Senin, 28 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

626 Hektare Lahan Pertanian di Delapan Desa Tak Teraliri Air

Selasa, 17 Apr 2018 16:46 | editor : Mochamad Chariris

Petani di Trowulan, Mojokerto melakukan perbaikan tanggul secara swadaya menggunakan gedek.

Petani di Trowulan, Mojokerto melakukan perbaikan tanggul secara swadaya menggunakan gedek. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Sentuhan penanganan yang dilakukan pemerintah terhadap jebolnya tanggul sungai sekunder di Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, terbilang setengah-setengah.

Menyusul, sejauh ini belum ada tindakan serius dengan melakukan perbaikan tanggul tersebut. Akibatnya, ratusan hektare lahan persawahan di delapan desa pun tak teraliri air dan mengalami gagal panen.

Menyikapi kondisi yang kian kritis itu Senin (16/4) mengharuskan warga setempat melakukan swadaya perbaikan tanggul yang panjangnya mencapai  35 meter dan lebar 15 meter. ’’Sampai sekarang belum ada perhatian serius dari pengairan,’’ ungkap, Suprayitno, 60, salah satu petani.

Menurutnya, meski jebolnya tanggul terjadi pada Desember 2017 lalu, nyatanya belum ada tindakan konkret pemerintah. ’’Katanya bulan dua (Februari, Red), tapi sampai bulan empat (April, Red) tidak terealisasi. Makanya, akhirnya kami perbaiki sendiri secara swadaya,’’ tandasnya.

Padahal, kata Suprayitno, akibat jebolnya tanggul lantaran tidak mampu menahan derasnya debit air saat musim penghujan akhir tahun lalu, sangat berdampak pada lahan pertanian di delapan desa di Kecamatan Trowulan.

Di antaranya, Desa Kejagan, Tawangsari, Bicak, Wonorejo, Balongwono, Beloh, Jatipasar, dan Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. ’’Untuk luas lahan yang terdampak di delapan desa ada sekitar 626 hektare,’’ tegasnya.

Tak urung, kondisi itu membuat para petani gagal panen. Kondisi itu juga sudah dirasakan pada panen di bulan April ini. Jika sebelumnya dengan lahan satu hektare dia bisa meghasilkan padi hingga 6 ton, pasca jebolnya tanggul tersebut hasilnya terjun bebas hingga 1 ton saja.

Itupun terhitung kotor. ’’Bersihnya hanya lima kuintal (0,5 ton),’’ sesalnya. Gagal panen kali ini tak lepas dari terputusnya aliran sungai yang sebelumnya sebagai pasokan utama petani dalam mengairi areal persawahan.

’’Jadi, sekarang ya hanya tadah hujan saja. Itupun kadang kami harus sewa diesel jika tidak ada hujan,’’ tandasnya. Menurunnya hasil produksi kali ini membuat petani mengalami kerugian besar. Sebab, apa yang dihasilkan tak sebanding dengan biaya produksi dan perawatan selama proses tanam hingga panen. Macam pembajakan sawah, pengairan, pemupukan hingga penyemprotan pestisida.

’’Pokoknya kalau satu hektare lahan, kami butuh modal sampai Rp 4 juta. Belum lagi kalau banyak hama yang menyerang,’’ tandasnya. Kata dia, seharusnya, bulan ini para petani sudah mulai bercocok tanam lagi di tahap ke dua tahun ini.

Namun, karena tidak ada pasokan air membuat petani tidak bisa bercocok tanam. ’’Kalau kami paksakan bisa-bisa malah mati, kekurangan pasokan air,’’ tuturnya.

Ahmad Arifin, petani lainnya menambahkan, dia memang tak bisa melakukan cocok tanam lagi di lahannya. Selain, intensitas hujan sudah mulai berkurang, pasokan air dari aliran suangi juga terputus.

’’Ya gimana lagi, memang kondisinya kering tidak ada air,’’ ungkapnya. Menurutnya, agar hal itu tidak berkepanjangan para petani berinisiatif membuat tanggul secara swadaya. Setiap petani dengan lahan 1.400 meter persegi diminta sumbangan Rp 50 ribu hingga terkumpul sementara sekitar Rp 10 juta.

Dana swadaya ini digunakan untuk membeli bambu, paku, baliho bekas dan menyewa alat berat yang per jamnya mencapai Rp 300 ribu. ’’Ini murni dari para petani. Tidak ada bantuan dari pemerintah,’’ ujarnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia