Senin, 18 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
17 Inspirator Mojokerto

Menggerakkan Perilaku Positif dengan Sapaan Lur

Senin, 12 Mar 2018 22:24 | editor : Mochamad Chariris

Musa Abdul Basith

Musa Abdul Basith (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

DI tengah perkembangan zaman yang kian maju, banyak media sosial (medsos) disalahgunakan pada hal-hal negatif atau berbau provokatif. Bahkan, tidak jarang dijumpai untuk memecah keutuhan NKRI lantaran banyak isu hoax yang diviralkan.

Nah, bagaimana medsos itu bisa dimanfaatkan dengan baik dan benar. Dengan ide kreatif dan cerdas ala Musa Abdul Basith, 22, warga Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, medsos yang kadang menjadi bumerang dan momok ini nyatanya bisa dikendalikan.

Itu setelah grup laman facebook Info Lantas Mojokerto (ILM) yang digagasnya terus mengalami perkembangan dan berdampak positif di tengah masyarakat. Khususnya bagi para netizen. Selain kerap dijadikan sebagai acuan dalam mengintip informasi di segala penjuru kota. Praktisnya juga berdampak pada aksi sosial secara nyata di lingkungan masyarakat, khususnya di Mojokerto.

Seperti membantu korban kecelakaan, korban kehilangan, bersih-bersih sampah, tambal jalan berlubang, hingga edukasi bagi anggota, sekaligus masyarakat pada umumnya. ’’Jadi, sekarang lebih mengarah kebermanfaatan di dunia maya dan bergerak di dunia nyata,’’ kata Musa sapaan akrabnya.

Pembentukan grup ini bermula dari keprihatinan yang dia rasakan. Sebab, banyaknya grup facebook dinilai tidak dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Melainkan sebaliknya digunakan sebagai ajang provokatif atau memviralkan informasi hoax alias berita-berita bohong. Secara otomatis pengguna facebook tidak akan bisa menggunakan secara efektif. ’’Dampaknya malah akan memperkeruh suasana, dan membuat kemajuan teknologi sebagai hal yang sia-sia,’’ tandasnya.

Di situlah, Musa mulai terinspirasi tentang bagamana cara mengunakan medsos dengan tepat dan cepat. ’’Akhirnya saya putuskan membuat grup ini (ILM, Red),’’ tambah mahasiswa jurusan teknik elektro semester delapan Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura ini.

Dia menceritakan, membuat grup medsos memang tidak sulit. Sebab, mengarahkan ke arah yang lebih positif sekaligus membangun pola pikir masyarakat dalam pemanfaatan teknologi yang kian berkembang itu tak muda. Apalagi, sekarang terhitung jumlah anggota grup yang bergabung telah mencapai 500 ribu lebih akun facebook. ’’Rata-rata ada 17 ribu anggota baru yang masuk setiap bulan,’’ tutur pemuda kelahiran 19 September 1995 ini.

Kata dia, di balik itu, bukan berarti anggota yang masuk bisa seenaknya saja dalam memanfaatkan laman grup. Untuk menghindari hal tidak baik, seperti hate speech atau ujaran kebencian, bersama pengurus lain, Musa mulai membuat kebijakan atau peraturan. Kondisi itu tak lepas adanya undang-undang informasi teknologi (IT) yang sudah disahkan pemerintah. ’’Yang tidak taat, sesuai ketentuan, ya harus kita banned,’’ tegasnya.

Dia menyebutkan, setiap bulan hampir sekitar 10-11 ribu member harus di-banned admin lantaran memberikan informasi hoax atau jahat. Tak jarang, dirinya juga jadi sasaran komplain member lain dengan berbagai alasan.

Namun, secara pribadi, kata Musa, grup ILM ini menjadi kebanggaan tersendiri. Selain dapat berbagai informasi dan kondisi ter-update, banyak aksi sosial dengan misi kemanusian sudah dilakukan bersama para anggota di dalamnya. Baik dari Mojokerto maupun dari luar daerah.

Di antara yang sudah dilakukan adalah bakti sosial pembagian air bersih secara bergilir di beberapa wilayah terdampak kekeringan saat musim kemarau. Penambalan jalan berlubang dan rusak, membersihkan sampah di pinggir jalan, dan masih banyak lagi lainnya. Grup yang dibuatnya sudah tak terhitung lagi menemukan pemilik barang yang hilang.

Sebab, setiap anggota ILM dapat dengan langsung mengunggah foto atau informasi tentang barang yang ditemukan. Termasuk menyampaikan ciri-ciri fisik dan identitas pemiliknya. ’’Dari situ, akhirnya terwujud jiwa sosial. Otomatis mau tidak mau muncul rasa persaudaraan, empati dan simpati terhadap sesama,’’ katanya.

Dia mengaku, atas misi sosial ini, tak jarang kepentingan pribadi dan keluarga dikorbankan. ’’Prinsipnya, dari dunia maya berkembang ke dunia nyata. Aktif di dunia maya, juga harus aktif di dunia nyata, dengan misi kemanusiaan,’’ tambah Musa.

Kegiatan edukasi terhadap sesama anggota dan masyarakat menjadi agenda rutin ILM. Dari mengajak berkendara dengan baik dan benar sesuai UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, sampai penanganan terhadap korban kecelakaan.

Narasumbernya pun dengan mendatangkan langsung pihak-pihak berkompeten, yakni Satlantas Polres Mojokerto dan PMI Kabupaten Mojokerto. Selain itu, ada penyuluhan akan bahaya narkoba dengan menghadirkan BNNK Mojokerto. ’’Yang pasti, banyak ilmu baru yang kami dapatkan. Termasuk ilmu sosial,’’ ujarnya.

Keunikan lainnya yang mudah dikenal dari ILM adalah bahasa sapaan terhadap sesama anggota. Yakni, dengan sebutan lur (saudara). Kata tersebut kini bahkan cukup melekat di telinga masyarakat dan pengguna berbagai macam medsos.

’’Slogan ini maksudnya agar tidak ada jarak di antara kita. Semua dianggap dulur (saudara). Dewasa, remaja, ABG, semua adalah keluarga,’’ pungkasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia