Senin, 28 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Perempuan dalam Dua Peran, Publik dan Domestik

Sabtu, 21 Apr 2018 21:21 | editor : Mochamad Chariris

Ketua TP PKK Kabupaten Ikfina Kamal Pasa, dikenal sangat menyayangi anak-anak.

Ketua TP PKK Kabupaten Ikfina Kamal Pasa, dikenal sangat menyayangi anak-anak. (Humas Pemkab for Radar Mojokerto)

MENGUPAS persoalan perempuan, karir dan rumah tangga tidak akan terlepas dari reduksi terhadap perempuan, yang kerap dianggap lebih lemah daripada pria.

Karena itulah para pahlawan perempuan baik dunia maupun Indonesia sudah sejak lama memperjuangkan hak-hak mereka, salah satunya dari Indonesia adalah Raden Ajeng Kartini.

Masyarakat Indonesia zaman dulu yang lazim menganut budaya patriarki (sistem sosial yang menempatkan pria sebagai pemegang kekuasaan paling utama dan dominan daripada perempuan), makin merentangkan pembatas antara kedua gender ini.

Kita dapat melihat pembagian peranan yang diterima, dimana pria cenderung mendapatkan peluang peran publik (urusan luar rumah), dan perempuan mendapatkan peran domestik (terpaku dalam urusan rumah tangga). Nilai-nilai ini masih berlaku di kalangan masyarakat hingga saat ini.

Pandangan tentang perempuan Indonesia kali ini dituturkan istri Bupati Mojokerto, Ikfina Kamal Pasa. Dikenal aktif sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Mojokerto, ibu dari 3 orang anak ini berpandangan bahwa perempuan Indonesia kini lebih bebas memilih, bersuara, berkarir, berkarya dan tampil di depan publik.

Namun semua gebyar pilihan-pilihan menarik tersebut, lantas tidak seketika menjadikan perempuan mengesampingkan kodratnya sebagai ratu rumah tangga.

’’Perempuan Indonesia kini bisa menikmati kebebasannya baik dalam berkarir, berkarya, membangun networking, tampil di depan publik dan aktif sebagai seorang leader. Namun hal-hal tersebut, tidak membuat perempuan Indonesia serta merta mengesampingkan tugasnya di dalam rumah tangga. Adat ketimuran dan budaya luhur masih sangat dijunjung tinggi. Perempuan Indonesia juga memiliki kapabilitas untuk berkarya di bidangnya namun tetap memprioritaskan keluarga sebagai nomor wahid,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai dokter ini.

’’Perempuan Indonesia sebagai penerus Kartini masa kini, harus cermat memahami kebutuhan utama dalam rumah tangga agar mampu menjalankan peran domestik sekaligus peran publik. Keluarga butuh kasih sayang, perhatian, membimbing anak dalam hal pendidikan, agama dan moral. Namun tanggung jawab tersebut tidak dari ibu saja, namun juga dari ayah. Dukungan suami sebagai kepala rumah tangga dengan disertai komunikasi yang baik, akan mewujudkan rumah tangga yang paripurna,” tambahnya. (tik)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia