Jumat, 25 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Kudapan Ladu Yang Masih Bertahan

Dimasak Pakai Kemaron, Pertahankan Resep Warisan Keluarga

Kamis, 19 Apr 2018 18:53 | editor : Mochamad Chariris

Wiwik menggoreng ladu menggunakan tungku api kayu dan kemaron pasir.

Wiwik menggoreng ladu menggunakan tungku api kayu dan kemaron pasir. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Hanya segelintir masyarakat saat ini yang masih mengenal kudapan atau jajanan ladu. Ya, karena kue khas tempo dulu ini keberadaannya mulai tergerus zaman. Namun, ada warga di Dusun/Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto masih mempertahankannya produksinya. Bahkan resepnya sudah diwariskan secara turun-temurun. 

ASAP dapur mengepul dari salah satu rumah warga di Dusun/Desa Sawo RT 01/ RW 01, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Dari kejauhan, semerbak aroma manis dan gurih hinggap ke indera penciuman. Aroma yang cukup menggugah selera itu rupanya berasal dari dapur milik Wiwik Kusmiati, 54.

Saat itu, dia tengah menggoreng ladu. Pada tempo dulu, jajanan yang terbuat dari bahan beras ketan ini sempat menjadi primadona. Khususnya menjelang datangnya bulan suci Ramadan dan Hari Raya Lebaran. Namun, kudapan berbentuk seperti kerupuk itu kini sudah semakin jarang dijumpai.

Di Kabupaten Mojokerto, keberadaan pembuat ladu sudah nyaris tenggelam. Hanya beberapa saja yang masih eksis. Wiwik adalah salah satu di antara sedikit yang masih tersisa. Terhitung, ibu dua anak ini sudah menekuni pembuatan ladu selama lebih dari 30 tahun.

Dia menceritakan, awalnya keterampilan membuat jajanan yang dicap sebagai kue zaman dululu (zadul) itu didapat dari almarhum bibinya, Sriati. Dari keterampilan Sriati kemudian dilanjutkan oleh almarhum ibunya, Kukup. Tongkat estafet itu lalu diwariskan kepada Wiwik. ”Sejak muda saya sudah belajar membuat ladu dengan ibu. Kurang lebih sudah 30 tahun ini,” ungkapnya.

Menurutnya, resep pembuatan kue dipertahankan secara turun-temurun. Baik bahan baku maupun teknik pembuatan tidak banyak yang diubah. Dijelaskannya, bahan baku ladu hanya terbuat dari beras ketan dan gula. Meski terkesan sederhana, namun membutuhkan proses yang menyita waktu cukup lama.

Wiwik mengatakan, proses awal membuat ladu adalah merendam beras ketan selama kurang lebih setengah hari. Kemudian bahan tersebut dimasak dengan cara dikukus. Setelah itu, ditumbuk dengan campuran gula pasir hingga menjadi adonan halus.

Selama 30 tahun penumbukan adonan dilakukan dengan tradisional. Yakni, menggunakan alat alu dan lumpang. Namun, baru tiga bulan ini dia menggantinya dengan tenaga mesin. ”Karena proses penumbukan butuh waktu lama dan cukup berat,” ulasnya.

Ketan yang dipilih tidak sembarangan, harus yang berkualitas terbaik. Pasalnya, jika kualitas jelek, ladu tidak akan bisa mengembang setelah dimasak. ”Harus ketan murni, tidak boleh ada campuran berasnya,” ulasnya. Setelah adonan selesai, kemudian dipipihkan dan dipotong kecil sesuai kebutuhan. Selanjutnya dijemur hingga kering di bawah sinar matahari.

Salah satu yang masih masih dipertahankan adalah cara memasak yang masih menggunakan tungku api kayu bakar dan kemaron atau wajan yang terbuat dari tanah liat. Ladu dimasak dengan cara digoreng tanpa menggunakan minyak, melainkan dengan pasir. ”Sebenarnya bisa pakai oven, tapi hasilnya dan rasanya tidak bisa segurih kalau digoreng pasir,” imbuhnya.

Perempuan kelahiran 15 Maret 1964 itu menceritakan, dahulu, ladu merupakan jajanan yang jadi suguhan khas saat Lebaran. Hampir di setiap meja, terdapat ladu yang ditaruh di dalam toples kaca. Tradisi tersebut masih bertahan hingga saat ini. Oleh karena itu, menjelang datangnya bulan Ramadan ini, Wiwik mulai menerima banyak pesanan.

Jika pada hari biasa dia hanya membuat sekitar 4 kilogram beras ketan, saat bulan puasa bisa meningkat dua kali lipatnya. ”Ladu itu jajanan musiman, karena hanya saat saat puasa dan Lebaran pesanan mulai ramai,” ulasnya.

Sehari-hari dia juga dibantu dengan anak-anaknya. Dan kelak dia berharap usaha keluarga itu tetap bisa dipertahankan. Mengingat, keterampilan membuat sudah hampir punah. Jajanan tersebut tidak hanya dipasarkan di wilayah Mojokerto saja.

Tak jarang dia menerima pesanan dari Jombang, Gresik, hingga Surabaya. Bahkan, pekerja luar kota yang pulang kampung saat Lebaran juga menjadikan ladu sebagai oleh-oleh untuk kembali ke tempat kerjanya. ”Ada yang dibawa ke Kalimantan, Jakarta, juga Papua,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia