Rabu, 20 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Melongok Festival Seni di Rumah Pribadi

Ternyata Bisa Dilakukan dengan Cara Sederhana

Kamis, 22 Feb 2018 12:00 | editor : M Rizal Kurniawan

UNIK : Rumah pribadi di kawasan Stonen disulap menjadi ruang festival bertajuk Kolektif Sebagai Motor selama seminggu terakhir ini.

UNIK : Rumah pribadi di kawasan Stonen disulap menjadi ruang festival bertajuk Kolektif Sebagai Motor selama seminggu terakhir ini. (istimewa)

RADARSEMARANG.ID - Lazimnya, festival seni maupun budaya, dihelat di ruang publik atau lokasi keramaian lainnya. Namun kali ini, Kolektif Hysteria justru menggunakan rumah pribadi sebagai ruang untuk menggelar festival. Seperti apa?

Selama seminggu terakhir, salah satu rumah yang berada di kawasan Stonen bertambah fungsi. Mulai dari teras rumah yang diisi oleh panggung berukuran 4x5 meter. Panggung yang merupakan modifikasi dari sebuah motor ini dapat digunakan untuk penampilan sebuah band.

Kemudian garasi rumah disulap menjadi sebuah galeri sederhana yang memamerkan dokumentasi maupun sejumlah pencapaian Kolektif Hysteria selama 14 tahun. Lebih ke dalam, pengunjung dapat melihat proses menyablon di ruang rapat. Terakhir di halaman belakang, sebuah panggung seluas 2x2 meter juga dihadirkan sebagai tempat para bintang tamu beraksi.

Sama halnya dengan berbagai festival lain, di festival yang bertajuk Kolektif Sebagai Motor ini, juga diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari pameran, bazaar, gigs, diskusi permasalah kota masa kini hingga sejumlah workshop.

Direktur Hysteria, Adin mengungkapkan, ia bersama para crew sengaja menggunakan rumah sebagai lokasi penyelenggaraan festival guna menginspirasi anak-anak muda lainnya yang ingin berkesenian maupun menyelenggarakan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya.

“Sebetulnya anak-anak muda kita ini tidak ketinggalan, kalau dari segi keahlian maupun potensi. Hanya saja, seringkali terbentur dana, termasuk saat akan menggelar festival. Karena itu, kami ingin buktikan bahwa festival juga bisa dilakukan dengan cara yang sederhana,” ujarnya.

Hal ini, lanjutnya, juga mengingatkan saat kami awal kali membangun komunitas ini. Tidak ada dana, hanya tekad untuk berkarya serta modal kepercayaan dan saling membantu dengan sesama para pelaku seni.

“Dengan begitu, harapannya bisa menginspirasi bahwa gerakan ini bisa dimulai dari tempat-tempat privat kita, karena komunitas di Indonesia juga banyak bermula dari ruang-ruang alternatif yang minim. Kemudian pelan-pelan menjadi sesuatu,” ujar mahasiswa Universitas Indonesia ini

Namun begitu, diakuinya, sejumlah tantangan juga harus dihadapi. Selama 14 tahun berkarya, membangun jaringan dan 10 tahun menempati rumah di kawasan Stonen tersebut, sejumlah lika-liku dihadapi.

“Sebelumnya kami sempat diusir warga, karena sebuah kegiatan yang diisukan terkait PKI. Namun kini, hubungan telah membaik, karya kami mulai diakui dan sangat bahagia ketika para tetangga juga mau hadir dan menikmati festival ini bersama kami. Termasuk juga sejumlah pejabat setempat maupun dari Bekraf yang turut hadir,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu kunci kesuksesan dalam menggelar festival adalah membangun jaringan serta kepercayaan dengan baik. “Kami persiapkan festival ini selama dua bulan, termasuk negosiasi mendatangkan artis. Kebanyakan juga adalah teman lama sehingga seperti reuni juga,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap bisa terus mengembangkan konsep-konsep semacam ini. “Bulan depan, kami rencanakan akan menggelar lagi festival di rumah, artis yang datang juga direncanakan ada yang dari luar negeri,” ujarnya.

(sm/dna/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia