Senin, 25 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Hukum & Kriminal

Kepala Rutan Purworejo Diduga Terima Duit Bandar Sabu

Rabu, 17 Jan 2018 09:45 | editor : Pratono

KONGKALIKONG : Kepala Rutan Purworejo Cahyono Adhi Satriyanto dibawa ke Jakarta untuk penyelidikan oleh BNN Pusat, Selasa (16/1/2018).

KONGKALIKONG : Kepala Rutan Purworejo Cahyono Adhi Satriyanto dibawa ke Jakarta untuk penyelidikan oleh BNN Pusat, Selasa (16/1/2018). (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID-Kepala Rutan Kelas II B Purworejo, Cahyono Adhi Satriyanto (CAS) ditangkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng dan Tim Direktorat TPPU BNN. Ia diduga kuat menerima aliran uang dari narapidana narkotika hingga Rp 313.500 juta. Uang tersebut terkumpul dari 17 transaksi dengan napi bernama Christian Jaya Kusuma alias Sancai.

"Ada 17 transaksi selama menjabat di Lapas Narkotika Nusakambangan, sampai menjadi Kepala Rutan di Purworejo, sejak Oktober (2017)," kata Kabid Berantas BNNP Jateng, Suprinarto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (16/1/2018).

Dari pengungkapan ini, selain menangkap Sancai dan Cahyono, BNNP Jateng juga telah mengamankan 4 orang lainnya. Masing-masing bernama Charles Cahyadi, warga Kalimantan, yang tak lain adalah tangan kanan Sancai. Perannya mendapat perintah dari Sancai, kemudian menyuruh Saniran untuk membuka rekening guna menampung uang dari hasil bisnis narkotika Sancai.

Charles dan Saniran ini berhasil ditangkap petugas gabungan setelah melakukan pengejaran hingga ke Banjarmasin Kalimantan, 11 Januari 2018. Selain itu, ditemukan barang bukti 2 emas batangan seberat 500 gram dan 850 gram, termasuk uang tunai Rp 400 juta yang disimpan di safety box Bank Panin Banjarmasin.

"Kemudian dua orang lainnya warga sipil. Yakni, Suhartinah, warga Wonosobo dan Sunarso warga Cilacap, pemilik atas nama rekening yang digunakan untuk transaksi aliran dana ke CAS," bebernya.

Sedangkan dana yang diperoleh Cahyono dari Sancai, antara lain diberikan kepada keluarganya, pembelian tiket pesawat, pembayaran penginapan hotel, menjamu tamu di restoran, membeli televisi untuk Rutan Purworejo, membeli sepatu dengan merek terkenal, membeli jersey untuk motor cross, membeli kalung kesehatan serta kebutuhan pribadi lainnya. "Yang jelas jaringan ini besar, masih kami dalami sejauh mana aliran dana narkoba ini, termasuk jaringan yang di atasnya," katanya.

Suprinarto juga mengatakan, Sancai merupakan bagian dari jaringan narkotika internasional. Sabu-sabu yang diperolehnya sebagian besar dari luar negeri. Namun demikian, pihaknya belum bisa membeberkan terkait jumlah pendapatan keuntungan bisnis narkoba yang dijalankan Sancai. "Kalau kebutuhan dia di dalam Lapas Pekalongan sebulan Rp 40 juta. Itu berdasarkan pengakuan dari Sancai," ujarnya.

Saat ini, empat tersangka yakni Cahyono, Sancai, Charles dan Saniran telah dibawa ke Jakarta untuk dilakukan penyelidikan oleh BNN Pusat, Selasa (16/1) kemarin. Sedangkan tersangka Suhartinah dan Sunarso masih berada di tahanan BNNP Jateng. "

Pada kasus ini, empat tersangka akan dikenai pasal 3,4,5 dan 10, UU nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), dan Pasal 137 UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati. "Kami tindak sesuai peraturan yang ada," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah Djoni Priyatno mengungkapkan, berdasarkan pengakuan Cahyono, yang bersangkutan tidak terlibat dalam jaringan narkoba dan tidak memfasilitasi. “Jangan sampai statement saya mempengaruhi daripada hasil pemeriksaan BNNP Jateng. Dia (Cahyono) tidak terlibat dalam jaringan narkoba itu, kalau memfasilitasi juga tidak," katanya.

Terkait adanya dugaan aliran dana dari Sancai ke Cahyono yang mencapai ratusan juta, Djoni berkilah. Sancai memang pernah memberikan uang kepada Cahyono, namun jumlah tersebut hanya Rp 1 juta. "Besarannya kecil, cuma Rp 1 juta. Uang itu dititipkan ke koperasi untuk keperluannya dia. Itu waktu di Cilacap," katanya.

Menanggapi terkait aturan penitipan uang di koperasi, Djoni menjelaskan, meski uang titipan koperasi itu dibenarkan adanya, namun pihaknya akan mendalaminya. “Tidak seharusnya uang tersebut dititipkan kepada pejabat,” jelasnya.

Djoni menganggap Cahyono memiliki catatan bagus selama bertugas. Bahkan, saat menjabat sebagai Kepala Rutan Purworejo, ia membangun kebersamaan antara warga binaan dan rutan. "Karena rumah dinasnya jauh, ada bekas garasi dibangun dan dibuat rumah dinas," katanya.

(sm/mha/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia