Jumat, 22 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Beredar Kuteks Anak-Anak Dikemas Pakai Limbah Medis

Jumat, 09 Mar 2018 23:15 | editor : Mochamad Chariris

Produk pewarna kuku yang dikemas dalam botol bekas yang diduga berasal dari limbah medis.

Produk pewarna kuku yang dikemas dalam botol bekas yang diduga berasal dari limbah medis. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Orang tua harus lebih ketat dalam mengawasi perilaku jajan anaknya. Tidak hanya soal keamanan makanan, tetapi juga lebih teliti dalam memeriksa jenis mainan yang dibeli. Bisa jadi, mainan yang digunakan berbahaya bagi kesehatan si buah hati.

Pasalnya, di wilayah Kota Mojokerto ditemukan salah satu produk pewarna kuku atau kuteks yang menggunakan wadah diduga dari limbah medis. Pewarna kuku tersebut ditempatkan di dalam botol bekas kemasan obat.

Mirisnya lagi, kuteks dijual secara bebas di toko yang menjajakan mainan bagi anak-anak. Dikhawatirkan, limbah yang seharusnya dimusnahkan itu bisa mengganggu kesehatan atau bahkan menjadi sumber penularan penyakit.

Temuan itu kali pertama diketahui salah satu warga Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, kemarin. Awalnya, putrinya meminta uang jajan untuk membeli mainan di salah satu warung yang tak jauh dari rumahnya. ”Anak saya membeli pacar (pewarna kuku atau kuteks),” ujar DK, ibu rumah tangga.

Kuteks yang berwarna merah itu diberi label Pacar Arab. Saat itu, dirinya tidak menaruh kecurigaan apa pun. Namun, dia merasa penasaran ketika diminta anaknya untuk membantu membuka tutup botol.

Sebab, wadah yang terbuat dari botol kaca bening itu terlihat seperti vial atau botol yang biasa digunakan sebagai obat suntikan. Merasa semakin curiga, dia akhirnya melepaskan sticker pada labelnya.

Betapa terkejutnya ketika mengetahui di balik label Pacar Arab tersebut ternyata tercantum keterangan merek salah satu jenis obat suntikan. ”Biar tidak terlihat, merek obatnya ditutupi dengan label,” tandasnya. Dari dua botol yang dibeli anaknya, masing-masing tertulis obat triclofem dengan netto 1 mililiter (ml).

Sedangkan botol berikutnya merupakan obat cyclofem dengan netto 0.5 ml. Berdasarkan keterangan yang tertera pada label, keduanya merupakan jenis obat suntik untuk Keluarga Berencana (KB).

”Di bawahnya juga tertulis harus dengan resep dokter,” paparnya. Merasa takut terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, dirinya melarang putrinya yang masih duduk di banku TK untuk tidak memakainya. Terlebih, jika dilihat dari tutup botolnya, kemasan tersebut terlihat bekas pakai. ”Sebagai orang tua tentu khawatir. Takutnya bisa berbahaya atau tertular penyakit,” pungkasnya.

Dia juga meminta instansi terkait untuk segera menindaklanjuti temuan ini. Mengingat, kuteks dijual dengan harga yang sangat murah, yakni Rp 1.000 per biji. Sehingga, sangat terjangkau bagi anak-anak. Apalagi jika dijual di lingkungan sekolah. ”Dampaknya berbahaya atau tidak, kita kan juga belum tahu,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia