Jumat, 25 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Siti Nur Mujawaroh, Siswa SMPN 1 Sooko (1)

Berjuang Melawan Kanker Tulang, Relakan Satu Kaki Diamputasi

Jumat, 27 Apr 2018 17:00 | editor : Mochamad Chariris

Siti Nur Mujawaroh saat dibantu teman-temannya memasuki ruangan UNBK di SMPN 1 Sooko.

Siti Nur Mujawaroh saat dibantu teman-temannya memasuki ruangan UNBK di SMPN 1 Sooko. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

Siti Nur Mujawaroh, 16, siswa kelas IX SMPN 1 Sooko, Kabupaten Mojokerto patut menjadi cerminan motivasi bagi siswa lainnya. Khususnya bagi penyandang difabel. Meski kanker tulang telah merenggut satu kakinya, namun penyakit tersebut tidak bisa memadamkan semangatnya.

TEPAT pukul 12.30 bel sekolah telah berbunyi, suara itu merupakan tanda berakhirnya sesi kedua ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Siti Nur Mujawaroh, bersama teman-teman SMPN 1 Sooko lainnya terlihat keluar dari ruangan ujian.

Kamis kemarin (26/4) merupakan hari terakhir UNBK dengan mata pelajaran (mapel) IPA. Sebanyak 40 butir soal berhasil diselesaikan selama durasi 120 menit. ”Alhamdulillah mulai awal hingga hari ini (kemarin, Red) lancar,” ungkapnya.

Tahun ajaran ini merupakan tahun kedua dia duduk di bangku kelas IX. Pasalnya, siswi yang akrab disapa Nur itu terpaksa harus mengulang akibat berjibaku melawan penyakit yang diderita. Dia didiagnosa mengidap osteosarkoma atau salah satu jenis penyakit kanker tulang yang menyerang remaja atau anak di bawah usia 20 tahun.

Siswi kelahiran 24 Agustus 2001 ini terdiagnosa mengalami kanker tulang sejak April 2016 silam. Nur menjelaskan, awalnya dia merasakan nyeri pada area lutut kaki kanannya. Dia mengira hanya cedera biasa karena sebelumnya sempat terjatuh. ”Kemudian ada benjolan kecil dan lama-lama terasa sakit kalau dibuat bersepeda,” ungkapnya.

Ya, pelajar asal Dusun Genengan, RT 02/RW 14, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini sehari-hari mengayuh sepeda angin dari rumah menuju ke sekolah. Karena rasa sakit tak kunjung reda, keluarganya pun berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto.

Setelah menjalani beberapa kali pemeriksaan, akhirnya dokter menyatakan bahwa dia didiagnosa mengalami penyakit kanker tulang. Tindakan awal, dokter hendak mengangkat benjolan di kakinya melalui tindakan operasi.

Tetapi, karena penyakit yang dialaminya tergolong kanker ganas, Nur pun harus merelakan sebagian kaki kanannya. Sebab, sekitar Oktober 2016, dia harus menjalani tindakan yang lebih berat, yakni amputasi. ”Dulu perkembangan kankernya itu sangat cepat. Sehingga, kata dokter harus diamputasi,” terangnya.

Amputasi tersebut dilakukan di RSUD dr Soetomo, Surabaya. Tentunya, keputusan itu cukup berat bagi dia. Apalagi, kala itu Nur masih duduk di semester akhir kelas VIII. Pada saat pertama kali diberitahu untuk amputasi, dia mengaku hanya bisa pasrah dan menangis.

Namun, sebelum mengambil keputusan. Dia dipertemukan dengan salah seorang teman barunya yang bernama Fajrian. Kebetulan, keduanya dirawat di ruang yang sama di RSUD dr Soetomo. Berkat support dari teman sekamarnya itulah, Nur akhirnya mau menerima tindakan amputasi.

Manurut Nur, teman asal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat itu terus memberikan semangat kepadanya. Sebab, pasien yang sebaya dengannya itu juga mengalami sakit yang sama dan baru saja kakinya diamputasi. ”Dia (Fajrian, Red) bilang, jangan putus asa, masa depanmu masih panjang. Tidak apa-apa kehilangan kaki, nanti pasti ada gantinya,” terang Nur menirukan teman sekamarnya itu.

Kemudian, dia menjalani amputasi kaki pada kaki kannanya mulai bagian ujung kaki hingga atas lututnya. Sekitar satu-dua bulan kemudian, Nur tetap tetap berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya. Dia dinyatakan naik ke kelas IX. Meski awal kembali ke sekolah merasa canggung karena hanya bertumpu satu kaki, namun atas dukungan dari teman dan gurunya dia mampu membangkitkan rasa percaya dirinya.

Sayangnya, di bangku kelas IX, Nur hanya mampu menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) hingga semester ganjil saja. Rupanya, osteosarkoma kembali menyerangnya. Rasa nyeri seperti yang sama seperti setahun yang lalu kembali dirasakannya. Khawatir terjadi susuatu hal, siswi berhijab ini kembali melakukan pemeriksaan.

Dugaannya ternyata benar, dokter menyatakan masih ada sisa penyakit kanker tulang yang menggerogoti kaki kanannya. Petugas medis pun kembali menyarankan untuk dilakukan amputasi yang kedua. Bahkan kali ini harus kehilangan seluruh kakinya, karena diamputasi hingga pangkal paha.

Kendati demikian, Nur mengaku lebih siap untuk menjalani tindakan medis yang kedua ini. Selain motivasi dari keluarga dan sahabat dekatnya di sekolah, keinginan gadis berkacamata untuk sembuh juga sangat tinggi. Di sisi lain dorongan yang paling kuat adalah agar bisa kembali ke sekolah. ”Saya sangat ingin kembali sekolah,” paparnya.

Selain itu, tindakan medis yang kali kedua ini cukup menyita waktu belajarnya. Bahkan, mulai dari awal amputasi, pengobatan hingga masa pemulihan membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 bulan. Sehingga, anak dari pasangan suami istri, Mukid-Khoiriyah ini tak bisa memenuhi hampir seluruh pelajaran di semester genap maupun pelaksanaan ujian nasional (unas) pada tahun ajaran 2016/2017.

Sehingga, dia terpaksa harus tinggal kelas dan mengulang di tahun ajaran 2017-2018 ini. Dan kemarin, dia berhasil menuntaskan unas mulai awal hingga akhir. ”Yang buat semangat hanya satu, untuk mengejar cita-cita,” tandasnya. Nur mengaku, jika dinyatakan lulus, dia ingin melanjutkan ke jenjang SMA, bahkan hingga ke perguruan tinggi (PT). Pasalnya, kelak dia berkeinginan menjadi seorang guru.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia