Senin, 28 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Geliat Eksotisme Kawasan Wisata Pacet

Sejak Zaman Belanda, Tempat Peristirahatan Pejabat

Rabu, 02 May 2018 18:30 | editor : Mochamad Chariris

Repro Biara Stella Matutina Pacet, Kab. Mojokerto.

Repro Biara Stella Matutina Pacet, Kab. Mojokerto. (Ayuhanafiq for Radar Mojokerto)

PACET merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Mojokerto. Eksotisme keindahan alam dan sejuknya udara di kawasan kaki Gunung Welirang menjadi salah satu daya tariknya.

Bahkan, kecamatan yang berbatasan dengan Kota Batu tersebut sudah menjadi jujukan sejak dulu.Hal itu bisa dilihat dari keberadaan vila-vila tua yang sebelumnya pernah berdiri.

Selain menyuguhkan panorama wisata alam, di Pacet juga terdapat wisata buatan. Salah satu yang masih menjadi primadona sampai saat ini adalah wisata kolam Ubalan.

Wisata yang kini berubah nama menjadi Ubalan Water Park ini rupanya telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Tempat rekreasi yang ada di Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto tersebut dibuat oleh NV. Eschauzier Concern.

Yakni, sebuah perusahaan yang mengoperasikan beberapa pabrik gula di Mojokerto. ”Ubalan dibuat sebagai tempat peristirahatan bagi pejabat-pejabat di Pacet dengan fasilitas lengkap,” ungkap sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq.

Sejak awal, Ubalan memang dibuat sebagai wahana pemandian berupa kolam renang. Air Ubalan berasal dari sumber yang tidak pernah kering. Dengan air jernih memenuhi kolam dengan ukuran besar yang nyaman dipakai berenang.

Dia mengungkapkan, seiring berjalannya waktu, pemandian Ubalan sempat diambil alih oleh panitia pengelola pariwisata Desa Pacet. Tidak jauh dari Ubalan, juga ada pamandian air panas yang mengandung belerang. Tepatnya berada di Desa Padusan.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, kehadiran orang kaya yang berekreasi di Pacet mampu meningkatkan lesejahteraan warga sekitar. Ada banyak kuda yang dipelihara warga dan disewakan pada wisatawan yang ingin berkeliling menikmati hawa dingin Pacet.

Demikian pula dengan tanaman ubi jalar Pacet yang dikenal enak sejak zaman Belanda. Hampir setiap hari hasil bumi Pacet mengalir ke Mojokerto untuk diteruskan ke Surabaya. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, pada zaman revolusi geliat wisata Pacet menghilang.

Pasalnya, wilayah Pacet sempat dijadikan sebagai tempat camp militer. Terjadi perebutan silih berganti antara pejuang dengan Belanda. ”Akibatnya banyak vila yang rusak atau dirusak saat pertempuran terjadi,” paparnya.

Sekitar tahun 1950-an, Pacet kembali dibenahi. Jalan beraspal diperbaiki dan sarana transportasi disediakan. Pemerintah Kabupaten Mojokerto lalu mendirikan tempat peristirahatan yang dinamakan P5. Tempat penginapan itu dimaksudkan untuk menyediakan tempat peristirahatan bagi wisatawan.

Yang tidak kalah penting, sumber air Pacet yang berada di sumber mata air Desa Kembangbelor juga mengalir hingga Surabaya dan Jombang. Aliran pipa air yang dibangun oleh Belanda untuk mencukupi kebutuhan air minum warga asing di kota tersebut.

Hingga saat ini, Pacet masih menjadi salah satu jujukan favorit bagi wisatawan domestik maupun luar daerah. Terlebih, setelah pihak swasta ikut berinvestasi dengan memdirikan beberapa hotel. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia