Sabtu, 23 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Mengenal Pembuat Wayang Gebog

Tanamkan Nilai Moral dan Kelestarian Alam

Selasa, 16 Jan 2018 12:33 | editor : Baskoro Septiadi

KREATIF: Teguh Arif Romadhani saat pentas wayang gebog di hadapan anak-anak.

KREATIF: Teguh Arif Romadhani saat pentas wayang gebog di hadapan anak-anak. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID - Suryo Cahyono dan Teguh Arif Romadhani menyulap gedebok pisang menjadi wayang. Namanya Wayang Gebog. Wayang ini menjadi media hiburan sekaligus pendidikan bagi anak-anak.

Wayang yang dibuat Suryo Cahyono dan Teguh Arif Romadhani ini memang tidak seperti biasanya. Keduanya membuatnya dengan gedebok pisang dan potongan bambu. Dua bahan ini banyak ditemukan di desa dan perkampungan pinggiran kota.

Menurut Suryo Cahyono, pisang memiliki filosofi yang sangat bagus untuk diterapkan kepada anak-anak. Menurutnya, pohon pisang termasuk salah satu tumbuhan yang tidak berumur lama, dan hanya berbuah sekali. Karena biasanya setelah berbuah, pohon pisang akan dipotong hingga mati.

“Namun pohon pisang tidak pernah bersedih, karena akan selalu ada tunas baru yang tumbuh persis di sebelah pohon induk yang mati,” ujar Suryo Cahyono kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hal itu, menurut Suryo, mengambarkan ketika induk pisang mati bukan berarti dia tidak berbekas dan lantas dilupakan. Namun induk pisang telah menyiapkan generasi penerusnya. "Pohon pisang itu kan salah satu tanaman yang mementingkan regenerasi. Itulah alasannya kami menghibur anak melalui wayang dari gedebog pisang ini. Tujuannya, agar kami juga bisa beregenerasi," jelas warga Ngaliyan, Semarang ini.

Teguh Arif Romadhani menambahkan, regenerasi itu sangat perlu pada setiap kelompok. Karena tanpa regenerasi, sangat susah sebuah ide dapat disalurkan. Untuk itu, ia berharap supaya dapat menularkan semangat menjaga permainan tradisional, salah satunya adalah wayang gebog tersebut. Meski demikian, Teguh mengakui bahwa wayang tersebut hanya merupakan kreasi untuk mendidik anak-anak.

"Pohon pisang itu tidak mau mati sebelum berbuah, jadi dia harus berguna dulu sebelum mati. Sama seperti manusia, kita harus berguna bagi orang lain dalam kehidupan,"katanya bijak.

Teguh mengatakan, sengaja menggunakan media wayang gebog agar lebih menarik minat dan lebih mudah mendekat dengan anak-anak. Dengan begitu, saat ada pertunjukan, akan lebih mudah dimaknai. “Usai latihan, kami juga mengizinkan anak-anak memainkan wayang sendiri,” ujarnya.

Melalui media wayang gebog itu, pihaknya berharap agar anak-anak dapat menyerap pesan moral dari setiap cerita-ceritanya. Teguh sendiri selalu menyelipkan pemahaman mengenai menjaga kelestarian alam dan menanamkan moral kehidupan.

Dalam seminggu sekali, pihaknya rutin menggelar workshop atau pertunjukan wayang gebog. Namun demikian, pementasannya masih sederhana, yakni dengan cara mengajak anak-anak untuk memainkan peran sesuai dengan kesukaan mereka.

Diakui, ide pembuatan wayang gebog tersebut tidak datang begitu saja. Ia butuh waktu selama enam bulan baru bisa menemukan media wayang gebog. Awalnya, ia hanya membuat secara sederhana. Namun, selalu kempis dan busuk. Kemudian ia mencoba lagi dengan cara mengeringkan gedebog pisang itu terlebih dahulu, setelah itu langsung dianyam dengan penambahan media bambu. Akhirnya bisa berwujud wayang gebog tersebut, yang semuanya sengaja diberikan untuk menarik minat anak-anak. "Proses pembuatannya relatif cepat. Dalam sehari bisa buat wayang gebog sekitar 3 tokoh, semua tergantung dari ketersediaan bahan-bahannya,” ujarnya.

(sm/jks/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia