Senin, 28 May 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Mantan Pecandu Narkoba Susah Dapat Sekolah

Senin, 14 May 2018 15:39 | editor : Ida Nor Layla

PROGRAM REHABILITASI : Koordinasi Lintas Sektoral di Dinas Sosial Jateng.

PROGRAM REHABILITASI : Koordinasi Lintas Sektoral di Dinas Sosial Jateng. (MUHAMMAD HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Sebanyak 147 pecandu narkoba mengikuti program rehabilitasi ketergantungan narkotika dan obat terlarang di Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Dari jumlah tersebut, 35 orang di antaranya adalah pelajar.

Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza Kementerian Kesehatan, Waskito Budi Kusumo, mengatakan, saat ini, puluhan pelajar tersebut harus berhenti dari bangku pendidikan karena menjalani rehabilitasi. Bahkan, menurutnya, mayoritas penyalahguna narkoba susah kembali berbaur ke masyarakat usai selesai proses rehabilitasi.

“Nah ini menjadi kendala tersendiri bagi penyalahgunaan, selesai direhabilitasi, kemudian mereka tidak diterima kembali di kehidupan secara umum, maka potensi untuk kembali menjadi pecandu itu akan terbuka,”  ungkapnya di acara Koordinasi Lintas Sektoral di Dinsos Jateng.

Sehingga pihaknya saat ini berkeliling ke seluruh provinsi untuk menggelar koordinasi lintas sektoral antara Dinas Kesehatan, tenaga kerja, dan pendidikan. Tujuannya, membukakan jalur bagi para pecandu yang telah selesai melakukan rehabilitasi supaya bisa kembali terjun ke masyarakat maupun mendapat tempat pendidikan. “Sudah ada beberapa sekolah yang disediakan Dinas Pendidikan, memang tidak semua sekolah bisa menerima siswa mantan pecandu, bertahap, begitu juga sudah ada lembaga pelatihan kerja yang bekerjasama dengan IPWL untuk menyalurkan mereka mantan pecandu,” bebernya.

Ketua Forum Komunikasi IPWL se-Jateng, Junaidi, menjelaskan, dari jumlah 35 pelajar tersebut mengikuti rehabilitasi di 12 IPWL yang tersebar di Jawa Tengah. Namun paling banyak ditangani Panti Rehabilitasi Raden Sahid Demak, sebanyak 15 anak.

“Di tempat saya sendiri Pesantren Rehabilitasi Sosial Al Ma'la ada yang masih berusia SMA, dan biasanya mereka memang kesulitas melanjutkan sekolah saat selesai direhabilitasi,” katanya.

Diakuinya, di tempatnya juga memiliki program pencegahan dini, penanganan rehabilitasi hingga pemberdayaan bagi pecandu yang telah menjalani rehabilitasi untuk bisa produktif dan kembali mandiri kembali.

“Di Kemensos ini sudah lengkap programnya, ada program keterampilan juga. Disitu, pencadu yang butuh pelayanan pendidikan lanjutan, sehingga yang putus sekolah itu bisa diarahkan di sekolah yang non formal,” ujarnya. 

(sm/mha/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia