Senin, 28 May 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Melodi At-Taubah, Grup Salawat Khusus Narapidana

Obat Rindu Keluarga, Ketagihan Latihan Setiap Hari

Selasa, 15 May 2018 22:05 | editor : Mochamad Chariris

Narapidana Lapas Kelas II-B Mojokerto saat mengikuti Salawatan dan Diba di masjid.

Narapidana Lapas Kelas II-B Mojokerto saat mengikuti Salawatan dan Diba di masjid.

Tidak semua kesalahan harus diratapi. Masih ada waktu untuk berubah menjadi lebih baik. Meski hidup di balik kerasnya teralis besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Mojokerto, tak menyurutkan upaya narapidana dalam bertobat. Salah satunya lewat pembentukan grup Salawat At-Taubah.

DIVONIS hukuman penjara oleh majelis hakim pengadilan memang sangat menyakitkan. Stres tingkat tinggi tak dapat dihindari atas kenikmatan hidup yang dibatasi.Hari-hari hanya diisi dengan mengurung diri di dalam ruangan sempit selama beberapa tahun.

Tidak ada lagi yang namanya hiburan, makanan enak, atau bahkan tidur di kasur yang empuk. Keterbatasan inilah yang sudah menjadi risiko atas perbuatan khilaf yang telah mereka lakukan sebelumnya.

Akan tetapi, keterbatasan yang dialami bukan berarti menutup kesempatan para narapidana yang mendekam di Lapas Kelas II-B Mojokerto untuk bisa berubah menjadi lebih baik. Masih ada peluang move on dengan cepat setelah mengalami perenungan. Hingga kembali bersemangat menjalani sisa masa hukuman.

Hal itu diakui para napi setelah banyak terlibat dalam kegiatan pembinaan agama di dalam lapas. Salah satunya lewat kegiatan salawatan dan diba hingga membentuk sebuah grup salawat yang diberi nama melodi At-Taubah.

’’Sudah banyak anggotanya. Sebelumnya enggak sampai 10 orang. Karena dulu banyak yang tidak bisa. Tapi setelah dipelajari, sekarang sudah ada 30-an warga binaan yang ikut salawatan. Pembentukannya bersamaan dengan,’’ terang Ahmad Nuri Dhuka, kasi Binadik Lapas Kelas II-B Mojokerto.

Ya, berdirinya grup salawat tak bisa dilepaskan dari pembentukan pondok pesantren khusus napi yang lebih dulu berdiri tahun 2016 lalu. Selain karena mendapat bimbingan khusus dari sang kiai, terbentuknya grup salawat juga tak lepas dari besarnya minat napi.

Betapa tidak, lantunan salawat rupanya mampu menjadi obat penghibur napi di kala sedih. Terutama ketika dilanda kerinduan akan kehangatan keluarga. Bahkan, saking semangatnya, para napi meminta jadwal latihan berlangsung setiap hari.

’’Awalnya memang dijadwal, karena menyesuaikan jadwal pondok pesantren dan kiai. Tapi karena mereka banyak memaksa harus setiap hari latihan, jadinya mereka latihan sendiri,’’ tambahnya. Selain banyak diikuti napi, grup salawat At-Taubah juga selalu tampil di hajatan keagamaan lapas.

Seperti peringatan Isra Mikraj yang berlangsung di halaman Lapas, Selasa (8/5). Di hadapan undangan dari Kementerian Hukum dan HAM, lantunan lagu Islami menggema dari mulut napi.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia