Minggu, 24 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Ini Pesan Gus Mus soal Teror Kiai dan Tokoh Agama di Indonesia

Rabu, 21 Feb 2018 14:25 | editor : Mochamad Chariris

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) saat berceramah pada acara Milad Ke-24 Pesantren Al Multazam, Desa Sambiroto, Kec. Sooko, Kab. Mojokerto, Senin (19/2).

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) saat berceramah pada acara Milad Ke-24 Pesantren Al Multazam, Desa Sambiroto, Kec. Sooko, Kab. Mojokerto, Senin (19/2). (Moch Chariris/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – KH Mustofa Bisri meminta rakyat Indonesia, khususnya Nahdliyin tidak mudah terpancing dengan peristiwa teror yang belakangan ini mengancam tokoh agama dan kalangan kiai.

Pengasuh Pondok Pesantren Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jateng, ini mengimbau agar masyarakat lebih bersikap arif dalam mencermati di balik insiden kejahatan yang mulai meresahkan tersebut.

Dengan tidak mudah terpancing. ’’Kita tidak perlu terpancing. Serahkan saja pada yang berwajib,’’ ujar Gus Mus sapaan KH Mustofa Bisri seusai menghadiri Milad Ke-24 Pondok Pesantren Al Multazam, di Jalan Pertanian Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Senin malam (19/2).

Memang, belakangan ini, setidaknya sudah terjadi lima sampai enam kali insiden penyerangan terhadap pemuka agama sejak awal tahun. Masih sangat hangat, Senin malam (19/2) mencuat kabar ancaman pembunuhan terhadap masyayikh dan beberapa pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo, Kediri.

Diduga, pelakunya melibatkan tiga orang tidak dikenal. Mereka yang disebut-sebut membawa senjata tajam juga melakukan provokasi, dengan mengancam akan membunuh kiai. Satu orang diduga pelaku sempat diamankan aparat kepolisian setempat. Seketika, insiden tersebut membuat umek santri dan kalangan Nahdliyin di Jatim.

Gus Mus menuturkan, peristiwa tersebut sedianya harus disikapi dengan kehati-hatian. ’’Jangan (mudah, Red) terpancing, lalu kita yang disalahkan. Kita ndak usah terpancing,’’ tegasnya. Sebaliknya, lanjut Gus Mus, bila menemukan atau mengetahui teror serupa dialami pemuka agama maupun kiai, baiknya diserahkan kepada aparat kepolisian dan pemerintah.

Dengan tidak melakukan hal-hal di luar etika dan akhlak. ’’Kita punya pemerintah. Yang berwenang, ada penegak hukum. Kita khusnudlon saja,’’ paparnya.

Salah satu sesepuh NU dikenal sangat dekat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menambahkan, saat ini, pemerintah melalui Polri sudah melakukan upaya bersama kepala kepolisian daerah perihal untuk meningkatkan pengamanan terhadap tokoh agama dan tempat-tempat ibadah.

’’Polisi sudah siaga menjaga ulama, kiai, dan tokoh-tokoh agama. Dari situ, kita ndak usah terpancing,’’ imbuhnya mengulang. Sosok kiai yang biasa mengenakan baju, kopiah dan sarung putih ini pun mengajak Nahdliyin tidak mudah goyah.

Segera menangkal ancaman-ancaman teror melalui kegiatan ke-NU-an. Seperti aktif menggelar istighotsah dan mendoakan pihak-pihak yang berbuat jahat dan tidak bertanggung jawab segera mendapat hidayah. ’’Orang itu, (mereka, Red) ingin memancing-mancing kita. Kita harus tahu, itu tujuan memancing kita,’’ paparnya.

NU dan Muhammadiyah, kata Gus Mus, adalah ormas terdepan sebagai benteng Indonesia dalam menjaga marwah NKRI. Sehingga, bila kedua ormas terbesar di bangsa ini dapat dengan mudah digoyang atau terpancing, dampaknya akan luar biasa. ’’NU-Muhammadiyah dianggap bentengnya Indonesia. Kalau dua ini rusak, rusaklah Indonesia,’’ tegas Gus Mus.

Sementara itu, disinggung perihal apakah insiden teror terhadap simbol-simbol agama ini ada kaitannya dengan tahun politik, Gus Mus dengan tegas membantah. ’’Saya kira ndak. Di pilkada, itu mungkin ada yang numpang-numpang. Tapi, pilkada, khususnya di Jatim ini kan sudah berkali-kali. Maka, jangan anggap bodoh rakyat kita,’’ paparnya.

Dengan demikian, agar tidak mudah digoyangkan oleh isu-isu ancaman perpecahan, Gus Mus meminta agar PC NU dan kader Nahdliyin lebih banyak melakukan konsolidasi. ’’Kita harus banyak konsolidasi. Mempekuat diri sendiri, dalam ilmu pengetahuan dan akhlak  Jadi, sekali lagi jangan terpancing,’’ paparnya.

Selain Gus Mus, milad juga dihadiri kalangan kiai, ribuan santri dan Nahdliyin. Di antara tampak hadir adalah Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto KH Chusaini Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Al Multazam KH Makinuddin Qomari, dan Agus Wahib Wahab.

’’Atas kondisi seperti ini, para tokoh panutan sebaiknya tetap menjaga eksistensi sebagai tokoh panutan. Terus mengajar dengan cara yang benar dan membela yang benar dengan cara yang benar. Agar umat merasa sejuk, damai dan nyaman,’’ tambah Wahib Wahab. 

Sebelumnya, lima insiden kasus penyerangan terhadap pemuka agama terjadi sejak awal tahun. Masih ingat beberapa hari lalu, pengasuh Pondok Pesantren Karangasem Paciran, Lamongan, Jatim, diserang orang tidak dikenal pada Minggu (18/2). Ancaman teror ini bermula dengan kasus penyerangan seorang ulama NU, Kiai Umar Bisri, di Cicalengka, Jabar dan disusul dengan pemukulan Komandan Brigade Persis Prawoto hingga tewas.

Sejauh ini motif di balik penyerangan tersebut juga belum jelas.  Anehnya, diduga para penyerang mengalami gangguan jiwa. Tak lama, aksi persekusi terhadap Biksu Mulyanto dilakukan oleh segelintir orang. Berikutnya terjadi penyerangan di Gereja Katolik Lidwina di Sleman, Jogjakarta. Aksi itu melukai para jemaat misa dan Romo Karl Edmund. 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia