Rabu, 20 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Kuteks Dikemas Limbah Medis Beredar di Lingkungan Sekolah

Sabtu, 10 Mar 2018 21:32 | editor : Mochamad Chariris

Petugas Dinas Kesehatan Kota Mojokerto menginspeksi pedagang mainan di Jalan Raya Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Petugas Dinas Kesehatan Kota Mojokerto menginspeksi pedagang mainan di Jalan Raya Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto melakukan inspeksi guna menelusuri keberadaan mainan anak yang berbahaya. Langkah itu sebagai upaya antisipasi menyusul beredarnya mainan pewarna kuku atau kuteks yang diduga menggunakan botol bekas medis.

Sebab, dikhawatirkan mainan itu bisa memicu menjadi sumber infeksi terhadap kesehatan. Hasilnya cukup mengejutkan, dinkes menemukan kuteks yang diduga dikemas menggunakan limbah medis itu dijual bebas di kalangan siswa. Barang tersebut dijajakan oleh pedagang keliling yang berada di luar sekolah. Tepatnya di depan MI Nurul Huda 2, Jalan Surodinawan, Kota Mojokerto.

Kepala Dinkes Kota Mojokerto, Ch Indah Wahyu menyatakan, atas temuan tersebut, pihaknya melakukan tindaklanjut dengan memperketat pengawasan dan melakukan pembinaan kepada seluruh sarana pelayanan kesehatan di Kota Onde-Onde.

Dalam hal ini, terkait pembinaan dalam rangka pengelolaan limbah. Baik limbah medis maupun limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). ”Jangan sampai limbah medis dan B3 ini tidak dikelola dengan benar. Sehingga justru menyebabkan penyebaran infeksi yang tidak disadari oleh masyarakat,” paparnya.

Selain itu, pihaknya juga segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto terkait keamanan pangan dan mainan anak-anak. Mengingat, temuan tersebut didapatkan dari penjual di dekat lingkungan sekolah. Selain itu, pihaknya juga mengimbau kepada guru, orang tua, maupun anak-anak untuk tidak jajan yang masih diragukan keamannya.

Indah memastikan, kemasan pewarna kuku tersebut merupakan limbah medis. Oleh karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara khusus karena masuk dalam ketegori limbah B3. Karena dikhawatirkan bisa membahayakan bagi kesehatan. Terlebih jika digunakan di kalangan anak-anak. ”Dilihat dari kemasan, ini jelas limbah medis bekas obat suntik KB (Keluarga Berencana). Tanpa disadari itu membawa dampak infeksius,” imbuhnya.

Mengingat, cara pemakaian obat dilakukan melalui pembuluh darah secara langsung. Baik melalui intravena atau intramuscular. ”Kita juga tidak tahu yang disuntik itu mempunyai penyakit menular atau tidak,” katanya. Selain itu, kondisi kemasan botol juga masih tertutup rapat.

Sehingga diduga masih ada sisa obat yang tertinggal dalam botol. Sisa obat tersebut sangat berisiko terkontaminasi dengan bakteri maupun kuman. ”Khawatirnya anak-anak membuka tutupnya dengan cara digigit. Jika kontak langsung dengan air liur, tentu lebih memudahkan terjadinya infeksi,” ulasnya.

Indah menambahkan, pihaknya akan menelusuri lebih jauh untuk mengetahui darimana produsen mendapatkan stok limbah medis. Dugaan sementara, botol sisa medis tersebut didapat dari limbah rumah sakit, puskesmas, maupun tenaga bidan.

Karena botol bekas yang digunakan merupakan jenis obat suntik KB. ”Kita akan telusuri kira-kira mendapatkan vial ini dari mana dan akhirnya disalahgunakan untuk penggunaan kemasan mainan,” tandasnya.

Dalam upaya ini dinkes bakal menggandeng dengan sejumlah pihak yang berwenang. Termasuk berkoordinasi dengan pihak lintas wilayah. Sebab, berdasarkan pengakuan pedagang, barang didapat dari luar wilayah Kota Onde-Onde.

”Kita juga minta kepada wali kota agar ada kebijaksanaan perwali terkait keamanan pangan dan mainan untuk di lingkungan sekolah,” pungkas Indah.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia