Senin, 18 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Perkuat Wisata Religi, Wali Kota Gelar Haul Syekh Kramat Jati

Jumat, 23 Feb 2018 16:33 | editor : Ida Nor Layla

Ketua Panitia Haul Syekh Kramat Jati, Ir Izwar Aminuddin MT dan sekretaris panitia, Ahmad Sholihin saat memberikan keterangan kepada wartawan di ruang

SUKSESKAN HAUL : Ketua Panitia Haul Syekh Kramat Jati, Ir Izwar Aminuddin MT dan sekretaris panitia, Ahmad Sholihin saat memberikan keterangan kepada wartawan di ruang Wali kota Semarang, Kamis (22/2/2018). (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi akan memperkuat wisata religi dengan menggelar haul Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Yahya atau Syaikh Kramat Jati. Haul tersebut dilaksanakan di sekitar makam Jalan Duku, Kelurahan Lamper Kidul, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang pada Kamis, 1 Maret 2018. Rangkaian acara dimulai pukul 10.00 pagi, digelar kirab Merah Putih dan pukul 20.00 digelar Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam Maulid Nabi tersebut mengundang Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, mantan Panglima TNI Jend (Purn) Gatot Nurmantyo, Sultan Hamengkubuono X, KRT Jayaningrat, Plt Gubernur Jawa Tengah, Raja Kutai Kartanegara, Kapolda Jateng, Pangdam IV/Diponegoro, Kakanwil Kemenag Jawa Tengah, Pengangeng Pangulon Keraton Jogjakarta, Pengageng Panitipuro, dan Ketua Paguyuban Trah HB II. 

“Sejarah beliau (Habib Hasan, red), telah mewarnai kehidupan bangsa. Ini akan membuat kami semangat. Ini menjadi bagian nguri-nguri sejarah bangsa. Akan kami agendakan sebagai wisata religius,” kata Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi yang menjadi ketua panitia saat rapat panitia haul Habib Hasan Bin Thoha Bin Yahya, di ruang pertemuan Wali Kota Semarang, Senin (19/2/2018).

Habib Hasan bin Yahya adalah pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda sehingga mendapatkan gelar Singo Barong. Habib Hasan juga memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga keraton Jogjakarta, menantu Sultan Hamengku Buwono II, ipar Hamengku Buwono III dan bergelar Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Pati Lebet Kerajaan Mataram atau kerap disebut Syekh Kramat Jati.

Habib Hasan dilahirkan dari pasangan Habib Thoha bin Muhammad Al-Qadhi bin Yahya dengan Syarifah Fathimah binti Husain bin Abu Bakar bin Abdullah Al-Alydrus sekitar tahun 1736 Masehi. Sedangkan wafat pada tahun 1818 Masehi dan dimakamkan di Jalan Duku, Kelurahan Lamper Kidul, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, tepatnya di belakang Java Mall.

Sedangkan Ketua Panitia Organizing Committee (OC), Hendi menunjuk Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Iswar Aminuddin MT. “Kepanitiaan haul kali ini, mengusung tema Dengan Haul Habib Hasan bin Thoha, Berdzikir dan Bersalawat Kita Ciptakan Kedamaian untuk Menjaga Kesatuan dan Persatuan NKRI,” kata Izwar dalam konferensi pers di ruang Wali Kota, Kamis (22/2/2018).

Haul ini akan dimeriahkan dengan Kirab Merah Putih dari sekitar makam Habib Hasan, Jalan Duku Kelurahan Lamper Kidul, Kecamatan Semarang Selatan, dengan rute Jalan Tentara Pelajar, Jalan MT Haryono, Jalan A Yani dan finish Simpanglima pada Kamis (1/3/2018) mulai pukul 10.00 hingga selesai. Rencananya kirab Merah Putih akan diikuti pelajar di Kota Semarang, anggota Paskibraka, Satpol PP, dan drumband PIP. Akan ada serah terima bendera Merah Putih dari ulama kepada umaro, dalam hal ini Wali Kota Semarang.

Ulama kharismatik dari Pekalongan, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, menyatakan bahwa kirab merah putih ini, mengajak masyarakat memperingati para pejuang. Serah terima bendera merah putih dari ulama kepada umaro, menunjukkan ada tanggung jawab ulama terhadap umaro. “Ulama bertanggung jawab terhadap umaro,” kata Habib Luthfi.

Sementara itu, ulama kharismatik dari Pekalongan, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, menyatakan bahwa Habib Hasan juga tokoh yang mendapatkan gelar Syaikhul Islam di Tanah Jawa, mendapatkan jabatan Senopati Agung Ing Mataram dan menjadi Pati Lebet yang mengurusi semua hal di Keraton Mataram.  

Sejarah perjuangan Habib Hasan bin Thoha bin Yahya dalam melawan penjajah Belanda perlu diteladani. Di antara perjuangan beliau adalah mengalahkan penjajah saat pertempuran di Pekalongan tahun 1206 H/1785 M.

Habib Luthfi juga mengungkapkan bahwa dalam strategi tempur, sangat banyak jasanya. Habib Hasan mampu membombardir terhadap hal yang dilakukan Daendels dan Raffles (penjajahan Belanda/Perancis dan Inggris, red) sampai ke barat berbatasan Jawa Tengah. Masyarakat kala itu, sangat menyukai bertempur melawan penjajah bersama Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Yahya. 

Habib Hasan sangat gagah saat bertempur, namun sangat disukai anak-anak kecil baik dari berbagai kalangan, baik kalangan yang mampu maupun tidak mampu. Setiap kali anak-anak melihatnya, merasa seperti ayahnya sendiri. Namun untaian sejarah ini (Habib Hasan, red) belum terkumpul semua dengan baik.

“Saya selaku ahli waris ingin mengangkat sejarah Semarang, ingin mengangkat wisata religius. Untuk menguak kembali mutiara yang sebagian besar sudah banyak kita lupakan. Para pendiri bangsa ini bekal untuk kehidupan secara nasional. Sangat layak Habib Hasan diangkat,” kata Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.

Menurut Habib Luthfi, dengan di Semarang sudah ada Kiai Bustaman, Kiai Terboyo dan Ki Ageng Pandanaran. Maka dengan adanya wisata religi ini, bisa menjadi penyambung lidah pemerintah dan masyarakat. “Ini membackingi ideologi Pancasila dengan kekuatan agama,” tandasnya.

Habib Luthfi juga prihatin, saat ini terjadi kemerosotan moral dan budaya di Indonesia dan khususnya Jateng. Karena itu, untuk membangun jati diri bangsa, perlu mencontoh seperti hajar aswad (batu hitam di Makkah) yang tak bisa dipengaruhi. Atau seperti air laut, meskipun dialiri air tawar dari berbagai arah aliran sungai, tak terpengaruh dan masih tetap asin.

Terkait serah terima bendera merah putih dari ulama kepada umaro, menunjukkan ada tanggung jawab ulama terhadap umaro. Ulama bertanggung jawab terhadap umaro. “Dengan kirab merah putih ini, kita mengajak memperingati para pejuang. Kirab Merah Putih ini untuk membangkitkan rasa memiliki merah itu,” tandas Habib Luthfi.

Karena banyak orang mulai lupa dengan lagu kebangsaan dan teks Pancasila, dalam haul kali ini, akan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesian Raya dan pembacaan teks Pancasila. “Banyak yang tak hapal lagu kebangsaan Indonesian Raya dan pembacaan teks Pancasila, padahal itu ikrar. Lagu hanya sebagai seremonial belaka kurang dipahami. Padahal di dalam lagu tersebut, kaya akan budi pekerti yang tak dipahami anak-anak,” tambah Habib Luthfi. 

(sm/amu/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia