Selasa, 19 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Banyak Beredar Mamin Bermasalah, Kedaluarsa dan Tak Berlabel

Jumat, 18 May 2018 18:50 | editor : Mochamad Chariris

Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata memimpin sidak sembako dan mamin di Pasar Legi Mojosari, Kab. Mojokerto.

Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata memimpin sidak sembako dan mamin di Pasar Legi Mojosari, Kab. Mojokerto. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Memasuki bulan Ramadan masyarakat harus teliti dan waspada saat berbelanja. Pasalnya, peredaran makanan dan minuman (mamin) mendekati masa kedaluarsa maupun tak berlabel masih banyak ditemukan.

Mamin kedaluwarsa itu ditemukan saat inpeksi mendadak (sidak) gabungan dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag), Bulog, dinas kesehatan (Dinkes) dan kepolisian di Pasar Legi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Kamis (16/5).

’’Masyarakat harus lebih waspada terkait peredaran mamin kedaluarsa,’’ kata Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simaramata. Dia tidak memungkiri momentum Ramadan dan Lebaran mendatang, rentan dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk meraih keuntungan lebih.

Namun, dengan cara tidak fair, yakni menjual mamin tidak layak konsumsi. ’’Kebetulan yang kami temukan snack mendekati expired. Tapi, saat itu langsung kita minta pedagangnya mengembalikan,’’ tandasnya.

Tak hanya itu, dalam sidak kali ini petugas juga menemukan jajanan pasar tak terlabel, khususnya barang dalam keadaan terbungkus (BDKT). Nah, menyikapi hal itu, menggandeng disperindag dan dinkes, petugas akan melakukan koordinasi dalam mengambil langkah penangangan. Termasuk melakukan pembinaan.

Pasalnya, sesuai aturan makanan pokok yang akan diedarkan harus ada izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Macam label, komposisi, netto dan tanggal kadaluarsa. ’’Kalau tidak ada berarti itu melanggar aturan,’’ tuturnya.

Sesuai Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No 12 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Pangan Olahan. Kasi Kefarmasian Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Siti Indriastuti, menjelaskan, sebenarnya sudah ada ketentuan batas maksimal penarikan mamin yang telah kedaluwarsa dari pasaran.

’’Jadi, penarikan produk sudah harus dilakukan antara tiga hingga tujuh hari sebelum ed (expired, Red),’’ ungkapnya. Sehingga, dalam situasi seperti ini masyarkaat diimbau jeli dan hati-hati dalam membeli mamin selama bulan Ramadan. Baik yang tidak berlabel atau telah memasuki kedaluarsa. Sebab, mamin expired berdampak pada kesehatan.

Tak kalah penting, konsumen diminta memperhatikan kondisi kemasan produk mamin. Atau lebih baik menghindari kemasan rusak atau penyok saat membeli. ’’Efek mengonsumsi mamin kedaluwarsa juga dapat berakibat fatal. Seperti keracunan,’’ tandasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia