Rabu, 20 Jun 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Angkat Tema Harmoni dalam Kebhinnekaan untuk Bangsa

Selasa, 29 May 2018 19:37 | editor : Mochamad Chariris

Seorang biksu di Mahavihara Majapahit Trowulan mengantar pengunjung di area patung Buddha tidur yang sudah dibersihkan untuk menyambut puncak Waisak malam ini.

Seorang biksu di Mahavihara Majapahit Trowulan mengantar pengunjung di area patung Buddha tidur yang sudah dibersihkan untuk menyambut puncak Waisak malam ini. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Suasana ibadah puasa umat muslim di bulan Ramadan kali ini rupanya tak menyurutkan umat agama lain dalam beribadah khusyuk sesuai keyakinan masing-masing.

Tak terkecuali umat Buddha Mojokerto yang beberapa jam lagi bakal merayakan Tri Suci Waisak 2562 BE/2018. Nah, untuk lebih memeriahkan hari suci ini, sejumlah persiapan pun mulai digelar.

Salah satunya dengan mempercantik kompleks patung Buddha tidur di area Mahavihara Majapahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Upaya tersebut sebagai aktualisasi akan ajaran Buddha tentang kesucian.

Dalam perayaan Waisak nanti, Mahavihara yang dibangun sejak tahun 1990-an ini akan dipadati sejumlah umat Buddhist dari beberapa daerah. Seperti Surabaya, Jombang, Pasuruan, Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto.

Setidaknya, kurang lebih hampir 500 umat akan memadati area Mahavihara. Mereka akan menjalani ritual detik-detik Waisak mulai dari pradaksina (penghormatan mengelilingi kompleks Mahavihara), mandi rupang Bodhisatta, hingga puja bhakti atau meditasi menyambut detik detik Waisak.

Berdasarkan prakiraan, puncak Waisak akan berlangsung pukul 21.19 WIB lebih 13 detik. Di mana, saat itu puncak Waisak bertepatan dengan terbitnya purnama Siddhi di bulan Waisak.

’’Persiapan sudah kita mulai sejak seminggu yang lalu. Ada pembersihan rupang, pemasangan lampu untuk pradaksina sampai juga menyiapkan air suci dari umbul jumprit di kawasan Temanggung,’’ ungkap Sariyono, pengurus Mahavihara Majapahit.

Sariyono menjelaskan, tidak ada yang berlebihan dari perayaan Waisak tahun ini. Semuanya berjalan seperti tahun sebelum-sebelumnya. Bahkan, tema yang dipilih untuk Dhammadesana atau pesan Waisak tak cukup berbeda dari Waisak tahun 2017 lalu.

Yakni, Harmoni dalam Kebhinnekaan untuk Bangsa yang akan disampaikan oleh Bikhu Sangha. Hanya saja, dalam perayaan Waisak nanti, umat Buddha juga tak lupa untuk saling berbagi antarumat agama lain.

Penghormatan dan keharmonisan bersama umat dan warga sekitar menjadi momentum apik dalam menangkal segala bentuk tindakan memecah belah bangsa. Keharmonisan ini yang sudah tertera dalam tema Waisak tahun ini.

’’Karena puncak Waisak tahun ini jatuhnya saat malam hari. Jadi, umat berkumpul sejak sore. Nah, saat itu bisa dimanfaatkan untuk buka puasa bersama dengan warga dan pengunjung sekitar yang menjalankan ibadah puasa,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia