Jumat, 22 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Ekonomi

Jatuh Bangun Yang Berdiri sejak 1919

Senin, 07 Aug 2017 08:19 | editor : Agus Purwahyudi

GENERASI KETIGA: Charles Ong Saerang, Cucu Nyonya Meneer

GENERASI KETIGA: Charles Ong Saerang, Cucu Nyonya Meneer (M Ali/Jawa Pos)

NAMA Nyonya Meneer punya riwayat unik. Saat pendiri, Lauw Ping Nio, masih di dalam kandungan, sang ibu ngidam beras patah atau yang biasa disebut menir oleh orang Jawa. Karena ngidam menir itu, sang ibu kemudian menjuluki Lauw Ping Nio sebagai Menir. Kata menir tersebut kemudian berubah menjadi meneer karena pengaruh bahasa Belanda.

Nyonya Meneer yang lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 1895, pindah ke Kota Semarang setelah menikah. Di tempat baru itu, sang suami sering sakit-sakitan. Nyonya Meneer lalu membuatkan jamu resep turun-temurun. Penyakit suaminya pun sembuh dengan jamu racikan Nyonya Meneer.

Nyonya Meneer yang ringan tangan kemudian mulai membantu kerabat, tetangga, dan orang-orang di sekitarnya yang diserang demam, sakit kepala, masuk angin, dan berbagai penyakit ringan lainnya. Sebagian besar yang mencobanya puas. Dari situlah, akhirnya Nyonya Meneer memulai usaha pembuatan jamu yang diwariskan turun-temurun kepada anak dan cucu-cucunya.

Perusahaan tersebut awalnya bernama Jamu Cap Portret Nyonya Meneer. Berdiri pada 1919, pe­rusahaan itu pernah mengalami kemajuan pesat pada 1990-an. Namun, perusahaan Nyonya Meneer juga pernah mengalami krisis operasional pada 2000-an karena adanya sengketa perebutan warisan hingga ke meja hijau.

Media pernah mencatat beberapa kali masalah-masalah pekerja dan pemogokan buruh terjadi pada 2000-2001 di perusahaan jamu tersebut. Di antaranya, penuntutan pembayaran THR, pemogokan kerja, masalah HAM, dan demonstrasi.

Operasional perusahaan yang saat itu dipegang kelima cucu Nyonya Meneer akhirnya diambil alih Charles Ong Saerang, salah seorang cucu Nyonya Meneer, yang membeli warisan cucu lainnya untuk mengakhiri perebutan kekuasaan.

Pasar Jamu, menurut Charles, sebenarnya masih tumbuh secara nasional sekitar 10 persen. Namun, beberapa jenis jamu mulai ditinggalkan pasar seperti jamu yang berbentuk bubuk serta yang dikonsumsi dengan diseduh. Perusahaan jamu pun dituntut menjadi lebih peka terhadap perubahan pasar. Misalnya, dengan memproduksi jamu siap minum, energy drink, dan jamu berbentuk kapsul yang praktis.

Charles juga berharap pemerintah memberikan kemudahan kepada pengusaha jamu dengan memberikan insentif. Misalnya, bagi bank yang mau menyalurkan kredit untuk usaha jamu. Sebab, bunga tinggi membuat pengusaha jamu sulit berkompetisi dan sulit bersaing dengan produk asing. Selain itu, Charles ingin pemerintah membuka pasar jamu lewat ritel nasional agar pasar bisa tersentuh secara lebih masif. "Seperti di Korea, semua orang minum ginseng. Nah, kita orang minum jamu dibilang kuno, bagaimana mau dilestarikan warisan budaya ini?" tuturnya.

(sm/jks/jpk/ap/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia