan asing ada yang dari Malaysia, Australia sampai Eropa. Mereka biasanya membeli dalam jumlah banyak,’’ imbuhnya.

Untuk harga, Tatik mematok nominal bervariasi. Seperti hiasan pintu atau benda-benda kecil yang dijual mulai dari harga Rp 50 ribu sampai Rp 2 juta. Lalu, patung kepala Buddha dibanderol dengan harga Rp 400 ribu. Sedangkan yang tertinggi adalah cor bentuk patung seperti Ganesha, Siwa, Wisnu, dpatok dengan harga Rp 3 juta hingga ratusan juta.

Menurutnya, harga seni setiap kerajinan dinilai dari tingkat kesulitan, jenis bahan, serta ukuran kerajianan itu sendiri. Sedangkan, untuk tetap dikenal masyarakat, dia dan suami sering mengikuti pameran pada setiap event bertajuk kesenian dan kebudayaan. (eza)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia