Jumat, 22 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Penemuan Batu Prasasti di Lereng Gunung Ungaran

Berangka 1373, Diduga Semasa dengan Candi Sukuh

Jumat, 23 Feb 2018 16:37 | editor : Pratono

BUKTI SEJARAH: Batu prasasti dengan tulisan angka 1373 dalam huruf Jawa kuno yang ditemukan di lereng Gunung Ungaran.

BUKTI SEJARAH: Batu prasasti dengan tulisan angka 1373 dalam huruf Jawa kuno yang ditemukan di lereng Gunung Ungaran. (Dok Fajar Zafantani for Radar Semarang)

Sebuah batu yang diduga prasasti dengan inskripsi kuno ditemukan di lereng Gunung Ungaran. Prasasti ini merupakan satu-satunya yang berada di kawasan Gunung Ungaran. Seperti apa?

SAMAR-SAMAR : Guratan huruf Jawa Kuno yang membentuk angka 1373.

SAMAR-SAMAR : Guratan huruf Jawa Kuno yang membentuk angka 1373. (Dok Fajar Zafantani for Radar Semarang)

PRATONO

UNTUK mencapai lokasi batu prasasti itu tidak mudah. Harus menelusuri kebun teh, mendaki bukit yang ditumbuhi semak-semak liar dan gangguan lintah menjadi syarat untuk bisa sampai ke batu prasasti tersebut. Jika berjalan kaki dari Umbul Sidomukti, butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan.

Batu prasasti yang diameternya lebih dari 1 meter tersebut berada di tengah semak-semak liar. Kondisinya tertutup lumut dengan guratan-guratan yang membingungkan. Terdapat dua sisi batu yang diketahui terdapat inskripsi tulisan kuno.

Satu sisi dipastikan bertuliskan angka Jawa kuno. Terdapat 4 angka yang biasanya merujuk pada angka tahun.  “Saya sendiri hanya mampu membaca 2 angka pertama, 13. Sedangkan 2 angka terakhir sulit dibaca karena kondisi aus,” ujar peneliti Cagar Budaya, Tri Subekso, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun dengan bantuan rekannya, lanjut Tri, akhirnya 2 angka terakhir bisa dibaca, yakni 73. Sehingga 4 angka di prasasti tersebut menjadi 1373 yang merujuk pada 1373 Saka atau 1451 masehi.

“Dengan demikian, prasasti ini semasa dengan keberadaan Candi Sukuh atau masuk dalam garis kronologis Majapahit akhir,” tutur alumni Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Sementara di sisi lain, tulisannya belum bisa terbaca karena sudah aus. Huruf tersebut mirip arab pegon, tapi belum bisa dipastikan karena sulitnya identifikasi.

Dikatakan Tri Subekso, prasasti tersebut ditemukan kembali pada 20 Februari 2018 lalu. Berawal dari informasi ada batu dengan guratan mirip tulisan huruf kuno di kawasan Gunung Ungaran. Tri Subekso bersama Suwartono, Bahtiar Setiawan, Arif Syaefudin, dan Fajar Zafantani,  mencoba mencari di sebuah bukit yang oleh penduduk setempat dinamakan Bukit Batu Tulis. Lokasinya tak jauh dari kawasan Sendang Promasan, Limbangan, Kabupaten Kendal.

“Namun jika dilihat dari tapal batas kabupaten yang hanya berjarak 20-an meter, lokasi prasasti ini masuk wilayah administrasi Kabupaten Semarang,” jelasnya.

Mahasiswa Magister Arkeologi Universitas Indonesia (UI) ini menambahkan, keberadaan prasasti abad 15 di balik punggung Candi Gedongsongo ini juga berpotensi mengisi “kekosongan” dalam penulisan sejarah kebudayaan periode klasik di Jawa Tengah. Selama ini periode klasik di Jawa Tengah disimpulkan memiliki rentang antara abad 8 hingga 10 masehi, sebelum pusat peradaban beralih ke Jawa Timur pada abad 10 hingga 15 masehi.

“Prasasti ini menarik, karena tidak hanya lokasinya yang berada di tepian penanda batas daerah, namun juga keberadaannya yang selama 5 abad ini menjadi penanda peralihan zaman yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia Jawa,” jelasnya.

Dikatakan, lereng Gunung Ungaran menyimpan banyak situs percandian. Lokasinya tersebar di wilayah Kabupaten Semarang, Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Diduga, Gunung Ungaran merupakan salah satu tempat yang dianggap suci di masa kerajaan Mataram Kuno, sehingga banyak dibangun tempat ibadah di lerengnya.

Sebaran situs-situs klasik tersebut, jelas Tri Subekso, sangat berkaitan secara kosmologis dengan keberadaan Gunung Ungaran. Gunung tersebut dipandang sebagai pusat kosmis, sebagai representasi dari Gunung Mahameru. Sehingga di lereng Gunung Ungaran banyak ditemukan situs-situs seperti candi, petirtan, yoni, arca, dan lainnya.

Tri Subekso mencatat, setidaknya ada 40 situs yang telah ditemukan di lereng Gunung Ungaran. Yang terbesar sampai saat ini adalah Candi Gedong Songo. “Sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Semarang, seperti Bawen, Bergas dan Ambarawa,” tuturnya.

Hanya saja, dari sekian banyak situs candi dan petirtan di lereng Gunung Ungaran, prasasti yang ditemukan sangat minim. Padahal keberadaan prasasti biasanya akan menjadi rujukan tentang sejarah di wilayah tersebut.

Sebelum penemuan batu prasasti di Gunung Ungaran ini, baru ditemukan 1 prasasti di Dusun Ngreco, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang. Dan prasasti tersebut belum jelas isinya. Tulisan yang masih bisa dibaca hanya menunjukkan tahun  685 Saka atau sekitar 760 Masehi.

(sm/ton/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia