Senin, 18 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Untukmu Guruku
Wigati Hati Nurani SPd

Sekolahku, Rumah Keduaku

Senin, 12 Mar 2018 14:46 | editor : Ida Nor Layla

Guru SMK Negeri 1 Magelang, Wigati Hati Nurani SPd

Guru SMK Negeri 1 Magelang, Wigati Hati Nurani SPd (DOKUMEN PRIBADI)

MENGAPA sekolah bisa menjadi rumah kedua setelah rumah dalam arti yang sebenarnya? Tentu saja, karena waktu yang dihabiskan di sekolah sangatlah panjang. Terkadang untuk waktu tertentu, waktu yang dihabiskan di sekolah jauh lebih panjang, dibandingkan ketika berada di rumah sendiri.

Coba berhenti sejenak untuk sedikit merenung. Setiap hari kita berada di sekolah berapa jam. Dihitung saja, sejak berangkat dari rumah katakanlah maksimal berada di sekolah sejak dari pukul 07.00, lalu pulang dari sekolah pukul15.30 bagi sekolah yang telah menerapkan 5 hari sekolah. Atau pukul 13.30 bagi yang menerapkan 6 hari sekolah. Lebih dari 8 jam dalam sehari, baik itu untuk siswa, guru, karyawan dan segenap warga sekolah. Jam ini masih dalam rangka proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Lalu kegiatan yang lain, semisal ekstra kurikuler bagi siswa, kegiatan tugas tambahan bagi guru dan belum kegiatan lain. Tentu saja, waktu yang dihabiskan di lingkungan sekolah sangatlah panjang. Sehingga bisa dikatakan, sekolah adalah rumah kedua bagi kita semua warga sekolah.

Sudah semestinya, kita ingin selama di rumah bisa nyaman dan aman, demikian juga selama di sekolah. Lalu bagaimana menciptakan agar bisa nyaman dan aman di lingkungan sekolah sehingga kerasan. Banyak yang bisa dilakukan, tetapi semua tergantung dari diri pribadi mau atau tidak melakukannya.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan. Ini kelihatannya mudah, menjaga kebersihan, tetapi menjadi sangat sulit ketika menjaga kebersihan hanya menjadi slogan semata atau kata mutiara yang hanya menempel di dinding. Meskipun dibaca berulang-ulang, kalau tidak  dilaksanakan hanya omong kosong belaka.

Menjaga kebersihan, bisa dimulai dari kebersihan kelas yang meliputi kebersihan ruangan kelas, kebersihan peralatan yang ada di dalam kelas dan kebersihan orang-orang yang ada di dalam kelas tersebut, baik siswa maupun guru.

Kebersihan ruangan kelas sudah pasti menjadi hal penting untuk menjadikan warganya merasa nyaman berada di dalamnya. Kebersihan ini meliputi kebersihan atap ruangan, kebersihan dinding ruangan, termasuk dalam hal ini jendela, pintu dan ventilasi ruangan kelas. Tak kalah adalah kebersihan lantainya. Kebersihan peralatan yang ada di dalam kelas meliputi segala benda yang ada di dalam kelas seperti meja, kursi, almari, pelaralatan LCD proyektor, papan tulis dsb. Termasuk dalam hal ini, segala peralatan seandainya ruangan kelas itu termasuk dalam ruang bengkel praktik maupun laboratorium.

Kebersihan kelas dan lingkungan kelas bisa terus dijaga dan diupayakan. Banyak cara untuk terus menjaganya, semisal membuat jadwal piket kelas. Diusahakan setiap siswa-siswa dalam kelasnya mempunyai tugas yang sama untuk piket. Pengaturan piket untuk menyapu dan membersihkan kelas bisa dilaksanakan pada awal dan akhir pelajaran. Kemudian ada piket mingguan untuk mengepel lantai ataupun membersihkan bagian lain yang tidak bisa dilaksanakan pada piket harian.

Di lingkungan sekitar kelas, kebersihan juga perlu penataan. Misalnya, penempatan bak sampah. Diupayakan sebisa mungkin setiap kelas mempunyai bak sampah, sehingga seluruh warga kelas tidak akan kerepotan setiap akan membuang sampah.

Setelah ruangan kelas, lingkungan sekitar kelas, kebersihan bisa ditingkatkan ke lingkup yang lebih luas. Semisal, kamar mandi dan toilet siswa, sarana taman sekolah, tempat ibadah (musala dan masjid), perpustakaan, dll. Untuk lingkungan ini, bisa diupayakan kebersihannya melalui petugas cleaning service sekolah untuk kegiatan harian dan bisa melibatkan siswa secara bersama-sama, misalnya sebulan sekali melalui program Jumat Bersih atau Sabtu Bersih.

Dalam hal kebersihan ini, pihak sekolah sudah selayaknya menyediakan fasilitas penunjang sarana kebersihan, seperti peralatan kebersihan, air di lingkungan sekolah yang memadai maupun drainase di lingkungan sekolah. Untuk lingkup yang lebih besar, sekolah bisa memfasilitasi keberadaan taman sekolah sebagai bagian dari penghijauan sekolah. 

Bila kebersihan ini sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya, akan menjadi bagian dari pendidikan karakter siswa-siswi, maka sekolah benar-benar sudah melaksanakan fungsinya dengan baik. Pada akhirnya, sekolah tidak saja sebagai bagian dari proses pembelajaran, namun sekolah benar-benar sudah menjadi bagian hidup bagi siswa dan warga sekolah. Sehingga sekolah menjadi rumah kedua yang nyaman untuk ditempati.

Sebagai bagian dari pendidikan karakter, tentunya tidak selesai sampai disini. Harus ada tindak lanjutnya. Paling tidak, hal ini bisa menjadi salah satu indikator pada penilaian sikap yang terintegrasi pada masing-masing mata pelajaran. Dengan demikian, semua komponen di lingkungan sekolah terlibat, siswa, guru, guru BK, wali kelas, bidang kurikulum, bidang kesiswaan pada  akhirnya sampai pada kepala sekolah.

Pada akhirnya, berpulang pada pribadi masing-masing untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua yang aman dan nyaman. Hal itu dimulai dari satu komponen kecil yaitu menjaga kebersihan. Mari kita wujudkan Sekolahku Rumah Keduaku. (Guru SMK Negeri 1 Magelang/as3).

(sm/ida/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia