Senin, 18 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
17 Inspirator Mojokerto

Sekolah Gratis Jadi Kunci Kebaikan

Sabtu, 10 Mar 2018 21:52 | editor : Mochamad Chariris

Miftakhul Khoir (kiri) bersama para siswa SMP Al Khoiriyah, Desa Beloh, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto.

Miftakhul Khoir (kiri) bersama para siswa SMP Al Khoiriyah, Desa Beloh, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MEMILIKI banyak siswa dan bangunan sekolah yang layak menjadi dambaan semua satuan pendidikan. Dengan begitu, akan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) yang nyaman dan aman bagi siswa.

Nah, setidaknya gambaran ini bagian dari perjuangan Kasek SMPI Miftakhul Khoir, Djit Thendra, dan istrinya. Mereka menginspirasi dengan mendirikan sekolah gratis bagi kalangan masyarakat Trowulan dan sekitarnya. Tanpa membayar sepeser pun.  

Kali pertama, pembelajaran ini diadakan di ruang Taman Pendidikan Alquran  (TPQ) milik ayahnya di Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. ”Awalnya di TPQ, kalau kegiatan mengaji kan sore hari. Kalau pagi ruangannya untuk apa? Sehingga suami saya mempunyai keinginan mendirikan sekolah gratis,” ujar Miftakhul Khoiriyah, istri Djit Thendra sekaligus guru mapel matematika.

Semula, sekolah didirikan tahun 2013 itu hanya mendapatkan 23 siswa dari masyarakat setempat. Setelah Thendra bersama Mifta Miftakhul Khoiriyah sapaannya, menemui pamong desa atau tokoh masyarakat. Mereka mendatangi satu per satu setiap rumah yang memiliki keluarga duduk di kelas VI. ”Kita mendata yang mempunyai anak sudah kelas VI. Setelah itu, kita datangi setiap rumah dan terkumpul 23 anak,” imbuhnya.

Dari dana yang terkumpul beserta beberapa dari donator dan Kemendikbud, akhirnya dia dapat membangun sekolah berlantai dua. Lokasinya berada di sisi makam dan terletak di belakang rumah warga menghadap areal persawahan.

”Saya lulusan dari malang guru matematika, saat itu melamar menjadi guru di mana pun tidak diterima. Dan suami saya sendiri guru PPKN. Akhirnya, saya ingin menyalurkan ilmu saya bagi mereka yang masih wajib mendapatkan pendidikan tetapi tidak mempunyai biaya. Sehingga, kami mendirikan sekolah gratis bagi mereka,” papar wanita kelahiran Mojokerto, 29 Januari 1989 yang memiliki keterbatasan fisik ini.

Pembelajaran pertama kali yang masih menggunakan sistem door-to-door ini sempat diragukan masyarakat sekitar ketika akan mendaftarkan anaknya di sekolah ini. ”Tahun kedua terjadi penurunan siswa menjadi 19 anak. Ketika itu banyak yang datang, tetapi mereka ragu, ini sekolah beneran apa enggak. Kok di ruangan TPQ. Dari situ, banyak yang balik pulang tidak jadi mendaftar. Khawatirnya tidak bisa melanjutkan ke SMA negeri nantinya,” tandasnya.

Selain masyarakat sekitar, sekolah gratis ini terdapat siswa dari luar kota. Di antaranya Malang, Surabaya dan Kalimantan. Selama ini, mereka tinggal di rumah saudara di Mojokerto. Sekolah gratis ini sudah bertahan selama lima tahun, dan jumlah siswanya sudah mencapai 90 orang. ”Sampai sekarang tidak ada SPP. Pihak sekolah tidak pernah menarik uang. Semampu kami. Karena memang niat dari awal mendirikan sekolah gratis,” jelasnya

”Semua di sini gratis. Seragam, buku pelajaran juga gratis. Sekarang sudah ada bantuan dari biaya operasional sekolah (BOS) dan dari donatur,” tambah Djit Thendra. Menurutnya, nama sekolah Miftakhul Khoir diambil dari nama istrinya, yang sama-sama berjuang mendirikan sekolah. Dan diartikan sebagai kunci kebaikan.

Usaha mendirikan sekolah gratis yang hanya dengan niat memberikan pendidikan dan mengamalkan ilmu itu tak sedikit yang mencibir. Bahkan meragukan niat baik mereka. Meski, KBM yang diterapkan memiliki kesamaan dengan sekolah-sekolah formal pada umumnya. ”Hingga saat ini sudah mempunyai ekstra pembelajaran bahasa Jepang,” pungkas Miftah. (eza)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia