Jumat, 22 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Ditetapkan KPK Tersangka, Keberadaan Zainal Masih Buram

Rabu, 02 May 2018 21:06 | editor : Mochamad Chariris

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Mojokerto, Zainal Abidin.

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Mojokerto, Zainal Abidin. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Pasca ditetapkan tersangka oleh KPK Senin (30/4), keberadaan mantan Kepala PU Bina Marga Kabupaten Mojokerto Zaenal Abidin, masih belum diketahui.

Bahkan, kediaman pribadinya di Perumda Sooko, Jalan Melati Nomor 32-34, RT 01/RW 08, Kecamatan Sooko, juga terlihat tidak berpenghuni. Dari pantauan Selasa (2/5), pintu gerbang utama tertutup dan terkunci gembok dari luar.

Tidak terlihat aktivitas di rumah dua lantai itu. Tetangganya pun mengaku tidak mengetahui keberadaan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto ini.

Ketua RT 01, Perumda Sooko, Bambang Prayitno, menuturkan, hingga kemarin dirinya juga belum melihat Zaenal di rumahnya. Menurutnya, sebelum terjerat kasus dugaan gratifikasi, Zenal memang jarang terlihat pulang ke kediamannya.

’’Sebelum ada kasus memang jarang di rumah. Pulang kerja langsung pergi lagi, nggak tahu ke mana. Kalau kata-katanya sih ke Surabaya,’’ paparnya. Bambang menyatakan, sehari-hari rumah tersebut ditempati oleh seorang pembantu perempuan dan dua orang sopir pribadi dari Zaenal dan istrinya.

Namun, saat tim antirasuah melakukan penggeledahan pada Kamis (24/4) malam. Tidak ada satu pun anggota keluarga berada di dalamnya. Satu-satunya yang ada hanya seorang perempuan yang belakangan diketahui adalah teman dari anak Zaenal.

’’Hanya ada teman anaknya dari NTT (Nusa Tenggara Timur) yang menginap di situ,’’ paparnya. Bambang pun diminta untuk menjadi saksi atas penggeledahan di rumah kadispendik itu. ’’Setelah pemberitahuan dari KPK, kita diajak masuk untuk menyaksikan,’’ terangnya.

Dia menjelaskan, KPK melakukan penggeledahan di hampir seluruh ruangan rumah. Selama kurang lebih dua jam, KPK membawa sejumlah berkas yang diduga dokumen penting dari rumahnya. ’’Kalau item-itemnya apa saja saya tidak tahu. Hanya bawa dokumen berupa kertas-kertas saja. Barang-barangnya juga tidak ada yang disita,’’ katanya.

Sebagaimana diketahui, KPK telah menetapkan Zaenal Abidin atas dugaan menerima fee atas sejumlah proyek ketika menjadi Kepala Dinas PU Bina Marga periode 2010-2015. Selain Zaenal, KPK juga menetapkan Bupati Mustofa Kamal Pasa (MKP) atas kasus yang sama serta dugaan gratifikasi terkait pembangunan menara telekomunikasi.

Untuk kepentingan penyidikan, MKP harus mendekam di Rumah Tahanan Kelas 1 Jakata Timur Cabang KPK selama 20 hari terhitung sejak Senin (30/4). Lain halnya dengan Zenal Abidin yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia