Rabu, 20 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Guruh Wiweka, Kolektor Ratusan Pusaka Tua

Jadi Buruan Pejabat, Pernah Pakai Mahar Bangunan MCK

Sabtu, 10 Mar 2018 23:00 | editor : Mochamad Chariris

Guruh Wiweka memamerkan ratusan koleksi pusaka yang disimpan di rumahnya, Perumahan Wisma Sooko Indah, Desa/Kec. Sooko, Kab. Mojokerto.

Guruh Wiweka memamerkan ratusan koleksi pusaka yang disimpan di rumahnya, Perumahan Wisma Sooko Indah, Desa/Kec. Sooko, Kab. Mojokerto. (Rosiana/Radar Mojokerto)

GURUH Wiweka Nugraha, 35, memutuskan untuk menjadi kolektor pusaka sepuh atau tua sejak lima tahun lalu. Alasan utamanya, karena PNS Kota Mojokerto ini mencintai hal-hal berbau sejarah dan budaya. Kini, koleksinya sudah mencapai 250 pusaka. 

Masuk ke dalam rumah di kompleks Perumahan Wisma Sooko Indah, Jalan Kerapu Blok Q No 16, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto,  maka akan menjumpai ratusan pusaka tua.

Semuanya terpasang rapi dan berjajar di sebuah tempat khusus yang sengaja disediakan Guruh, panggilan akrab sang kolektor. Jumlahnya mencapai 250 pusaka yang terpasang atau disimpan dalam satu tempat tertentu. Meskipun kebanyakan koleksinya adalah keris, Guruh juga mempunyai koleksi lain berupa, tombak, pedang, sebuah wayang besi, lukisan era kolonial, bahkan patung Dewa Ganesha dan Wisnu.

”Kebanyakan pusaka berupa keris, tapi ada juga yang lain. Seperti satu wayang dari besi aji, usianya sekitar 1000 tahun, kalau lukisan saya dapat dari Jepara,” terangnya,

Pusaka yang dikumpulkan Guruh merupakan pusaka dengan usia yang berbeda-beda. Namun, menurutnya, kebanyakan pusakanya berusia tua, yaitu sebelum tahun 1945. Di mana pembuatannya masih dilakukan mpu bukan perajin.

”Kebanyakan saya mengumpulkan pusaka tua, tapi ada juga beberapa yang baru. Paling tua pusaka yang saya miliki usianya 1500 tahun lebih,” katanya. Guruh mengaku, ketika memulai mengoleksi pusaka tua, kehidupannya saat itu di posisi yang bisa dikatakan hancur. Secara ekonomi, rumah tangga, dan pekerjaan alias tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Meski demikian, niatnya tetap bulat menjadi sang kolektor pusaka. Apalagi pasca pulang dari kunjungannya ke situs atau petilasan Siti Inggil, di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Banyak kemudahan mulai dirasakan bapak lima anak ini.

”Saya banyak dimudahkan ketika awal menjadi kolektor. Kebanyakan pusaka dapat dari beberapa teman, dengan mahar yang tidak berat atau mahal,” ungkapnya.Dalam kalangan sesama kolektor pusaka, istilah jual beli tidak diperbolehkan. Namun, menggunakan istilah mahar atau mas kawin untuk siapa saja yang menyukai atau membutuhkan pusaka tertentu, dan ingin memilikinya.

Dia menambahkan, ukuran mahal tidaknya suatu pusaka itu berbeda-beda, tergantung pada rancang bangun, pamor atau motif, usia dan perkiraan pemakai sebelumnya. Diakuinya, membeli pusaka tidak bisa disamakan dengan membeli motor. Di mana berdasarkan tipe, bisa tahu pasti harganya. Tapi, untuk membeli pusaka tidak memiliki patokan mahar.

”Suatu pusaka bisa saja dilepas dengan mahar Rp 100 ribu, namun ada juga yang puluhan sampai ratusan juta,” imbuhnya. Guntur sendiri membayar mahar pusaka yang dikoleksinya dengan nominal mulai dari ratusan ribu hingga belasan juta. Bahkan ada yang pernah meminta membangunkan MCK (mandi cuci kakus) sebagai mahar pusaka yang ingin ditambahkannya sebagai koleksi.

Mendapatkannya pun perlu mengorbankan waktu dan tenaga. Bagaimana tidak, dia harus masuk ke beberapa pelosok desa di Jatim hingga Jabar mencari pusaka-pusaka tua yang tidak bisa dirawat pemilik asli atau keturun di bawahnya.

Meski demikian, tidak memungkiri, bahwa pria dengan gaya nyentrik ini pernah melepas beberapa koleksi pusakanya dengan harga fantastis. Sampai puluhan bahkan ratusan juta. ”Mulai dari masyarakat biasa sampai pejabat tinggi pernah datang melihat pusaka saya. Terakhir ada yang memberi mahar hingga Rp 140 juta untuk beberapa pusaka saya, pusaka era Majapahit,” akuinya

Dia juga tidak pernah ketinggalan ikut pameran benda pusaka di Bali, Jakarta, Jogjakarta, Solo, Klaten, Surabaya, Kediri, Malang, dan beberapa wilayah lainnya.

”Karena saya ini PNS yang tidak bisa izin seenaknya sendiri. Untuk pameran yang dekat dan hari libur saya bisa hadir. Namun, untuk yang di luar kota atau luar pulau saya hanya kirimkan pusaka saja,” tambahnya.

Proses perawatan pusaka tidak mudah dan menghabiskan waktu yang lama. Dari mulai kondisi karat, dicuci, diberi minyak kelapa dengan campuran bunga, salah satunya bunga melati. Hingga di warangi atau memberikan larutan racun arsenik untuk mengangkat karat dan menampilkan pamor pusakanya, dilakukan Guntur sendiri.

”Untuk minyak kelapa saya buat sendiri untuk memberi minyak ke semua keris agar tidak berkarat. Proses perawatan tidak ada yang instan atau mudah. Ada yang sudah di rendam air kelapa dua minggu masih belum bersih,” jelasnya.

Pamor pusaka sendiri, menentukan tua atau tidaknya pusaka. Kegunaan pusaka tergambar di pamor. Baginya, pusaka adalah kitab tanpa aksara yang bisa dimengerti tanpa harus membaca. Di mana kita bisa belajar dengan mengetahui filosofinya.

cGuruh menjelaskan, arti nama itu cukup dalam. Burung Jalak diidentikkan dengan orang laki-laki atau kepala keluarga. Sangu Tumpeng bermakna berbekal doa keselamatan. Jadi, seorang kepala keluarga hendaknya banyak berdoa memohon agar keluarganya diberi keselamatan.

Untuk mengetahui usia dan nama, Guntur mengaku perlu belajar dari buku literatur tentang keris. Mulai dari seni logam, teknik tempa, penataan pamor, langgam, gaya harus dipelajari lewat membaca buku. ”Tahu usia tidak selalu klenik atau magic, ada sains-nya, perlu dipelajari. Saya sarankan untuk membaca buku ensiklopedia keris,” ungkapnya.

Sehingga, tujuan utama Guruh mengoleksi pusaka selain melestarikan warisan budaya, dia ingin menjadi pribadi yang lebih baik lewat belajar melalui pusaka. Ke depannya, Guruh berharap, ingin menambah koleksi pusakanya hingga mencapai angka 1000.

Pihaknya juga ingin agar generasi muda tidak melupakan budaya dengan aktif berkontribusi memelihara budaya. Karena jika budaya dan agama berjalan beriringan, kemungkinan untuk terpengaruh melakukan hal negatif seperti pergaulan bebas akan berkurang.

”Budaya mengandung banyak pesan positif. Budaya tidak melulu tentang keris. Tapi tari, wayang, musik tradisional juga budaya. Itu semua sudah diwariskan turun-temurun, remaja dan pemuda perlu memeliharanya,” tandasnya. (ros)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia